KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, Rabu 22 Maret 2006 (Siaran Pers). Kementerian Lingkungan Hidup telah memfasilitasi penerapan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 melalui berbagai kegiatan antara lain: adopsi standar intemasional ISO 14001, 14004 dan 19011 versi baru menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-14001-2005, 19-14004-2005 dan 19-19011-2004, dan disusunnya panduan-panduan pendukung penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Selain itu, akan disusun buku dan film kisah sukses penerapan SML ISO 14001 di industri yang terkait dengan penerapan Produksi Bersih dan peringkat Proper.

Dalam pengembangan penerapan SML ISO 14001 ini, Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN), Komite Akreditasi Nasional (KAN), Lembaga Sertifikasi, Lembaga Konsultan dan instansi pemerintah daerah. Pada tingkat internasional, partisipasi aktif Indonesia dalam penyusunan standar intemasional ditunjukkan dengan dipilihnya wakil Indonesia untuk duduk sebagai Vice Chairman Sub Committee 1 (Environmental Management System) pada ISO TC 207 Environmental Management mewakili negara berkembang.

Pada tahun 2003, industri yang mendapatkan sertifikat ISO 14001 (survey terhadap 79 industri) telah menunjukkan berbagai indikasi kemajuan perbaikan kinerja lingkungan yang positif dan mendapat manfaat baik dari aspek ekonomi maupun sosial. Berdasarkan penilaian Proper pada tahun 2004, dari 23 industri yang mendapat peringkat PROPER Hijau, 15 industri telah mendapatkan sertifikasi ISO 14001 (70 %). Hal ini menunjukkan bahwa dengan penerapan SML yang efektif dan efisien akan memberikan perbaikan kinerja lingkungan. Untuk itu, penerapan SML yang efektif dan efisien ini menjadi salah satu kriteria dalam penilaian Proper untuk peringkat Hijau. Dengan demikian, penerapan SML ISO 14001 dapat menjadi salah satu perangkat dalam menuju Pembangunan Berkelanjutan yang dicita-citakan.

Saat ini jumlah industri yang telah mendapatkan sertifikat ISO 14001 adalah sebanyak 372 industri. Laju pertumbuhan jumlah industri yang mendapat sertifikat ISO 14001 ini cenderung lambat bila dibandingkan dengan penerapan ISO 9000. Padahal manfaat penerapan SML bagi industri sangatlah besar. Namun salah satu kendala terbesar adalah kurangnya informasi dan publikasi terhadap keberhasilan penerapan SML itu sendiri.

Melalui Konferensi Nasional ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai arah kebijakan manajemen lingkungan di Indonesia, informasi mengenai manfaat penerapan SML dan perannya dalam menunjgan penilaian Proper, saling berbagi pengalaman tentang ‘good practices’ dalam penerapan SML dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta dapat meningkatkan kesadaran dan komitmen berbagai stakeholder terkait.

Deputi VI MENLH
Bidang Komunikasi Lingkungan & Pemberdayaan Masyarakat

Drs. Sudarijono