KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


Untitled_1.jpgMerti Code secara literal berarti memelihara (memetri: jw) sungai Code. Upacara Merti Code ini merupakan ritual tahunan yang dihidupkan kembali oleh masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Code bagian utara (penggal sungai dari Gemawang, Sinduadi, Sleman hingga jembatan Gondolayu, kota Jogjakarta) sejak tahun 2001. Motor utama kegiatan ini adalah Forum Masyarakat Code Utara (FMCU) di kel. Cokrodiningratan, kota Jogjakarta, dan Komunitas Pecinta Code (Kompac) di desa Sinduadi, Sleman bersama Asdep Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan pada Deputi VI, KNLH serta Jurusan Antropologi UGM.

Pelaksanaan upacara Merti Code V tahun 2006 ini berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya rangkaian acara ini digelar pada bulan Juni-Juli (selama 1 bulan), pada tahun ini (2006) mundur dari jadwal awal (11 Juni – 26 Juli 2006) menjadi 13 – 22 Agustus 2006. Rangkaian acaranya pun lebih sederhana, meskipun tetap saja meriah. Perubahan ini terpaksa dilakukan karena disebabkan oleh bencana gempa dan penyesuaian dengan jadwal Pilkada kota Jogja yang berubah.

Tema pokok yang diusung pada pelaksanaan tahun ini adalah ’Sagotrah Gumregah Ndandani Omah’ yang berarti ’Bangkit Bersama Membangun (kembali) Rumah’. ’Rumah’ dalam hal ini tidak saja mengacu pada aspek fisik (lingkungan, kampung, sungai) tetapi juga aspek ruh/jiwa. Sehingga, pesan yang hendak disampaikan pada upacara ini sebenarnya adalah pentingnya semangat kebersamaan untuk melestarikan lingkungan dan untuk segera bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh bencana.

Terdapat 6 (enam) acara yang menjadi agenda Merti Code 2006: (i) Pembukaan Merti Code, (ii) Pameran dan Sarasehan Kampung Hijau, (iii) Pasar malam dan Pentas Seni, (iv) Ritual Pengambilan Air dari 7 mata air dan Tirakatan, (v) Kirab Gunungan, Pusaka, dan Pawai Seni, (vi) Aksi Sosial Donor Darah.

Secara resmi rangkaian acara MC 2006 dibuka oleh Walikota Jogja, H. Heri Zudianto,  pada tanggal 13 Agustus 2006 di RW 07 Cokrodiningratan. Juga hadir pada acara tersebut Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup,  Ketua Jurusan Antropologi UGM, dan instansi-instansi terkait. Dalam sambutannya Walikota menekankan pentingnya pembudayaan perilaku yang berwawasan lingkungan. Setelah acara pembukaan para anggota Pramuka Kwarcab kota Jogjakarta mengadakan kerja bakti bersih-bersih sungai.

Untitled_2.jpgAcara pameran kampung hijau dilaksanakan pada tanggal 13 – 19 Agustus 2006 dengan menampilkan beberapa desa dan kampung yang dinilai berhasil dalam bidang lingkungan, misalnya Sukunan yang sudah dikenal sebagai kampung yang mampu mengelola sampah secara mandiri dan kampung Gamelan yang merupakan kampung terbersih di kota Jogja. Acara ini merupakan kerjasama dengan jurusan Antropologi UGM dan Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Tujuan pameran ini adalah memperkenalkan perilaku berwawasan lingkungan kepada masyarakat dan siswa-siswa SD di sekitar sungai Code. Setiap hari stan-stan pameran dibanjiri anak-anak SD yang dengan keluguannya bertanya banyak hal mengenai pengelolaan lingkungan.

Inti dari upacara ini adalah ritual pengambilan air dari 7 mata air di sepanjang sungai Code, tirakatan, dan puncaknya adalah kirab pusaka, air, dan pawai seni. Ritual pengambilan air ini dilaksanakan pada sore hari tanggal 19 Agustus dan malamnya dilaksanakan tirakatan untuk mendoakan air yang masing-masing di tempatkan dalam sebuah bejana (klenthing: jw). Pada acara kirab, 7 klenthing yang berisi air dari 7 mata air tersebut dibawa oleh 7 orang pemudi kepada sesepuh yang kemudian menuangkannya (menjadi satu) dalam sebuah gentong besar (ancak patirtan). Ancak patirtan inilah yang kemudian diarak bersama-sama dengan pusaka tumbak Kyai Ranumurti (hadiah/paringan dalem Sultan Hamengku Buwono X), gunungan boga (yang terbuat dari sayur mayur dan buah-buahan), diiring oleh kelompok-kelompok masyarakat (misalnya bregada prajurit dari kampung/RW-RW di kawasan Code Utara, kelompok lansia, pramuka, dsb) serta kelompok seni (misalnya Sanggar Tari Natya Laksita Didik Nini Thowok, kelompok musik bambu Blimbingsari, uran-uran Terban, Putra Bali, dsb). Kirab ini diberangkatkan dari dua tempat, yakni di SD Gondolayu dan lapangan Blunyah, dan berakhir di dekat jembatan Code Sardjito, dimana masyarakat dengan antusias berebut gunungan boga dan air dari ancak patirtan yang dibagikan oleh seorang sesepuh. Uniknya, Walikota Jogja yang berjalan bersama Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan tokoh pemerintahan di bagian belakang dengan santai memunguti sampah (plastik bekas kemasan air minum dan permen) yang dibuang oleh rombongan sebelumnya. Tindakannya ini tidak pelak membuat peserta yang lain rikuh dan ikut-ikutan memungut sampah sepanjang jalan. Ing Ngarso Sung Tuladha.

Informasi Lebih lanjut :

Asisten Deputi Pemberdayaa
n Masyarakat Perkotaan (Asdep 3/VI)

Kementerian Negara Lingkungan Hidup

Telp. 021-85911211

Email : praszt@menlh.go.id dan  indy@yahoo.com