KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sorong, 18 Oktober 2013. Hari ini, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA melakukan kunjungan kerja ke Sorong, Papua Barat untuk mengajak partisipasi masyarakat, dunia usaha serta pemerintah daerah dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan di Kota Sorong. Dalam lawatannya, Menteri Lingkungan Hidup mencanangkan “Kota Sorong Menanam 2013” yang merupakan salah satu kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”Mari kita jadikan Kota Sorong kita menjadi lebih baik dan lebih hijau lagi sehingga dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat sekarang dan yang akan datang. Saat ini, tantangan kita dalam upaya pen gelolaan lingkungan hidup sem akin berat dan komplek. Perlu upaya yang luar biasa dalam menyelesaikannya namun perlu cara-­‐cara sederhana tetapi strategis” demikian ajakan Menteri LH. Lebih lanjut disampaikan perlunya (i) setiap orang dan semua orang melindungi dan mengelola lingkungan disekitarnya, (ii) membangun gerakan moral dalam meningkatkan kepedulian lingkungan, (iii) melakukan gerakan aksi untuk perlindungan lingkungan hidup. Gerakan tanampoh on hari ini dan kedepan harus terus digiatkan, sehingga diharapkan dapat menjadikan Kota Sorong bisa sejajar dengan kota besar lainnya dari pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan mutu lingkungannya.
Dalam membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah kegiatan perikanan serta dalam meningkatkan ekonomi nelayan kota Sorong, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan bantuan satu unit Bangunan Pengolahan Limbah Padat Ikan di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Sorong. Bangunan ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Sorong untuk dimanfaatkan para nelayan. Saat peresmiannya Menteri LH menyampaikan “Bantuan ini merupakan upaya meningkatkan pen getahuan tentang pemanfaatan limbah ikan dan penerapan teknologi pen gelolaan limbah ikan, antara lain menjadi tepung ikan berbentuk pellet. Unit ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat Kota Sorong pada kegiatan pemanfaatan limbah perikanan.”Tepung ikan masih menjadi bahan baku pakan ikan, udang dan ternak yang merupakan komponen utama sumber protein dalam formulasi pakan. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), permintaan tepung ikan di Indonesia adalah sekitar 100.000 – 120.000 ton per tahun. Sebanyak 75.000 – 80.000 ton diantaranya dipenuhi dari impor. Hal ini menunjukkan peluang usaha yang sangat besar bagi kita untuk menggantikan impor tersebut.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2013, produksi perikanan tangkap Provinsi Papua Barat tahun 2012 sekitar 120.329 ton per tahun. Dari jumlah sebesar itu diperkirakan 40%nya berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan pellet tepung ikan.

Dengan harga pasar pellet tepung ikan Rp.5000 per kg, maka seandainya diolah seluruhnya, kira-­‐kira nilai ekonominya mencapai Rp. 659,34 juta per hari.

Sementara itu, jumlah nelayan di Kabupaten Sorong sekitar 2000 orang, sedangkan yang menggunakan PPI kurang lebih 1.600 nelayan. Berdasarkan data tersebut dan hasil survei kami dapat diperkirakan bahwa volume limbah ikan setiap nelayan sekitar 1 kg/hr, sehingga tersedia 1.600 kg limbah padat ikan setiap hari. Sekitar 40%nya atau 640 kg per hari dari limbah tersebut merupakan bahan mentah yang tersedia untuk pembuatan pelet tepung ikan. Jumlah pellet tepung ikan sebesar itu apabila diolah seluruhnya diperkirakan akan memberikan penghasilan Rp.3,2 juta per hari.

Dalam kunjungan ke Sorong ini, Menteri LH berkesempatan memberikan Sambutan dalam acara yang diselenggarakan oleh KLH bersama PT. Pertamina (Persero) yaitu Seminar Kegiatan Migas Yang Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pengelolaan lingkungan dalam setiap tahapan kegiatan Migas yang dihadiri oleh peserta dari Pertamina dan anak perusahaannya, BLH Provinsi Papua Barat, BLH Kota sorong dan Kabupaten Sorong, SKK Migas serta KKKS Petrochina Bermuda.

Menteri LH menyatakan ”Kementerian Lingkungan Hidup sangat mendukung Visi Pertamina untuk menjadi ASEAN Energy Company pada tahun 2015. Perusahaan energi yang berbasiskan energi terbarukan. Hal ini penting karena pen gembangan energi terbarukan merupakan jawaban untuk mengurangi kerusakan lingkungan namun tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Energi terbarukan seba gai sumberdaya alam merupakan stock yang keberadaannya sangat tergantung kepada perlindungan terhadap lingkungan. Jika lingkungan rusak, maka stock sumberdaya alam juga rusak. Agar stock tetap berfungsi maka ekosistem harus tetap dijaga. Selain itu karakteristik energi terbarukan yang bersifat setem pat, mendukung konsep pembangunan berbasiskan pendekatan ekosistem. Pembangunan yang men ggunakan bahan baku dan sumber energi sehingga setiap daerah dapat men gembangkan keunggulan masing masing.” Komitmen Pertamina untuk menjaga lingkungan hidup, dapat dilihat dari basis perhitungan Gas Rumah Kaca dengan salah satu upaya pengurangan emisi signifikan yaitu program konversi minyak tanah menjadi LPG sejak tahun 2007 yang diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sampai 8,9 juta ton CO2 per tahun.

Selanjutnya, Menteri LH juga meninjau kilang-­‐kilang minyak di Kasim guna mengetahui kegiatan penambangan minyak bumi. Kilang minyak PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit VII di Kasim merupakan wujud komitmen Pertamina untuk mempertahankan kesatuan bangsa dengan tetap mengoperasikan meskipun secara ekonomis tidak memberikan keuntungan kepada perusahaan. Kilang ini mengolah (fraksinasi) minyak mentah menjadi produk utama berupa premium, kerosesin, solar dan hasil samping berupa residu. Hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum disalurkan ke wilayah Indonesia bagian timur seperti Sorong, Jayapura, Merauke dan ambon melalui jalur angkutan laut.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:

Drs. Karliansyah, Msi,
Deputi bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan,
Kementerian Lingkungan Hidup,
Telp/fax : 021 8580107,
email: humaslh@gmail.com