KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sungai di Puncak Relatif Sehat, Harapan Baru Pemulihan Ciliwung
Sungai Ciliwung termasuk dalam daerah aliran sungai (DAS) kritis di Indonesia yang saat ini sedang mengalami kerusakan serius pada semua segmen DAS. Kementerian Lingkungan Hidup membagi Ciliwung dalam lima segmen berdasarkan wilayah administrasi. Segmen I di Ciliwung hulu bagian atas Kabupaten Bogor, Segmen II Kota Bogor, Segmen III Kabupaten Bogor bagian bawah, segmen IV Kota Depok, dan Segmen V di DKI Jakarta. Sungai Ciliwung adalah sungai lintas propinsi, yang melintas di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta. Luas DAS Ciliwung sekitar 37.472 hadengan panjang sungai utamanya 117 km. Luas hutannya hanya 3.709 Ha atau 9,8% dari luas DAS.

Dengan potensi air Sungai Ciliwung yang digunakan sebagai air baku dan pendukung kehidupan masyarakat, serta kondisi pencemarannya dengan status tercemar sedang sampai berat, maka perlu upaya-upaya terintegrasi untuk meningkatkan kualitas air Ciliwung. Dari perspektif itu, maka potensi pelajar, mahasiswa, komunitas, LSM-LSM, dan masyarakat sangat strategis untuk membangun kepedulian bersama terhadap peningkatan kualitas air Ciliwung. Masyarakat didorong untuk terlibat dalam menjaga sungai dan DAS, masyarakat harus diposisikan sebagai komponen penting dalam karena pemerintah atau instansi yang bertanggung jawab atas pengelolaan sungai dan menjaga kelestarian fungsi ekologis sungai.

Untuk meningkatkan kepedulian komunitas masyarakat terhadap sungai, maka Kementerian Lingkungan Hidup menggagas kegiatan “Selamatkan Sungai Kita“ yang akan dilaksanakan dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2013, pada bulan Juni 2013 mendatang. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pemantauan kesehatan sungai dengan menggunakan metode Biotilik. Sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan pelatihan pemantauan kualitas air sungai dengan menggunakan metode biotilik. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 – 15 Mei 2013 di di Sungai Cisampay Ciliwung PuncakKabupaten Bogor. Kegiatan diikuti oleh 66 orang peserta yang terdiri atas siswa, guru, dan masyarakat merupakan perwakilan dari sekolah dan komunitas pemerhati Ciliwung yang berasal dari kawasan Puncak(SMP Islam Al Barokah, SMK Bakti Taruna, SMK Karya Insani, SMK Agro Bisnis dan Teknologi Amerta, GMI),Kota Bogor (Lawalata IPB, Himalika IPB, KPL Angsana IPB, SMA YPHB Bogor, KPC Bogor, SMP N II Bogor, SMPN III Bogor), Kabupaten Bogor (Komunitas Ciliwung Bojong Gede), Kota Depok (Komunitas Ciliwung Depok, SMPN 1 Depok, SMPN 2 Depok, SMAN 1 Depok), dan DKI Jakarta (Komunitas Ciliwung Condet, Yayasan SIOUX Ular Indonesia, Ciliwung Insistute, Komunitas Kampung Kramat (KKK), MTsN Kemuning, SMPN 35 Jakarta, Gemar Bersuci, KBC Rawa Jati).

Kegiatan ini dilakukan atas dasar keprihatian masyarakat di Ciliwung atas degradasi kualitas DAS Ciliwung dari hulu hingga hilir. Pemulihan DAS Ciliwung tidak bisa hanya menunggu respon pemerintah saja, namun masyarakat harus memberikan kontribusi dalam pengendalian kerusakan dan pengelolaan kualitas lingkungan DAS Ciliwung. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih fasilitator pendamping yang nantinya akan melakukan kegiatan pemantauan kualitas air dengan metode biotilik di sepanjang DAS Ciliwung.

Pelatihan ini dihadiri perwakilan instansi pemerintah pusat dan daerah. Narasumber pelatihan diberikan oleh Drs. Widodo Sambodo, MS Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan, KLH; Erna Witoelar pendiri Gerakan Ciliwung Bersih; Roni Sukmana, Kepala BLH Kabupaten Bogor; Ir. Dewi Nurhayati, M.Si, Kabid Konservasi SD Alam dan Mitigasi Bencana, BPLHD Jawa Barat; Maman Sudirman, S.Hut, BPDAS Citarum Ciliwung; Ir. Hermono Sigit, Asdep Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat, KLH; Willy Pramudya, dari Aliansi Jurnalis Independent; Waji Jatmiko, Dinas Pendidikan, Kota Bogor; Dinas Pendidikan DKI Jakarta, serta Kepala Desa Tugu Selatan Cisarua Puncak Bogor.

Pelatihan pemantauan kesehatan sungai dengan metode biotilik diberikan dan didampingi oleh Prigi Arisandi, Daru, Amir, dan Andreas dari Lembaga Ecoton, yang merupakan LSM yang bergerak pada pelestarian DAS Brantas Jawa Timur.

Pelatihan pemantauan kualitas sungai dengan metode biotilik ini digunakan karena metode ini telah banyak digunakan diberbagai negara sebagai indikator biologis untuk memantau pencemaran air dan menentukan tingkat kesehatan ekosistem sungai, dan telah ditetapkan sebagai parameter kunci dalam pemantauan kualitas air, selain parameter fisika kimia kualitas air. Biotilik berasal dari kata bio dan tilik yang berarti pemanfaatan makhluk hidup (bio) untuk menilik atau memantau lingkungan, yang merupakan sinomim dengan biomonitoring (makroinvertebrata).

Biotilik merupakan metode pemantauan kualitas air yang bisa memberikan informasi lebih mendetail dalam upaya pemulihan DAS, karena dengan biotilik kita bisa mengetahui dampak penurunan kualitas air yang mengakibatkan berubahnya kondisi habitat sungai, perubahan kondisi habitat ini direspon oleh biota air yang tinggal di sungai, karena setiap biota air memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap pencemaran air.

Jenis biotilik didominasi oleh jenis serangga air yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia seperti capung, kunang-kunang, kepik dan anggang-anggang. Metode biotilik,  biota yang menjadi indikator digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu EPT dan non EPT. Kelompok EPT mewakili kelompok biota air yang sangat sensitive terhadap pencemaran sedangkan kelompok non EPT adalah kelompok biota air yang tahan dalam keadaan sungai yang tercemar atau DASnya tidak sehat. Biotilik merupakan alat pantau kesehatan sungai yang mudah, murah, manfaat, massal dan mengetahui lebih awal perubahan kualitas air, serta dapat dilakukan oleh siapa saja.Metode ini menggunakan serangga air sebagai biota yang dapat menunjukkan kualitas air dalam kurun waktu yang singkat. Dalam kurun waktu 1-2 jam kita sudah bisa mengetahui status air yang sedang dipantau.

Biotilik ini merupakan cara pemantauan kualitas air yang mudah dan murah sehingga membuka ruang bagi masyarakat untuk bisa terlibat memantau kualitas Sungai Ciliwung. Dengan mengetahui kualitas air sungainya, maka masyarakat akan dapat melakukan upaya sederhana untuk menyelamatkan Ciliwung dari pencemaran dan kerusakan di daerah sekitarnya.Metode ini kini dikembangkan dan dipraktekkan dalam pengelolaan kualiatas air di DAS Brantas dan sejak 2009 dikenalkan dan dipraktekkan di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi Hulu Ciliwung dalam keadaan sehat.Kondisi Ciliwung hulu bisa menjadi modal dasar bagi penggiat Komunitas Ciliwung untuk terus melakukan pemulihan Ciliwung. Saat ini sedang dibentuk Ciliwung Rangers yang beranggotakan pelajar-pelajar Kawasan Ciliwung yang mau melakukan perubahan dan bergerak bersama untuk menyelamatkan yang tersisa di DAS Ciliwung. Menurut para peserta pelatihan Biotilik ini sangat bagus serta bermanfaat untuk dipelajari baik itu dari kalangan kalangan pelajar/siswa maupun masyarakat. Dengan adanya Pelatihan Biotilik ini akan menjadi suatu bentuk pelajaran untuk para siswa/i, guru, serta kalangan Mahasiswa. Pelatihan ini akan terus berlanjut untuk Pelaksanaan Hari Lingkungan Hidup pada  bulan Juni nanti. Tidak hanya di bulan Juni saja dilakukannya pelaksanaan Biotilik tapi akan terus berlanjut sampai seterusnya secara periodik sebagai riset data kesehatan DAS Ciliwung.

Informasi:
Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan,
Telepon. 021-85904919