KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

TELUK JAKARTA BAK SUPERMARKET SAMPAH

SAMPAH di teluk Jakarta masih jadi masalah. Sampah berserakan dari sungai-sungai di sekitarnya. bila air pasang, ampah-sampah yang semula bertebaran di mana-mana bisa kembali lagi ke teluk. “Semua jenis sampah ada di sana, seperti supermarket,” sindir Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta saat berkunjung ke kantor INDOPOST kemarin.

Pemcemaran teluk Jakarta tidak berdiri sendiri. Ada kaitannya dengan 13 sungai yang bermuara ke sana. Dan semua sungai yang mengalir ke teluk memiliki problema sama, yakni tercemar oleh sampah, terutama sampah domestik.

“Kalau kami memang sifatnya hanya kordinasi den kebijakan. Selainnya kita serahkan kepada pemerintah daerah. Akan tetapi untuk mengurusi lingkungan ini memang cukup hanya Kementerian Lingkungan Hidup saja. Makanya, saat ini saya menggandeng Kementerian pendidikan Nasional agar sadar lingkungan ini masuk dalam jenjang pendidikan dan kurikulum,” beber pria kelahiran Kalimantan Selatan, 1 September 1952 tersebut.

Menggandeng Kementerian Pendidikan Nasional karena Gusti berasumsi, 1/3 pendudukan Indonesia dihuni oleh pelajar dan mahasiswa. Sehingga, kalau dalam kurikulum, ada pendidikan sadar lingkungan, setidaknya sentilan untuk sadar untuk merawat lingkungan datang dari anak muda lebih mengena.

“Kalau anak yang menegur orangtua pasti lebih mengena dan malu. Kalau orang yang sudah tua diberikan edukasi sudah tidak berhasil. Sehingga, kita menggunakan para pelajar dan mahasiswa untuk bergerak dan sadar sejak dini,” ucapnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang berbeda Kepala Badan Daerah (BPLHD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Peni Susanti menjelaskan, kultur masyarakat tentang kebiasaan membuang sampah di sungai sudah terbangun sejak lama. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai lebih mudah dan efisien membuang sampah ke kali, karena akan cepat terbuang dan tidak perlu biaya. Saat ini terdapat 74 kelurahan berdenyut di tepian bantaran 13 sungai yang bermuara ke teluk Jakarta.

Kebiasaan inilah yang akhirnya menjadi beban. Dari satu keluarga yang terbiasa membuang sampah di sungai, kemudian diikuti oleh keluarga lain, dan akhirnya menyebar ke mana-mana.

Apalagi jumlah penduduk yang tinggal di bantaran sungai terus bertambah. kali Ciliwung yang merupakan sungai terbesar di DKI setidaknya dihuni oleh 26 ribu kepala keluarga. (nel/bersambung)

Sumber:

Indo Pos
Kamis, 01 Juli 2010
Hal.3
nel