KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Menteri Lingkungan Hidup Menghadiri Puncak HUT Gerakan Pramuka yang ke-52 di lapangan Upacara Gajah Mada, Pusdiklatnas Cibubur, Jakarta Timur, yang jatuh pada tanggal 14 Agustus 2013.  Peringatan ini dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka menjadi Pembina Upacara dan dihadiri beberapa Menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu II.  Peserta upacara adalah Pramuka penggalang dan penegak utusan Kwartir Daerah Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Termasuk di dalamnya 20 penggalang, Pasukan Pangeran Jayakarta, Kemayoran, Kwarcab Jakarta Pusat dan 20 penggalang Pasukan Prabu Siliwangi, Kwarcab Depok. Adik-adik usia 11-15 tahun itu adalah anak jalanan yang aktivitas sehari-harinya di Kemayoran dan Depok. Sejak empat tahun lalu, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mendampingi dua pasukan anak jalanan itu dalam program Ticket to Life (TTL). Program ini diinisiasi oleh Asia Pacific Region (APR) World Organization of the Scout Movement.

Peserta upacara HUT Gerakan Pramuka ke-52 lainnya adalah utusan Satuan Karya (Saka) Bakti Husada, Wanabakti, Taruna Bumi, Bhayangkara, Dirgantara, Bahari, Kencana, dan Wirakartika. Selain itu juga 100 pramuka penggalang berkebutuhan khusus (tuna rungu) utusan Kwarda Jakarta. Mereka juga akan memperagakan tarian Nusantara bersama rekan-rekan lainnya.

Tema Peringatan Hari Pramuka ke-52 Tahun 2013 telah ditetapkan oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Berdasarkan Surat Nomor 0845-00-J Perihal Peringatan Hari Pramuka ke-52 14 Agustus, Tahun 2013, adalah “Wujudkan Bangsa yang Berkarakter dan Bermartabat Melalui Gerakan Pramuka”.

Pada kata sambutannya Presiden Republik Indonesia menyambut baik tema tahun ini dan menyampaiakan pesan bahwa Karakter sudah harus dimulai sejak dini, dengan mengamalkan Dasa Darma dan Tridarma, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika  dan UUD. Menjujung tinggi  jiwa tolerasi dan Gotong royong.

Sejarah gerakan kepanduan sudah dimulai sejak tahun1907 dan didirikan oleh tokoh pandu Robert Baden-Powell, dahulu kepanduan yang didirikan untuk membantu pemerintah. Pada setiap keberhasilan kegiatannya para pandu ini kemudian oleh Robert Banden-Powell diberikan lencana, hal inilah yang berjalan sampai sekarang.

Gerakan kepanduan ini kemudian diadoptasi dengan sebutan Pramuka di negara Indonesia semangat nya tetap sama seperti yang tercantum dalam Dasa Dharma & Tri Satya yaitu;

Tri Satya

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjalankan pancasila.
2.  Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat
3.  Menepati Dasa Dharna

Dasa Dharma

Pramuka itu :
1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan kesatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela Menolong dan tabah
6. Rajin, terampil dan gembira
7. Hemat, cermat, dan bersahaja
8. Disiplin Berani dan setia
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Jika melihat Dasa Dharma dalam poin kedua yaitu “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia” sudah tergambar bahwa kepanduan di Indonesia atau Gerakan Pramuka sejak berdirinya sudah ditanamkan rasa Cinta akan Alam beserta Isinya, bukan hanya kepada manusia saja seperti awal berdirinya kepanduan dahulu tetapi juga alam beserta isinya, semangat itu sesuai dengan Visi dan Misi Kementerian Lingkungan Hidup. Oleh sebab itu diinisiasilah lahirnya SAKA Lingkungan yang di beri nama SAKA KALPATARU,  kerjasama ini bermula dari Kesepakatan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 17/MENLH/11/2011 dan No. 014/PK-MoU/11/2011 tentang Pelaksanaan Program dan Kegiatan  Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Saka Kalpataru merupakan satuan Karya Pramuka tempat meningkatkan pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kecakapan, dan kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pandega serta sebagai wadah untuk menanamkan kepedulian dan rasa tanggungjawab dalam mengelola, menjaga, dan mempertahankan dan melestarikan lingkungan untuk keberlanjutan generasi sekarang dan mendatang.  Pembentukan Saka Kalpataru bertujuan untuk memberi wadah pendidikan dan pembinaan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk menyalurkan minat, mengembangkan bakat, kemampuan, pengalaman dalam bidang pengetahuan dan teknologi serta keterampilan khususnya yang berkaitan dengan substansi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) yang menjadi bekal penghidupannya untuk mengabdi pada masyarakat, bangsa dan Negara.

Satuan Karya Pramuka Kalpartaru untuk tahap awal meliputi tiga Krida yaitu : (1) Krida 3R (Reduce, Reuse, Recycle), (2) Krida Perubahan Iklim dan (3) Krida Konservasi Keanekaragaman Hayati. Untuk tahap berikutnya yaitu tahun 2014, Krida SAKA Kalpataru akan ditambahkan sesuai dengan kebutuhan dalam pengelolaan lingkungan.

Sementara itu pada 3-5 Desember 2013 akan diadakan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pertemuan lima tahun sekali ini akan menetapkan Anggaran Dasar/Rumah Tangga, menyusun Rencana Kerja 2013-2018 dan memilih Ketua Kwarnas periode 2013-2018. Selain itu akan dibahas terbentuknya dua Satuan Karya (Saka) baru, yakni Saka Kalpataru (kerja sama Kwarnas dengan Kementrian Lingkungan Hidup) dan Saka Pariwisata (Kwarnas dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif).

Sudah banyak hal-hal positif yang dilakukan Pramuka, hal ini bisa dilihat satu pekan sebelumnya, ribuan pramuka penggalang, penegak dan pembina di daerah-daerah membantu petugas selama arus mudik Lebaran 2013. Mereka membantu warga lanjut usia dan anak-anak naik ke kereta api, bus dan kapal. Ada pula yang menjadi asisten tim kesehatan atau Dinas Perhubungan. Sementara itu, adik-adik Satuan Karya Pramuka Bhayangkara dan Wirakartika membantu polisi mengatur lalu lintas. Program Karya Bakti Lebaran ini sudah berlangsung sejak 15 tahun lalu.

Dalam laporannya Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Azrul Azwar menjelaskan pendidikan kepramukaan sebagai salah satu pilar pendidikan kaum muda Indonesia dituntut untuk dapat lebih berkontribusi secara nyata dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Termasuk dalam menyelesaikan masalah kaum muda,” ujar Kak Azrul.

Menurutnya, ada tiga milestone keberhasilan Gerakan Pramuka dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir ini. Pertama, pencanangan Program Revitalisasi Pramuka oleh Bapak Presiders Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006. Implikasi dari hal itu adalah pembaharuan sistem pendidikan kepramukaan, kurikulum baru, sistem akreditasi Gudep, serta sertifikasi dan lisensi para Pembina.

Kedua, terbitnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Aturan ini memperkuat legalitas Pramuka di Indonesia. Ketiga, masuknya pendidikan kepramukaan ke dalam Kurikulum 2013 sebagai ekstrakurikuler wajib. Khusus untuk milestone yang ketiga ini, Gerakan Pramuka dapat memahami sepenuhnya latar belakang rencana menjadikan pendidikan kepramukaan sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler wajib.

Permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesai pada saat ini memang telah sangat mengkhawatirkan. Hanya saja disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku secara internasional, kata Kak Azrul, Gerakan Pramuka lebih menekankan tidak pada ketetapan wajibnya saja, melainkan bagaimana secara bersungguh-sungguh menggalakkan pendidikan kepramukaan di sekolah. Untuk ini seyogiyanyalah yang diwajibkan bukan mengikuiti pendidikan kepramukaan disekolah, melainkan mendirikan Gugus depan Gerakan Pramuka di setiap sekolah.

“Sedangkan kehendak untuk meningkatkan cakupan sehingga semua murid sekolah ikut dalam pendidikan kepramukaan, kiranya dapat dicapai melalui dua hal,” kata Kak Azrul. Pertama, mengupayakan pendidikan kepramukaan menarik bagi para siswa. Untuk ini pelbagai faktor penarik (pull factors) harus dapat dilakukan, antara lain menyediakan pembina yang andal, melengkapkan gugus depan dengan pelbagai sarana dan prasarana pendidikan kepramukaan, serta menyediakan dana operasional gugusdepan.

Kedua, mengupayakan lingkungan sekolah mendorong perkembangan pendidikan kepramukaan. Untuk ini pelbagai faktor pendorong (push factors) harus dapat dilakukan, antrara lain memasukkan pelaksanaan pendidikan kepramukaan dalam akreditasi sekolah, memasukkan aktivitas guru pada penilaian kinerja tahunan, serta memperhitungkan keterlibatan murid dalam kegiatan kepramukaan pada waktu menetapkan siswa teladan.(Ry)

Informasi Lebih lanjut:
Septembri Yanti, Kepala Biro Humas Kwarnas,    0812-9650-663
Saiko Damai, Kepala Bagian Publikasi Kwarnas,    0813-1076-9003
Dadang Kusbiantoro KLH
Jo Kumala Dewi KLH
Asdep Peningkatan Peran Organisasi KLH

www.pramuka.or.id www.menlh.go.id