KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, menyesalkan penempatan Indonesia pada peringkat 102 EPI (Environmental Performance Index) atau “Indeks Kinerja Lingkungan (IKL) yang kemudian dimuat dalam Guines Book World of Records 2008. dengan posisi tersebut, dari 149 negara yang dinilai, Indonesia termasuk negara yang tidak mengelola lingkungan dengan baik, bahkan termasuk negara dengan deforestasi yang tinggi.

Dalam jumpa pers seusai Halal bi Halal, di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup (9/10) dengan tegas Menteri Rachmat Witoelar meragukan obyektifitas pemeringkatan ini.

“Data yang dipakai dalam penyusunan Indeks Kinerja Lingkungan itu tidak valid, karena sumbernya tidak jelas. Jadi hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, “kata Rachmat Witoelar.

Konon, data yang dipakai bersumber dari Universitas Yale. Tapi itu sudah dibantah oleh pihak Universitas Yale. “Secara institusi pihak Universitas Yale telah membantah. Ada surat resmi dari mereka, “kata Rachmat Witoelar seraya menunjukkan surat dari Universitas Yale yang ditandatangani Michael R Dove PhD.

“Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) juga sudah mengirim pejabat untuk bertemu pihak Universitas Yale. Menurut keterangan mereka, secara institusi Universitas Yale tidak menyusun peringkat itu, “ujar Rachmat Witoelar.

Masalahnya, pemeringkatan yang controversial ini sudah menyebar luas melalui publikasi World Economi Forum di Davos