KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

lang=EN-US>“Orang coba
ganggu hutan, torang (kami) akan mengejar dan menindaknya,� demikian
pendirian Kelompok Guide Masyarakat Batu Putih, Kecamatan Bitung Utara, Kota
Bitung, Propinsi Sulawesi Utara. Kelompok guide Taman Wisata Alam Batu Putih
yang jumlahnya 30 orang pemuda, berkepentingan untuk menjaga kelestarian hutan
Wisata Batu Putih dan Cagar Alam Tangkoko. 

lang=EN-US>Hutan wisata
Batu Putih memiliki luas 615 ha dan Cagar Alam Tangkoko seluas 6.300 ha, di
dalamnya terdapat berbagai jenis satwa dan tanaman endemik yang menarik
wisatawan dan peneliti untuk mengunjunginya. Setiap harinya, tidak kurang 30
orang wisatawan mancanegara mengunjungi 
kawasan ini. Jika wisatawan mengunjungi Bunaken untuk wisata bahari,
maka  mereka juga akan mengunjungi Batu
Putih dan Tangkoko untuk  wisata alam
(hutan). Masing-maisng wisatawan harus menyediakan  Rp 45.000 untuk pendampingan, atau rata-rata Rp 1.350.000,-/hari
mengalir ke kantong guide lokal. Belum lagi terhitung biaya yang harus
dikeluarkan seorang wisatawan untuk 
akomodasi homestay dan makanan yang disiapkan oleh penduduk
setempat. Singkatnya, keberadaan hutan wisata Batu Putih dan Cagar Alam
Tangkoko dengan sejumlah  flora dan
fauna di dalamnya, telah memberikan 
sumbangan ekonomi bagi penduduk Batu Putih.

lang=EN-US>Seluruh guide
menjadi penjaga hutan, karena kelangsungan ekonomi penduduk juga tergantung
pada kelestarian hutan. Dengan demikian, untuk menjamin kelangsungan ekonomi
masyarakat, setiap warga, dengan inisiatif sendiri, akan mengamankan kedua
kawasan tersebut. Tidak  akan ada illegal
logging
, perambahan, kebakaran hutan, dan pemburuan satwa di kawasan ini.
Pemerintah juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengamanan hutan, karena
masyarakatlah yang mengamankannya. Masyarakat berkepentingan untuk menjaga
keberadaan tarsius, monyet hitam, rongkang, kayu besi, ular hijau, dan
lain-lain yang menjadi daya tarik kawasan ini. 

Apa yang dilakukan masyarakat Batu Putih,
merupakan model pelestarian hutan berbasis masyarakat. Keberadaan dan
kelestarian hutan ternyata memberi manfaat ekonomi masyarakat. Masyarakat
memiliki kepentingan ekonomi untuk selalu menjaga hutan dari gangguan pihak
lain. Oleh karena itu, seyogyanya pengembangan peran masyarakat dalam
pelestarian lingkungan hendaknya bersinergi dengan upaya peningkatan ekonomi
masyarakat, sebagaimana masyarakat Batu Putih yang menuai dolar dari keberadaan
hutan wisata Batu Putih dan cagar alam Tangkoko. Atas prestasinya itu, kepada
pimpinan kawasan ini, Jesaya Pangedja, diberi penghargaan Kalpataru 2005
oleh  pemerintah RI.***

lang=EN-US style='font-family: Times New Roman'> 

style='font-family: Times New Roman'>Informasi
lebih lanjut hubungi:

style='font-family: Times New Roman'>Asdep Urusan
Pedesaan, Deputi VI KLH

style='font-family: Times New Roman'>Gedung B
Lantai 5

style='font-family: Times New Roman'>Jl. D.I.
Panjaitan, Kebon Nanas,

style='font-family: Times New Roman'>Jakarta Timur
13410

style='font-family: Times New Roman'>Telp (021)
8520392

style='font-family: Times New Roman'> 

style='font-family: Times New Roman'>Atau tonton:

style='font-family: Times New Roman'>Program Gapura
RCTI

style='font-family: Times New Roman'>Sabtu, 23 atau
30 Juli 2005