KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 20 Maret 2012. Kementerian Lingkungan Hidup, sebagai National Focal Point dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity-CBD) menyelenggarakan Dialog Interaktif bertema Menyongsong Ratifikasi Protokol Nagoya pada tanggal 20 Maret 2012. Dialog ini bertujuan untuk mengumpulkan saran dan pendapat yang konstruktif guna mendukung ratifikasi dan implementasi Protokol Nagoya di Indonesia. Acara Dialog ini didukung oleh beberapa nara sumber dan dihadiri oleh peserta dari Kementerian/Lembaga, organisasi non pemerintah dan kalangan perguruan tinggi.

Protokol Nagoya tentang Akses Kepada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan Yang Adil dan Seimbang Yang Timbul Dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati, telah diadopsi dalam kerangka Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Nagoya, Jepang pada tanggal 30 Oktober 2010. Tujuannya adalah pembagian keuntungan yang adil dan seimbang yang timbul dari pemanfaatan sumber daya genetik, agar dapat memberikan kontribusi terhadap konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari keanekaragaman hayati dan menerapkan ketiga tujuan Konvensi Keanekaragaman Hayati. Sebagai Negara yang telah meratifikasi CBD dan negara megabiodiversity country, Indonesia telah menandatangani Protokol Nagoya pads tanggal 11 Mei 2011 bertepatan dengan acara Ministerial Segment of the 19th session of the United Nations Commission on Sustainable Development di Markas Besar PBB, New York. Pemerintah Indonesia sedang menjalankan proses ratifikasi Protokol Nagoya menjadi Rancangan Undang-Undang Pengesahan Protokol Nagoya. Proses harmonisasi dengan Kementerian/Lembaga sudah dilaksanakan dan proses ratifikasi didukung oleh semua Kementerian/Lembaga.

Protokol Nagoya diharapkan menjadi suatu pengaturan internasional yang komprehensif dan efektif dalam memberikan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya genetik. Selain itu, Protokol Nagoya juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk mencegah terjadinya pencurian hayati (biopiracy).

Keanekaragaman hayati merupakan tumpuan hidup manusia, karena setiap orang membutuhkannya untuk menopang kehidupan, sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri, farmasi dan obat-obatan. Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati adalah melalui perdagangan tanaman obat. Nilai perdagangan tanaman obat dan produk berasal dari tumbuhan termasuk suplemen, pada tahun 2000 mencapai 43 milyar USD, meningkat menjadi 60 milyar USD tahun 2002. Tahun 2010 diprediksi lebih dari 200 milyar USD dan tahun 2050 menjadi 5 trilyun (Kumar, 2003).

Untuk mendukung Protokol Nagoya ini Kementerian Lingkungan Hidup telah melaksanakan beberapa program kegiatan yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan protokol Nagoya antara lain Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati dan Inventarisasi data dan informasi Keanekaragaman Hayati. Taman Kehati (mandat Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup) merupakan jendela informasi kekayaan sumber daya genetik lokal yang nantinya akan sangat berperan untuk pemanfaatan secara berkelanjutan dan memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal, dunia pendidikan dan penelitian. TamanKehati sebagai kawasan pencadangan sumber daya dan hayati lokal mempunyai fungsi konservasi in situ dan eks situ, khususnya bagi tumbuhan lokal/endemik/terancam punch. Kegiatan Inventarisasi data dan Informasi yang merupakan mandat dari Permen 29 Tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati Daerah juga merupakan upaya pencegahan pencurian hayati (biopiracy), dimana dokumentasi kekayaan hayati kita menjadi salah satu elemen penting dalam implementasi Protokol Nagoya.

untuk Informasi Lebih Lanjut:
• Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi MENLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan lklim, Kementerian LIngkungan Hidup,
tlp/Fax: 021-85904923,
Email: kehati(@menlh.go.id