KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Hari ini lewat surat elektronik edukom@menlh.go.id menerima satu siaran pers dari Departemen Kehutanan dibawah ini kutipan beritanya:

Menteri Kehutanan, MS. Kaban, SE, MSi, akan memberikan perlindungan terhadap industri kehutanan yang menggunakan kayu legal, dan memberikan insentif sehingga industri tersebut dapat bersaing dengan industri yang menggunakan kayu illegal. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Kehutanan saat menerima Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Mr. Lee Sun Jin, pada tanggal 24 Agustus 2005 di ruang kerja Menhut. Dalam kunjungannya Dubes Korea didampingi oleh Atase Bidang Pertanian, Kehutanan dan Perikaan, Mr. Park Chong-ho, dan Direktur Korindo Group, Mr. Kim Hoon. Korindo Group adalah perusahaan asal Korea yang salah satu usahanya di bidang kehutanan, yaitu Hutan Tanaman Industri PT. Korintiga Hutani yang berlokasi di Kalimantan Tengah.

Dalam kesempatan itu, Dubes Korea menyampaikan dukungannya terhadap program-program Departemen Kehutanan, baik di masa kini maupun yang akan datang. Pernyataan penting yang disampaikan Dubes Korea adalah Pemerintah Korea akan mempromosikan pembangunan Hutan Tanaman Industri di Indonesia kepada para investor di Korea, maupun kepada peerusahaan Korea yang sudah ada di Indonesia seperti halnya Korindo Group. Pernyataan ini disampaikan berkaitan dengan semakin langkanya bahan baku kayu untuk industri kehutanan yang berasal dari hutan alam. Bahkan Korindo Group sudah mengurangi kapasitas produksinya. Atas kondisi kekurangan bahan baku kayu yang dialami oleh Korindo Group Menhut menyarankan agar menggunakan bahan baku kayu alternatif, seperti kayu karet, akasia, sengon. Hal ini juga untuk mengurangi tekanan terhadap hutan alam.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu bagi industri kehutanan Departemen Kehutanan telah menargetkan pembangunan HTI seluas 5 juta ha yang akan diselesaikan pada tahun 2009. Saat ini HTI yang telah terealisir seluas 2,5 juta ha. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan HTI adalah besarnya modal yang dibutuhkan. Untuk satu ha HTI dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Sehingga untuk membangun HTI yang luasnya 10.000 ha, membutuhkan biaya sekitar Rp 50 milyar. Oleh karena itu dibutuhkan investor yang handal dan serius dalam bidang kehutanan.

Dalam mempercepat pembangunan HTI Pemerintah Korea telah membantu pembangunan sumber benih dan persemaian modern yang berlokasi di Rumpin, Tangerang. Diharapkan dari sumber benih ini akan dihasilkan bibit kayu unggul yang dibutuhkan Pemerintah Indonesia dalam pembangunan HTI, dan dalam pertukaran teknologi perbenihan.

Informasi Departemen Kehutanan:
Pusat Informasi kehutanan
oproom@dephut.go.id
Achmad Fauzi