KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Hiruk pikuk menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 sudah mulai terasa. Pengumuman daftar sementara calon legislative sudah dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Partai-partai politik peserta Pemilu mulai ramai menyampaikan visi, misi dan opini melalui media massa. Tak ketinggalan beragam janji yang memikat hati rakyat. Namun, sejauh pengamatan, masih sedikit parpol yang benar-benar menyinggung masalah lingkungan hidup, yang sebenarnya sangat esensial bagi Indonesia dewasa ini.

Tingginya laju kerusakan hutan, maraknya praktek illegal logging, pencemaran udara, bumi dan air, pengerukan pasir, banjir dan tanah longsor, sampah, limbah B3 dan sebagainya sudah menjadi ancaman nyata yang menghantui kehidupan masyarakat. Sayangnya, bagi sebagian besar politisi berbagai persoalan yang menyangkut hidup rakyat banyak ini, tampak belum dianggap sebagai isu penting yang patut disikapi secara fundamental dan holistic. Mereka cenderung lebih tertarik pada isu-isu seputar rotasi dan sirkulasi kekuasaan jangka pendek (sirkulasi limatahunan), sementara bencana banjir, ancaman sampah yang terus menggunung, kebakaran hutan dengan asapnya mengganggu negara tetangga, dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan Pemilu. 

Pengabaian isu lingkungan oleh parpol-parpol peserta Pemilu tentu tidak bisa dipandang sebagai hal sederhana, sebab Pemilu sebagai pengejawatan hak politik rakyat, seharusnya mampu menawarkan solusi terhadap berbagai masalah yang membebani kehidupan rakyat.

“Patut disadari, sudah ribuan nyawa rakyat melayang karena bencana lingkungan, sementara kerugian harta benda sudah tak terbilang. Belum lagi sebagian masyarakat kehilangan masa depan karena sumber penghidupan mereka musnah akibat bencana. Mengapa para politisi tidak peka terhadap persoalan ini? ujar seorang aktivis lingkungan. 

Pimpinan parpol tampak masih terjebak dalam egoisme sempit. Yang mereka pikirkan hanyalah kelanggengan kekuasaan, tanpa menyadari bahwa sebenarnya yang mereka peroleh merupakan titipan rakyat. Karena itu, beberapa aktivis lingkungan mengingatkan masyarakat pemilih agar menyambut pemilu dengan sikap kritis. Apalagi tidak tertutup kemungkinan ada partai politik dibiayai oelh orang-orang atau perusahaan yang terlibat dalam perbuatan merusak lingkungan.

Beberapa sumber SUAR bahkan menganjurkan agar organisasi-orgasnisai atau lembaga swadaya masyarakat yang peduli lingkungan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat agar tidak terkecoh oleh janji-janji manis para politisi. Selain itu, juga cermat dan teliti memperhatikan kredibilitas serta repuatsi para calon legislative agar tidak terjebak pada pilihan yang salah. 

“Jika dicermati, beberapa persoalan lingkungan yang actual dewasa ini, di dalamnya terdapat kiprah peran para politisi dan partai politik,