KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Ironis, Kebakaran hutan yang disinyalir dilakukan oleh oknum pengusaha, dan para petani pembuka lahan, lambat laun menyebabkan punahnya satwa liar den vegetasi (tumbuhan) yang terdapat di dalamnya. Hutan yang dulu sangat dibanggakan sebagai paru-paru dunia, kini dipergunjingkan baik oleh negara sendiri maupun mancanegara.

Sejak Orde Baru dimana menteri dalam setiap kabinet pemerintahan silih berganti, tetap saja hutan di Indonesia berada dalam situasi mengenaskan. Sebetulnya ada apa dengan kepemimpinan mereka, apakah kebijakannya yang salah melulu? Ataukah, memang kroco-kroco bawahannya di lapangan yang mudah “dibeli” dengan sejumlah uang sogokan atau berbagai kepentingan?

Ditambah lagi, kemungkinan besar terjadi akibat kebijakan otonomi daerah yang cenderung mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata, tanpa memperhitungkan populasi yang hidup di lingkungan hutan tersebut.

Kebakaran Hutan

Tanah merupakan istilah yang dipahami setiap orang, tetapi pengertiannya dipandang secara berbeda-beda, tergantung pada pengalaman, hubungan, dan latar belakang pendidikan mereka. Petani, pejabat pemerintah, pakar geologi, kimia, teknik sipil, kesehatan, serta orang-orang awam menganut sudut pandang atau perspektif yang berbeda dalam memahami tanah.

Kebakaran hutan atau lahan mempengaruhi sifat fisik tanah, terutama melalui penghancuran bahan organik tanah yang berperan sangat penting dalam menjaga struktur tanah. Penghilangan bahan organik oleh panasnya api menghancurkan struktur tanah, meningkatkan bobot isi tanah, mengurangi porositas tanah, sehingga menurunkan kecepatan infiltrasi dan meningkatkan kecepatan air limpasan (run off) dan erosi.

Besarnya perubahan sifat-sifat fisik bergantung pada kehebatan kebakaran yang terjadi, proporsi dari vegetasi atas dan vegetasi bawah yang terbakar, lantai hutan yang terbakar, pemanasan dari tanah, proporsi dari luas wilayah yang terbakar, dan panjangnya interval kebakaran. Dalam pelatihan penilaian kerusakan akibat pembakaran hutan dan lahan akhir Juli lalu, Dosen Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Gunawan Djajakirana menjelaskan tentang dampak kebakaran terhadap lahan gambut. Hutan rawa gambut tergolong ekosistem yang mudah rusak (fragile).

“Kerusakannya dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah bencana kebakaran hutan ataupun pembakaran yang dilakukan manusia pada waktu mengeksploitasinya. Kebakaran hutan rawa gambut terutama dipicu oleh terjadinya penurunan muka air rawa akibat didrainasekan atau akibat kemarau panjang, sehingga tanah gambut yang biasanya jenuh air berubah menjadi kering. Gambut yang tersusun dari berbagai jenis bahan organik merupakan bahan yang mudah terbakar pada kondisi kering,” jelas Gunawan.

Ribuan Hektar

Dari hasil penelitiannya, Gunawan memaparkan, kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran atau pembakaran relatif berlangsung dalam waktu singkat. Penelitian di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa dalam waktu tiga bulan hutan yang terbakar dapat mencapai luasan sebesar 24.655 hektar dengan dampak sangat serius, karena tegakan hutan umumnya mengalami kematian total dan hilangnya lapisan gambut pada areal yang bergambut dangkal, dan penurunan tebal gambut rata-rata 50 centimeter pada areal yang bergambut dalam.

Dampak kebakaran pada lahan gambut umumnya lebih parah daripada kebakaran pada tanah mineral. Semua dampak yang dialami tanah mineral (dalam sifat fisik, kimia, dan biologis) juga dialami oleh lahan gambut bahkan tanahnya sendiri ikut terbakar sehingga hilang. Sifat penolakan air (water repelency) pada gambut yang terkena panas, tetapi tidak terbakar lebih kuat dari pada tanah mineral, karena pemanasan pada gambut akan menyebabkan kering tidak dapat berbalik (irreversible drying), sehingga membentuk apa yang disebut sebagai pasir palsu (pseudo sand). Pasir palsu ini sama sekali tidak menyerap air.

Praktik membakar lahan gambut justru akan menghabiskan lapisan gambut yang ada. Di Sumatera Selatan (daerah Air Sugihan) pada waktu pertama kali dibuka untuk transmigrasi memiliki ketebalan gambut lebih dari tiga meter.

Akan tetapi, karena praktik yang salah (suka membakar gambut untuk meningkatkan kesuburan tanah), maka dalam waktu 20 tahun, gambut setebal tiga meter tersebut hilang sama sekali. Sebagai akibatnya, munculah kerugian-kerugian bagi lingkungan di daerah itu, antara lain rusaknya tata air, sehingga sulit mendapatkan air di musim kemarau dan banjir di musim hujan, timbulah tanah sulfat masam, hilangnya atau berkurangnya keanekaragaman hayati, dan lain-lain.

Pada vegetasi, gangguan dapat timbul bila partikel asap yang ukurannya kurang dari 10 mikron meter masuk ke dalam atau menutup stoma (mulut daun) yang berukuran sekitar 1020 mikron meter. Adanya penyimpangan atau menumpuknya partikel pada daun juga akan mempengaruhi tanaman. Rentang waktu yang singkat dengan konsentrasi yang tinggi lebih merusakkan tanaman dari pada rentang waktu yang lama dengan konsentrasi yang rendah.

Berkurangnya radiasi yang sampai ke permukaan dan adanya tumpukan partikel di permukaan daun dan bulu-bulu daun akan mempengaruhi proses fotosintesis tanaman. Selain itu, dekomposisi partikel bersama butiran air hujan dapat menyebabkan hujan asam yang juga merusak tanaman. Hal ini pernah terjadi di Sumatera Utara dengan pH sekitar empat. Pada akhirnya, pertumbuhan dan produksi tanaman juga akan menurun baik kualitas maupun kuantitasnya.

Dosen Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Dr. Lailan Syaufina yang memaparkan dampak kebakaran hutan terhadap vegetasi menyebabkan, pada kisaran suhu antara 130-190 derajat Celcius, lignin dan hemisellulosa sebagai penyusun bahan bakar hutan akan mulai terdegradasi. Proses dekomposisi dari kedua jenis bahan penyusun tadi akan dipercepat pada suhu 200 derajat Celcius. Seperti diketahui, panas yang dihasilkan dalam suatu kebakaran hutan dapat mencapai lebih dari 1900 derajat Celcius.

Akibatnya, kebakaran hutan dapat menyebabkan kematian pada vegetasi. Bila panas yang dihasilkan masih memungkinkan vegetasi hidup, maka akan tertinggal luka-luka akibat kebakaran yang akhirnya akan merangsang pertumbuhan hama dan penyakit atau menghasilkan cacat permanen. Konsekuensinya, tiap hutan akan berkurang dan fungsi lindung hutan akan hilang. Bagi semai atau anakan pohon yang memiliki jaringan tanaman yang masih muda, api akan menyebabkan kematian secara langsung. Hal ini tentu saja menghambat proses regenerasi hutan.

Jika ditelusuri, kebakaran hutan juga berdampak pada aneka satwa liar. Oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr. Hadi S Alikodra dan Ir. Agus Priyono Kartono, MSi dari Laboratorium Ekologi Satwa Liar Jurusan Konversi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, dampak itu dapat dibedakan dalam dua golongan, yakni kematian satwa secara langsung dan perubahan populasi karena rendahnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi habitat yang baru.

Menurut Zikria (1972) dalam tulisannya berjudul Smoke and Carbon Monoxide Poisoning in Fire Victims, kematian satwa liar secara langsung akibat kebakaran dapat diartikan sebagai akibat seketika yang disebabkan oleh satu atau kombinasi dari faktor-faktor racun karbon monooksida, kurangnya oksigen, dan racun kimia yang terkandung dalam asap.

Satwa Punah

Selain itu, dari keterangan WE Howard dan kawan-kawan (1959) dalam tulisan berjudul Wildlife Survival on Brush Burn, kematian langsung itu dapat disebabkan oleh temperatur di atas 55 derajat celcius. Walaupun telah diungkapkan bahwa secara umum satwa mampu menghindari diri dari api, tetapi diingat bahwa pada awal terjadinya kebakaran, misalnya pada bulan November 1982, diperkirakan merupakan akhir masa reproduksi satwa, sehingga pada saat itu populasi satwa yang baru dilahirkan sampai umur muda cukup banyak.

Hadi mengatakan, asumsi tersebut menerbitkan ada hipotesa bahwa sewaktu kebakaran tersebut terjadi banyak satwa bayi dan satwa muda yang mati seketika, terutama jenis burung dari ungulata, mengingat kemampuan gerak dan mobilitas mereka masih rendah.

Akibat kebakaran hutan terhadap satwa pun dapat terjadi secara tidak langsung atau dalam waktu relatif panjang. Keadaan ini baru terlihat pada beberapa saat yang akan datang, yaitu karena adanya perubahan kondisi vegetasi di lingkungan yang baru. Proses adaptasi ini akan menentukan kemampuan daya hidup mereka dalam jangka panjang yang akan mempengaruhi pula daya reproduksi, pertumbuhan dan struktur populasinya.

Beberapa jenis satwa liar dari golongan primata, misalnya orang utan (Pongo pygmaeus), monyet berekor panjang (Macaca fascularis) dan owa (Hylobates muellen) dapat dijumpai di sepanjang pinggir sungai, lalu bekantan (Nasal laroatus) dijumpai terutama di daerah hutan mangrove.

Di antara golongan primata tersebut, owa mempunyai daerah penyebaran yang lebih luas dibandingkan orang utan, monyet berekor panjang dan bekantan. Misalnya di daerah Mentoko dan Teluk Kaba, Kalimantan Timur, owa dapat dijumpai mulai dari pingir sungai/laut sampai ke hutan. Satwa ini bahkan dijumpai berada sampai di hutan Batas antar daerah yang hangus terbakar maupun tidak terbakar, sejauh lebih kurang 21 kilometer sebelah barat Mentoko.

Sementara di Mentoko, kata Hadi, pada saat pengamatan tidak dijumpai orang utan. Padahal, sebelum terjadi kebakaran, orangutan banyak terkonsentrasi di daerah ini. Yang pasti, tegas Hadi, jenis satwa liar yang hidupya bergantung pada hutan mengalami gangguan, potensi makanan berkurang, tempat tidur dan sarang terganggu, serta sumber-sumber air menjadi terbatas. Keadaan ini menyebabkan satwa liar menjadi gelisah dan tingkat mobilitas menjadi lebih tinggi. Mereka selalu bergerak mencari makan dan air, sehingga pada waktu kekeringan, satwa tersebut menjadi lebih kurus dan lemah.

Hadi menyayangkan, kodisi kehidupan satwa liar menjadi lebih parah ketika terjadi kebakaran hutan. Dalam kondisi lemah, mereka berusaha menghindarkan diri dari amukan api. Diduga, saat itu banyak satwa liar terutama babi hutan, monyet berekor panjang, dan mati.

Kalau sudah semakin parah, dimana Vegetasi (tumbuhan) dan hewan kehilangan tumbuh dan berkembangnya, bagaimana dengan manusia yang “dipaksa” mengisap asap.

Kompas