KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Tidak ada Hutan, maka air pun berkurang drastis…
Tiada hutan, air dan lahan, maka petanipun menangis
Tiada hutan, air dan lahan, kehidupanpun punah….

Bak nostalgia antara dua generasi yang berbeda, bertemu jualah dua tokoh pembaharu bagi peningkatan kehidupan rakyat. Menteri Negara Lingkungan Hidup melakukan penandatanganan pembaharuan kesepakatan Piagam Kerjasama dengan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) – satu sisi melalui peningkatan kualitas kaum tani, sisi lain, melalui peningkatan kualitas fungsi lingkungan. Penandatanganan Piagam Kerja Sama diadakan pada hari Selasa, 20 Desember 2005 di Bumi Karsa-Jakarta.

Terlepas ada tidaknya kesepakatan antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan HKTI, secara mutlak kehidupan petani dan pertanian erat terkait dengan aspek kesehatan lingkungan. “Jadi yang penting Sekarang adalah bagaimana kita (red. KLH) menjabarkan masalah kesehatan lingkungan bagi produktivitas pertanian dan kualitas hidup kaum tani�, ujar Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sebagai contoh, lanjut Rahmat Witoelar, minimal adanya early warning system bagi daerah-daerah pertanian yang kekurangan air atau bagaimana mengatasi ‘kepenatan’ lahan akibat dampak negatif dari pemakaian pestisida yang berlebihan.

“NO Forest, no water. No water no farmers�, merupakan penekanan dari Ketua umum HKTI, Prabowo Subianto, mengawali sambutan sebelum penandatangan dimulai. Selanjutnya, Prabowo menjelaskan bahwa HKTI merupakan garda terdepan bagi keberlanjutan pertanian dan sangat strategis bersinergi dengan pihak Kementerian Negara Lingkungan Hidup utamanya dalam meningkatkan taraf kesejahteraan kaum tani dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan hidup. Di sela-sela sambutan yang bersifat formal, Ketua Umum HKTI mengucapkan rasa terima kasih kepada Pemerintah karena salah satu hasil dari WTO yang baru-baru ini berlangsung, Pemerintah sudah berhasil melindungi kepentingan kaum tani, yakni adanya larangan impor khususnya barang-barnag yang berkaitan dengan sector pertanian.

Salah satu pernyataan Prabowo yang perlu digarisbawahi dalam kesepakatan ini adalah, “bahwa dalam jangka menengah upaya yang perlu lebih ditingkatkan adalah sosialisasi perluasan pembuatan pupuk organik, penguatan dan pengembangan jaringan kader-kader lingkungan�. Hal ini sangat signifikan dengan keinginan Rahmat Wiroelar, agar sampah mempunyai dua makna, sebagai sumber utama banjir dan penyakit sementara sisi lainnya, sampah bila diolah dengan baik dapat membantu kaum tani untuk meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya. “sesungguhnya, kita ini satu keluarga, karena KLH dan HKTI mengurus dan memelihara alam�, ujar Rahmat Witoelar.

Informasi:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan
Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup
Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Telp: 021-8520392, Fax. 021-8580087