KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Peran organisasi profesi dan asosiasi industri dalam pengelolaan lingkungan hidup tidak diragukan lagi nilai strategisnya. Sementara itu, pemahaman dan informasi lingkungan juga diperlukan oleh organisasi profesi dan asosiasi industri dalam melakukan aktivitas serta melaksanakan visi dan misinya.

Untuk itu, pada tanggal 31 Mei 2007 yang lalu dalam rangkaian Pekan Lingkungan Indonesia di Jakarta Convention Center, Kementerian Negara Lingkungan Hidup melaksanakan penandatangan Nota Kesepahaman dengan Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kegiatan bersama ini ditindaklanjuti dengan diskusi interaktif dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar pada tanggal 29 Juni 2007 di Ruang Kalpataru, Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

Menneg LH menegaskan bahwa Indonesia sebagai tempat berlangsungnya COP 13/MOP 3 UNFCCC di Bali pada bulan Desember 2007 yang akan datang, perlu dukungan dari berbagai pihak. Lebih jauh lagi, Bapak Rahmat Witoelar menjelaskan pogram Nasional penanaman 2 milyar pohon dalam 5 tahun harus segera direalisasikan. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya perlawanan terhadap perubahan iklim, selain tentunya untuk meningkatkan kualitas lingkungan pada umumnya.

Rahmat Witoelar menghimbau agar organisasi profesi secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelaan pada lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Hadir dalam kegiatan tersebut adalah pengurus dan anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang menandatangani MOU dengan KLH pada tanggal 16 September 2006 serta  IALI, HAKLI, dan  PGRI.

Guna penguatan dan peningkatan pemahaman organisasi profesi dan asosiasi industri, pada tanggal 12 Juli 2007 dilaksanakan diskusi perubahan iklim. Tampil sebagai pembicara adalah Dra Masnellyarti Hilman, MSc, Deputi  Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan. Berdasarkan hasil identifikasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dilaporkan, ada 24 pulau yang tenggelam, akibat dari kenaikan air laut yang dipicu karena es di kutub utara mulai mencair.  

Penelitian lain memperkirakan tahun 2050 Istana Negara yang berada di kawasan Jakarta Pusat akan tenggelam, dapat dibayangkan bagaimana dampaknya untuk tempat-tempat lain  yang berada di wilayah pesisir.

Perubahan iklim juga berdampak pada sektor pertanian, karena terjadinya defisit air serta waktu tanam tak menentu yang berakibat pada terjadinya kerawanan pangan. Sektor lain juga merasakan dampaknya seperti sektor perikanan, perhubungan.  Emisi gas rumah kaca   terjadi karena beberapa kegiatan antara lain yaitu pembakaran bahan bakar fosil, sampah yang tidak dikelola dengan baik serta kerusakan hutan dan lahan.

Secara sederhana adaptasi lingkungan dilakukan dengan menaman pohon dan hindari menebangan pohon, budayakan hidup bersih dan hemat energi,  serta konservasi air. Kegiatan-kegiatan inilah yang diharapkan dapat dilakukan oleh organisasi profesi dan asosiasi industri, baik sebagai profesional di bidangnya masing-masing maupun sebagai anggota masyarakat. 
 

Menanggapi banyaknya masukan dari peserta diskusi mengenai konferensi Internasional  perubahan iklim yang akan berlangsung pada bulan Desember 2007 di Bali, Plt Asisten Deputi Urusan Partisipasi Masyarakat dan Lembaga Kemasyarakatan, Widodo Sambodo MS mengusulkan agar perlu dibentuk tim kecil yang menampung masukan dari para pemangku kepentingan.                                                 

Sumber :

Asdep Partisipasi Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat
Gd. B lantai 5. Kementerian Negara Lingkungan Hidup,

Tel: 021-85904919, Fax: 021-8580087