KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sejumlah pejabat dan artis di Jakarta disinyalir memiliki satwa langka yang dilindungi. Padahal, sesuai dengan Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) dan ekosistemnya, satwa langka tersebut tidak boleh dimiliki, baik dalam keadaan hidup maupun sudah diawetkan (opset). Hal itu dikemukakan Koordinator KSBK (Konservasi Satwa Bagi Kehidupan), Hardi Baktiantoro, Jum’at (26/4), pekan silam. Menurut Hardi Gubernur DKI, Sutiyoso memiliki tiga opset macan dan Mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, memiliki orang utan.

Selain itu artis Unique Pricilla dan penyanyi rock, Ahmad Albar, serta Yusuf Hamka, disebutnya memiliki orang utan, buaya, dan yang lainnya. “Tapi, saya nggak tahu pasti berapa jumlah semua pejabat atau artis yang punya hewan langka,” kata Hardi kepada SERASI. la berharap, petugas menindak tegas para pemilik hewan langka tersebut. “Tidak peduli pejabat atau masyarakat biasa, petugas harus memberlakukan hukum yang sama.”

Pada hari Jumat (26/4) pekan lalu petugas KSDA dan Polda Metro Jaya menyita seekor opset harimau Sumatera (Phantera Tegras Sumatera) dari rumah mantan anggota DPR RI, di Jakarta Selatan. Namun petugas tidak memproses lebih jauh pemilik opset tersebut. Menanggapi permintaan Hardi di atas, Kepala Inspeksi KSDA Wilayah Barat, Departemen Kehutanan, Yunus Makasao, mengatakan masih menunggu instruksi atasannya. Dia menepis anggapan bahwa pihaknya takut mendatangi rumah para pejabat atau artis itu. “Tidak…tidak takut,� bantah Yunus. Dia beralasan, hukum di Indonesia belum berlaku secara murni. Artinya, masih banyak pihak-pihak yang intervensi terhadap pelaksanaan Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang KSDA dan ekosistemnya itu.

Secara nyata memang sukar untuk membuktikan adanya intervensi itu. Tapi kata Yunus, pihaknya pernah mengalam intervensi secara tertutup itu. Misalkan, ketika ia menyita hewa langka di rumah seseorang. Ternyata kemudian, pemilik hewan langka tersebut masih famili atau kerabat pejabat. “Melalui telepon, si pejabat itu mengintervensi agar tidak dilakukan penyitaan,� kata Yunus yang enggan merinci pemilik hewan langka yang kerabat pejabat itu. Bahkan kata Yunus, ia pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika mendatangi sebuah rumah di Jl. Barito, beberapa waktu lalu. Ketika itu, ia hampir ditusuk oleh pemilik rumah yang tidak mau hewan langkanya disita. “Belum lagi teror-teror lainnya,� kata Yunus. “Jadi masih sulit untuk menegakkan hukum secara murni,� kata Yunus lagi.

Lis Y.