KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

detik.com, 30/05/2008 13:55 WIB
Misteri Blue Energy
UGM: Air Tak Dapat Diubah Jadi Hidrokarbon

Bagus Kurniawan – detikcom

Yogyakarta – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan air tidak
dapat diubah menjadi hidrokarbon. Meski secara prinsip air dapat diubah menjadi
hidrogen, tapi butuh energi yang besar.

Hal itu diungkapkan dosen jurusan Kimia Fakultas MIPA UGM, Wega Tri Sunaryanti
MS, Meng, PhDEng di ruang rektor, Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Jumat
(30/5/2008).

Dalam pertemuan itu anggota tim peneliti yang hadir di antaranya Dr Tumiran
(Teknik Elektro), Rita Kristiyani (PSE UGM), Dr Jayan Sentanu Hady (Teknik Mesin
Industri, Ketua Senat Akademik UGM Prof Dr Sutaryo dan Kepala Humas Suryo
Baskoro.

"Air sebagai sumber energi memang betul, namun untuk mengubahnya susah dan masih
banyak kendala," kata Wega yang intensif meneliti mengenai masalah tersebut.

Menurut Wega, energi berbasis air bukanlah hal baru. Pada prinsipnya air dapat
diubah menjadi
hidrogen dengan teknik elektrolisis. Gas hidrogen inilah yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar.

"Tapi proses elektrolisis air menjadi gas hidrogen butuh energi sangat besar,"
kata Wega dibenarkan oleh Tumiran.

Dikatakan Wega, mengubah air menjadi bensin (premium), minyak solar, minyak
tanah (kerosine) dan avtur adalah sesuatu yang tidak mungkin. Air (H2O) terdiri
atas komponen hidrogen dan oksigen. Untuk mengubahnya menjadi hidrokrabon adalah
sesuatu yang mustahil.

Sifat air yang polar sangat berlainan dengan hidrokarbon yang non-polar. Dengan
demikian secara hukum logis energi, hal ini jelas sangat tidak rasional karena
hidrogen yang memiliki sensitifitas tinggi harus diubah menjadi hidrokarbon yang
memiliki sensitifitas rendah. "Tingkat
efesiensinya bagaimana? Itu mustahil," tegas Wega.

Jayan yang ahli/peneliti hidroeksplosion menambahkan, teknologi seperti ini
telah puluhan tahun ditemukan. Orang pertama yang membuat dokumentasi tentang
elektrolisis ini adalah dr William Rhodes tahun 1960-an. Kemudian dilanjutkan
Prof Yull Brown yang serius mempopulerkan metode ini.

Namun kata dia, di dunia scientist banyak pakar meragukan efisiensi proses ini
karena dipandang sebagai sesuatu yang besar pasak daripada tiang. Artinya,
proses elektrolisis yang umumnya menggunakan electric pulse ini masih terlalu
mahal dibandingkan energi yang didapatkan.

"Dengan kata lain biaya produksi dengan energi value yang dihasilkan belum
seimbang secara ekonomis. Selain itu sifat hidrogen itu reaktif sehingga akan
sangat sulit dan tidak semudah itu untuk diproduksi," kata Jayan. ( bgs / djo )