KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA





Periode I 2004
Jadwal siar: April 2004

No. Nara Sumber Tema Lokasi Kegiatan Jadwal Shooting

1.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Kusnadi Hardjosumantri
( 2 session)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Hukum Lingkungan Hidup di Indonesia; Penerapan
dan Kendala
Dewasa ini berbagai kasus lingkungan banyak muncul
di pemberitaan- pemberitaan. Kasus-kasus itu langsung dan tidak langsung
telah memberikan dampak yang negatif baik pada manusia maupun alam. Longsor
& banjir akibat rusaknya hutan yang terjadi akibat perbuatan pihak yang
tak bert.jawab, sungai-sungai tercemar akibat tidak patuhnya kelompok industriawan
pada paraturan-peraturan yang ada, pengadilan-pengadilan LH yang tidak maksimal;
Hal itu semua menandakan lemahnya penerapan hukum lingkungan di Indonesia.
Begitu banyak tata aturan hukum lingkungan yang dikeluarkan untuk menjaga
lingkungan ini tetap mempunyai daya dukungnya — akan tetapi pelanggaran
terus terjadi. Satu hal yang menarik dicermati bagaimana kah upaya yang
harus dilakukan agar hukum lingkungan yang sudah dituangkan dalam peraturan-peraturan
yang ada dapat diterapkan dan menjerat seluruh ‘pelanggar’ lingkungan. Upaya
apa yang harus dilakukan – dari sekedar kegiatan sosialisasi’ tuk mewujudkan
masyarakat sadar dan taat hukum, khususnya hukum di bidang lingkungan.

SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

   

3.

 
 
 
 
 
 
 

 

Walikota Solo
( 2 session)

 
 
 
 
 
 
 
Solo "Berwawasan Lingkungan"
Citra Solo ‘kota seni’ begitu melekat di masyarakat. Ritme kehidupan diwarnai
penuh dengan nilai-nilai luhur yang terus dijaga dan dilestarikan. "suasana
sepeda", "lesehan", "pendopo" menjadi ciri kesehariannya.
Itu semua akan tetap menjadi nyaman jika lingkungan yang ada mendukung.
Suasana rindang kota, tingkat polusi yang rendah, pembangunan yang memperhatikan
tata ruang, industri yang ramah lingkungan — adalah semua hal yang harus
diwujudkan. Untuk itu kebijakan/ upaya-upaya apa yang dilakukan oleh PEMDA
dalam mewujudkan pembangunan Solo yang berwawasan lingkungan.
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
   
5

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Srimulat & Organisasi Dalang
(2 session)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Budaya dan LH
Pembangunan LH dengan tujuan menjamin kehidupan generasi mendatang hanya
dapat terwujud jika semua pihak terlibat aktif di dalamnya. Kelompok Utama
yang berperan dalam proses ini adalah: pemuda dan anak, perempuan, petani,
buruh-karyawan, pengusaha, akademisi dan ilmuwan, masyarakat adat, pemerintah
daerah, LSM, TNI-POLRI, agamawan, budayawan dan pegawai negeri. Pengarusutamaan
para pihak ini semakin menguatkan bahwa hanya dengan "KEMITRAAN"
tujuan itu dapat terwujud. Bagaimanakah budayawan melihat permasalahan LH
yang semakin menunjukkan degradasi yang ‘amat’ sangat. Bagaimanakah analisa
yang dapat diungkap berkait dengan prilaku manusia/pelaku pembangunan yang
berprilaku ‘tidak arif lingkungan’. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan
dalam kaitan tata nilai kemasyarakatan yg dapat mendorong terciptanya pelaku
pembangunan yang memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan.
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
7

 
 
 
 
 
 
 
Dinas Kehutanan Prop. Jawa Tengah
(1 session)

 
 
 
 
 

 

Pengelolaan Hutan di Jawa Tengah
Bencana longsor dan banjir kerap terjadi di wilayah Jawa Tengah — hal itu
diidentifikasi sebagai akibat gundulnya hutan-hutan di wilayah Jawa Tengah.
Hal itu terjadi sebagai akibat dari penebangan liar yang tidak terkendali
yang dilakukan oleh baik masyarakat ataupun oleh oknum aparat itu sendiri.
Bagaimanakah masalah itu disikapi ? Adakah upaya yang dilakukan untuk pengamanan
kawasan hutan di wilayah Jawa. Bagaimanakah konsep Community Development
dikembangkan bagi masyarakat pinggiran hutan?
SOLO

 
 
 
 
 
 
 

 

   
8
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MENLH
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
TEMA HLH 2004
WANTED "Seas and Oceans" Dead or a Live" Tema yang dicanangkan
oleh UNEP

untuk peringatan Hari Lingkungan Hidup 2004. Isu pesisir dan laut telah
menjadi salah satu fokus pengelolaan lingkungan hidup baik skala nasional
maupun global — hal itu menunjukkan bahwa untuk menunjang kehidupan ini
isu laut juga memegang peranan penting ; disamping isu-isu LH yang lain.
Dapat disimpulkan bahwa untuk tetap menjaga lingkungan hidup ini tetap mempunyai
daya dukungnya dalam menunjang kehidupan manusia di muka bumi ini maka matra
laut, air dan udara perlu dikelola dengan baik dengan menggunakan prinsip-prinsip
PLH. Tema HLH 2004 yang dicanangkan oleh UNEP PBB ini begitu penuh makna
— dimana tersirat ‘begitu gentingnya’ kondisi LH saat ini. Bagaimanakah
kondisi lingkungan hidup (global) dan kondisi LH di Indonesia saat ini.
Bagaimanakah kita menyikapi hal itu semua dikaitkan dengan situasi kondisi
saat ini dimana ‘ekonomi’ lebih berperan dibanding dengan ‘lingkungan’?
Bagaimanakah menciptakan harmonisasi berbagai kegiatan pembangunan dapat
berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip PLH.
STUDIO JAKARTA
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
9

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
MENLH

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pemimpin Peduli Lingkungan
Degradasi lingkungan terus terjadi; berbagai bencana (banjir, longsor) terjadi
dimana-dimana ‘ujungnya’ kesengsaraan dan penderitaan masyarakat semakin
berat. Apa yang menjadi penyebab ? Itu semua adalah akibat ‘kecerobohan’
pembangunan yang berasal dari kebijakan yang salah dari para pemimpin. Tidak
seharusnya ada banjir dan longsor jika kondisi alam terjaga dan terkendali
dalam pengelolaannya. Itu semua adalah akibat miss manajemen serta adanya
ego sektoral, tumpang tindih kepentingan dalam PLH — akibatnya bukan hanya
rakyat yang terkorbankan tapi juga alam itu sendiri. Bagaimanakah itu tidak
terulang kembali ? Jika saja komitmen para pihak (pemutus kebijakan) telah
tumbuha dan diwujudkan dalam setiap aktivitas pembangunan LH maka kemitraan
dalam perwujudan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dapat
dilakukan.
STUDIO JAKARTA

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
10

 
 
 
 
 
 
 
 
 
PPLH UNS
(1 session)

 
 
 
 
 
 
 
 
Teknologi Tepat Guna Lingkungan dalam PLH
PPLH UNS sebagai lembaga Pengkajian LH tentunya mempunyai berbagai data
hasil analisa dari berbagai permasalah LH. Data analisa tersebut dimaksudkan
untuk dapat digunakan sebagai bahan penyusunan kebijakan pemerintah dalam
pengelolaan LH. Sejauhmana data analisa/penelitian di bidang lingkungan
hidup; khususnya di bidang teknologi tepat guna lingk. yang dimiliki oleh
PPLH UNS digunakan sebagai dasar penyusunan kebijaksanaan PLH dan sejauhmana
PPLH UNS mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang ada guna menunjang
program kegiatan PLH di wilayah Jawa Tengah khususnya dan Indonesia umumnya.
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
11

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Dr.Sunyoto, Dipl. H.E.
(2 session)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber Daya Air Tanah; kebutuhan dan keterbatasan
Air merupakan sumberdaya yang paling penting dalam kehidupan manusia maupun
mahluk hidup lainnya. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan
telah mengakibatkan kebutuhan akan air meningkat tajam. Di lain pihak, ketersediaan
air dirasa semakin terbatas – bahkan di beberapa tempat sudah terjadi kekeringan.
Hal itu semua terjadi sebagai akibat dari kualitas LH yang menurun, seperti
pencemaran, penggundulan hutan, berubahnya tata guna lahan, dll Kebutuhan
masyarakat akan air bersih selama ini telah dipenuhi oleh PDAM; hal itu
hanya berlaku untuk masyarakat perkotaan, lalu bagaimanakah pemenuhan kebutuhan
air bersih bagi masyarakat pedesaan. Diketahui bersama bahwa PDAM belum
dapat menjangkau wilayah pedesaan dan akhirnya masyarakat pedesaan banyak
mengguna kan air tanah, sungai ataupun tadah hujan. Tidak menjangkaunya
PDAM ke wilayah pedesaan disebabkan oleh beberapa faktor. Tapi hal terpenting
adalah bagaimana masyarakat pedesaan ini dapat memenuhi kebutuhan akan air
bersih. Suatu hal yang dikhawatirkan adalah bahwa pemenuhan kebutuhan akan
air bersih oleh masyarakat yang diperoleh dari air tanah, sungai dan tadah
hujan akan terganggu karena kontaminasi dari kualitas LH yang terus menurun.
Upaya apa yang perlu dilakukan untuk penyelamatan air tanah bagi kepentingan
pemenuhan kebutuhan air bersih bagi mayarakat.
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
13
Sarwono Kusumaatmadja
-
STUDIO JAKARTA
   
14

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  Kependudukan dan LH
Jumlah penduduk yang meningkat mempunyai korelasi yang kuat terhadap turunnya
kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Tekanan kebutuhan dan kepentingan
yang kuat dan berbeda terhadap sumberdaya alam yang ada menjadikan lingkungan
hidup jadi obyek dari pembangunan — dan pada akhirnya degradasi lingkungan
semakin meningkat. Berbagai bencana alam seperti : kekeringan, banjir, longsor,
kebakaran hutan, bencana industri, dll telah ada disekitar kita. Yang terjadi
semua pihak ‘lempar tangan’ sebagai pihak yang tidak bertanggungjawab atas
apa yang terjadi. Hal itu sangat memprihatinkan jika kita mengingat bahwa
kegiatan pembangunan harus memperhatikan kelestarian lingkungan demi kepentingan
generasi mendatang. Apa yang terjadi jika semua itu tidak disadari berbagai
pihak — benturan kepentingan sektor dan prilaku yang tidak arief terhadap
lingkungan akan menjadi permasalahan yang terus ‘membayangi’ bagi keberhasilan
program di bidang lingkungan hidup. Di satu sisi kita tidak bisa menutup
mata bahwa berbagai pembangunan yang dilakukan sektor serta prilaku-prilaku
yang tidak arief lingkungan adalah karena terdesak oleh pemenuhan kebutuhan
hidup. Jumlah penduduk yang terus meningkat serta sumberdaya alam yang terus
berkurang; suatu hal yang perlu dicermati untuk upaya-upaya yang harus dilakukan
bagi kepentingan lingkungan agar tetap mempunya daya dukung bagi kepentingan
generasi mendatang. Bagaimana itu dilakukan ?
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
15

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Masnellyarti Hilman

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Masyarakat dan Teknologi Pengelolaan Air
Bersih

Krisis air bersih sudah terjadi dimana-mana; hal itu terjadi sebagai akibat
dari degradasi lingkungan. Tingkat kebutuhan dan ketersediaan tidak lagi
seimbang, hal itu menjadi dilema sendiri bagaimana pemenuhan kebutuhan air
bersih dapat dilakukan. Air adalah komponen dari lingkungan hidup maka pencemaran
air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan. Seperti diketahui bahwa
pencemaran air adalah masuknya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen
lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air menurun sampai
ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya. Oleh karena itu banyak upaya-upaya pengelolaan air dilakukan
melalui berbagai macam teknologi. Akan tetapi tidak semua masyarakat mengetahui
dan dapat menjangkau teknologi tersebut dikarenakan akses informasi dan
pengetahuan mengenai hal itu terbatas. Pada akhirnya masyarakat terbebani
akan pemenuhan kebutuhan air bersih untuk kehidupannya. Bagaimanakah menguatkan
lembaga kemasyarakatan ini mempunyai akses informasi dan pengetahuan akan
teknologi pengelolaan air bersih sehingga mampu mendampingi anggota masyarakat
dalam pemenuhan kebutuhan akan air bersih.
JAKARTA

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
16

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ketua BKPMD
(2 session)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Investasi dan Pencemaran Lingkungan
Dalam rangka pengembangan ekonomi daerah para investor memegang peranan
penting; dengan banyaknya investor ‘geliat ekonomi’ muncul melalui produksi-produksi
yang dihasilkan. Satu hal yang dapat dicermati, jika daerah itu banyak industri
maka tingkat polusi dan pencemaran sangat tinggi — padahal pada saat mereka
datang pastinya mereka sudah terikat dengan tata aturan untuk pengolahan
lingkungan (limbah dan materi pencemaran lainnya). Sejauhmana BKPMD sebagai
‘pintu gerbang’ investasi berperan untuk mendorong para pelaku industri
untuk menjalankan segala tata aturan dibidang lingkungan hidup sebagaimana
kesanggupan mereka pada saat mengajukan ijin kegiatan di daerah tersebut.
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
18

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kepala Kantor Lingkungan Hidup
SURAKARTA

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan
Sampah

Permasalahan sampah adalah isu yang tidak pernah selesai; berbagai upaya
dan teknologi terus dikembangkan agar sampah ini tidak lagi menjadi masalah.
Sampah tidak hanya dapat diselesaikan dengan kebijakan dan teknologi tapi
juga ‘kita’ sebagai penghasil sampah. Kesadaran itu masih jauh dari masyarakat
kita, tidak hanya pada pengelolaan sampah tapi juga manajemen pemisahan
sampah itu dari mulai rumah tangga belum terlaksana. Pola pemisahan sampah
basah dan sampah kering belum dilaksanakan oleh rumah tangga, konsep 4R
(ReUse, Recycle, Reduce, Recovery) masih jauh dari penerapan. Upaya apa
yang dilakukan oleh KLH dalam mendorong masyarakat berperanserta aktif untuk
pengelolaan sampah serta upaya yang dilakukan untuk penanganan/manajemen
pengelolaan sampah di wilayah Surakarta — konteks Islam "Kebersihan
bagian dari Iman"
SOLO

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   

Kembali ke situ diambang fajar: