KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA-Pemerintah terus memantapkan langkah pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup. "Diharapkan terjadi perbaikan yang signifikan terhadap kualitas lingkungan,"kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar ketika membuka rapat koordinasi nasional dengan lembaga swadaya masyarakat, aktivis lingkungan hidup, dan kalangan dunia usaha kemarin. Rapat ini berlangsung selama tiga hari.

Rachmat memberikan lima arahan kebijakan. Pertama, memperkuat sinergi aliansi strategis untuk membangun prilaku hijau di kalangan masyarakat luas. Kedua, mendorong pertimbangan isu lingkungan dalam pengambilan keputusan. Ketiga, mengembangkan pendidikan lingkungan melalui jalur formal, nonformal, dan informal. Keemapt, mengembangkan komunikasi lingkungan sebagai strategi untuk menajmin hak masyarakat atas akses informal lingkungan. terakhir, mendorong peran dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui program coorporate social responsbility. Menurut Rachmat, umat manusia kini dihadapi dengan dua krisis, yakni ekonomi global dan krisis lingkungan hidup akibat pemanasan global. Namun, krisis lingkungan bersifat jangka panjang mengena di seluruh sendi kehidupan, dan dapat memusnahkan kehidupan di muka bumi.

Panel para ahli internasional yang dibentuk PBB (IPCC) membuat skenario. Jika tidak ada upaya serius mengurangi emisi karbondioksida di atmosfer, pada 2050 mendatang suhu bumi meningkat 2 derajat Celsius dari saat ini. "Ibarat kanker, sudah masuk stadium lanjut, "kata Rachmat. Rachmat mengajak organisasi kemasyarakatan, aktivis lingkungan hidup, dan lembaga swadaya masyarakat memperluas kesadaran anggotanya terhadap isu global ini. Dia mendukung presenter The Climate Project Indonesia, yang dikoordinasi oleh Dr Amanda Katili-Niode, menyebarluaskan isu perubahan iklim di masyarakat.

Pendekatan investasi sosial untuk memberdayakan masyarakat kata Rachmat, diselaraskan pada perilaku yang mendukung penurunan beban lingkungan. Antara lain penggunaan enerdi alternatif, pengelolaan sampah dengan penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), revitalisasi kearifan lingkungan, dan gerakan tanam serta pelihara. Untung wdyanto.

Sumber :
Koran Tempo hal B-5
Edisi Selasa 11 Agustus 2009