KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Piala Dunia telah berlangsung, masyarakat lereng Merapi di Sumber dan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berharap sebulan penuh Juni akan menikmati sedikit kedamaian.

Mereka mengharap para pengeruk pasir dengan truk-truknya untuk sementara waktu akan menghentikan aktivitasnya, yang dirasa mengganggu penduduk setempat, karena menonton sepak bola.

Nyatanya tidak. Aktivitas pengerukan pasir Merapi yang berketinggian 2.875 meter dari permukaan taut itu terus meningkat sepanjang hari. Para murid SD maupun SLTP tetap harus ekstra hati-hati berjalan; di sepanjang jalan beraspal yang hanya selebar 2,5 meter di pedesaan itu. Inilah yang menyebabkan banyak orangtua terpaksa harus ikut mengantar anaknya ke sekolah.

Peristiwa terakhir yang cukup tragis menimpa dua anak SMU Van Lith Muntilan. Hari Kamis (30/ 5), FA Riyanto Eko Saputra dan S Whely Dwi Sandi, keduanya berumur 17 tahun, tewas tertabrak truk pasir. Keduanya baru saja turun dari Desa Sumber hendak pulang ke Muntilan. Kendaraan dua anak berboncengan itu mencoba menyalip sebuah motor, terjadi senggolan, dua anak itu jatuh ke kanan, tepat waktu itu lewat beberapa truk berlawanan arah. Roda belakang dari salah satu truk di antaranya menghantam motor dua siswa SMU itu sehingga keduanya langsung meninggal.

Tiap hari ratusan truk besar dan kecil lalu lalang sekitar lereng itu. Sejak adanya kendaraan besar yang terlalu sering melewati jalan sempit itu, telah tercipta beberapa “kode etik� lalu lintas.

Kendaraan terutama yang beroda empat dari Muntilan yang hendak naik ke Sumber atau Keningar (desa paling tinggi di lereng itu), harus mengalah bila berpapasan dengan kendaraan yang sedang turun.

Pernah saya berdebata dengan sopir truk gara-gara saya tak mau terlalu minggir ke kiri ketika hendak pulang ke Sumber. Lalu mereka turun hendak memaki-maki. Saya bilang, “Saya ini warga Desa Sumber yang mau pulang ke rumah, Anda siapa?� begitu cerita Yanto (50).

Kebetulan Yanto memang menyimpan kemarahan dengan maraknya penambangan pasir secara masif itu. Yanto mempunyai pekerjaan, sebagai pemahat batu, salah satu profesi yang juga banyak ditekuni penduduk Kabupaten Magelang di lereng Merapi.
Untuk memenuhi bahan baku berupa batu-batu hitam asal perut Merapi, ia biasanya mengontrak sebidang tanah selama 2-3 tahun. Selama waktu itu dengan cara manual, alat sedanay, ia bisa mengambil batu di lahan sewaan dengan cara yang teratur dan dengan harga sewa tanah yang relatif murah.

Kini penambangan dilakukan besar-besaran, alat yang dipakai bukan pacul, serok atau pengki, tetapi bego (back hoe), sebuah mesin pengeruk pasir. Kecepatan pengerukan pasir alat ini menakjubkan. Hanya dalam waktu 10 menit, bak sebuah truk Colt diesel dengan ukuran 4,5 ton langsung terisi pasir yang sudah tersaring. bayangkan dengan cara lama, dimana penambang harus macul, menaikkan pasir ke bibir lubang penggalian, dan baru mengangkutnya ke truk. Paling tidak butuh waktu tiga jam.

Suatu kali Yanto pernah mendatangi sopir bego yang sedang mengoperasikan mesinnya. Ia minta supaya operasi bego dihentikan karena merusak lingkungan dan membuat penduduk kehilangan pekerjaan. Sang sopir dengan santai sambil menggerakkan belalai pengeruk pasirnya menyatakan ia hanya sopir, pemiliknya ada di Semarang. Yanto yang bergelantungan di pintu bego akhirnya turun menyerah.

Kebanyakan pemilik bego berasal dari luar Magelang dan paling banyak dari Semarang. Bahkan, bego untuk merambah lereng Merapi sebelah selatan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta pun berasal dari kota yang sama. Kini bego sudah merambah lereng selatan walau pihak Pemerintah Kabupaten Sleman menolak kehadirannya.

Pemerintah Kabupaten Magelang juga berupaya menatanya, misalkan minta para penambang memperbarui SIPD (Surat Ijin Penambangan Daerah) atau yang belum punya diharapkan menghentikan penambangannya. Semua itu tak pernah ditaati. Isu yang beredar, ada orang kuat di belakang penambangan itu.

Masalahnya ada atau tidak orang kuat, para pengusaha pasir itu cukup pintar mengelola kerjanya. Setiap hari 1.300 truk pasir keluar masuk di sekitar Kabupaten Magelang dan 200-300 di Kabupaten Sleman. Tipe truk bervariasi mulai dari Colt Diesel kecil dengan daya tampung 2.5 meter kubik sampai tronton jumbo dengan kapasitas 25 meter kubik. Umumnya truk itu mengangkut lebih dari daya tampung sebenarnya.

Hampir belum pernah terdengar ada sanksi atau denda kepada truk yang melebihi tonase karena truk itu ternyata memberi manfaat yang besar. Bagi kabupaten Magelang, tahun yang lalu, mereka menarik pajak produksi berkisar Rp 4.000 – Rp 20.000 untuk satu kali angkut, pajak desa Rp 500- Rp 1.000. Pajak keamanan dari pemuda desa satu kali lewat mengangkut pasir Rp 1.000.

Bupati Magelang Hasyim Afandi bahkan berencana menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) galian C dari Rp – 4 milyar menjadi Rp 6 milyar untuk tahun 2002 ini. Dari segi masyarakat, tumbuh pula jenis baru yang disebut coker (meratakan pasir di atas truk). Kini ada ratusan pemuda yang menjadi coker dengan pendapatan perharinya Rp 20.000. Tak setiap hari mereka kerja. Coker digilir dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Sesuatu hal yang kian menjadi klasik, manfaat ekonomi jangka pendek telah mengalahkan masa depan lingkungan Merapi. Tebing sungai tergerus, dam serta sabo (bangunan penahan lahar) rusak, yang lebih parah, lahan produksi di beberapa desa lereng Merapi itu telah berlubang-lubang.

Mbah Semi (65) seorang penduduk Sumber yang dulu berasal dari Keningar punya sikap yang sangat bijaksana. Beberapa kali ia dirayu agar tanahnya disewakan untuk ditambang pasirnya, tetapi nenek tua yang kelihatn masih segar itu menolak. Tanah milik tetangganya yang berada di sekitarnya sudah disewakan dan ditambang pasirnya. Kini tanah Mbah Semi tampak seperti panggung terbuka. Jika hendak menanami jagung ia harus memanjat tanahnya.

“Dengan disewakan, kami memang dapat uang banyak tetapi lebarannya (sesudah pasir diambil) itu, tanah menjadi rusak, tak bisa ditanami. Karena itu, berapapun sewanya tak akan saya lepas,” kata Mbah Semi, lebarannya itu masalahnya. Dalam bahasa sekarang Mbah Semi sudah memikirkan sustainable development.