KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan -Tanjung, 2 Juli 2013. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Selatan pada 1 – 2 Juli 2013 untuk meninjau pelaksanaan praktek pertambangan yang memenuhi persyaratan lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kementerian Lingkungan Hidup saat ini terus berupaya dalam menurunkan beban pencemaran lingkungan air dan udara serta meningkatkan kualitas lingkungan melalui berbagai kegiatan dan programnya.

Pada kunjungan kerja kali ini, Menteri Lingkungan Hidup berkesempatan meresmikan fasilitas pengolahan Water Treatment Plant (WTP) T300 serta pemanfaatan air hasil pengolahan sistem Pengolahan Air Limbah (SISPAL) untuk bahan baku air bersih PT. Adaro Indonesia di Tanjung, Kalimantan Selatan. Dengan adanya fasilitas ini maka akses air bersih di 9 desa yang semula hanya dinikmati oleh 652 Kepala Keluarga (KK) dari total 2036 KK atau sekitar 32,02%, saat ini sudah hampir mencapai sekitar 99%. Upaya penyediaan air bersih oleh PT. Adaro Indonesia telah dilakukan sejak sekitar 10 tahun yang lalu melalui beberapa akses yaitu distribusi melalui truk-truk air, penyediaan akses berupa sumur gali, sumur bor, kolam, serta berupa sambungan rumah tangga kerjasama dengan PDAM. Untuk penyediaan akses air melalui distribusi air WTP telah dilakukan sejak tahun 2008. Sedangkan distribusi air WTP melalui pipanisasi dilakukan di desa Dahai dan Padang Panjang sejak tahun 2010.

Menteri Lingkungan Hidup dalam meresmikan IPAL tersebut menyatakan, “Kita patut bersyukur karena capaian penyediaan air bersih di wilayah ini telah melebihi standar MDG’s, yaitu 68,87%. Apresiasi disampaikan kepada PT. Adaro Indonesia yang telah berinisiatif menyediakan kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat. Semoga hal ini dapat memacu, mendorong dan membangkitkan kesadaran industri lainnya untuk melakukan hal yang sama, mengolah air limbah menjadi sumber air bersih yang dapat dimanfatkan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang”.

PBB mencatat, setidaknya ada 780 juta orang di dunia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan hampir 2,5 miliar tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai. Jika krisis air terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2050 dua pertiga penduduk dunia kekurangan air. Datadari Indonesia Urban Water, Sanitation dan Hygiene (IUWASH), pada tahun 2009 menunjukkan baru 49,82% masyarakat di Indonesia yang memiliki akses ke air bersih. Sedangkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan air minumpenduduk Indonesia baru mencapai 55,04% atau masih ada sekitar 80 juta masyarakat yang belum terpenuhi kebutuhan air minum. Data Sekretariat Kabinet RI tahun 2011 menunjukkan bahwa pelayanan air minum di Kalimantan Selatan baru mencapai angka 51,79% dan ini berarti masih di bawah capaian rata-rata nasional yaitu sebesar 53,26%.

Informasi lebih lanjut:
Drs. M.R. Karliansyah, MS,
Deputi II MENLH  Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan,
Tlp/Fax: (021-8580107)
email: humaslh@gmail.com / www.menlh.go.id