KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Menatap potret Jakarta, bagaikan melihat seorang yang baru saja kaya. Ia punya banyak duit, tapi penampilannya tetap saja kusut dan lusuh, wajahnya kotor dan berjerawat, tubuhnya bau dan sakit-sakitan. Ini perumpamaan yang dilontarkan seorang pengamat perkotaan mengenai kota Jakarta. Akar penyebabnya, tingginya laju pertumbuhan penduduk-terutama karena derasnya arus urbanisasi-, keterbatasan lahan, dan pembangunan kota yang cenderung tidak terarah. Akibatnya, Jakarta terkesan tidak ramah, dengan kehidupan sosial yang terasa ganas.

“Jakarta kok belakangan makin panas. Udah begitu macetnya ga ketulungan. Akibatnya badan jadi mudah letih karena ketegangan selama diperjalanan antara rumah dan kantor, “ujar seorang karyawati yang berkantor dibilangan Jalan Jenderal Sudirman kepada SUAR.

Gubernur Fauzi Bowo dan Wakil Gubernur, Prijanto tentu juga merasakan hal yang sama. Karen aitu, aspek penataan lingkungan hidup, menjadi bagian dari program unggulan dalam pembangunan daerah. Dalam berbagai kesempatan Fauzi Bowo-yang oleh wartawan kerap disebut “Bang Kumis