KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Biopropeksi versus Biopiracy
Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Universitas Negeri Manado menyelenggarakan sosialisasi Peluang dan Tantangan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Berkelanjutan kepada para peneliti, akademisi dan berbagai instansi terkait di Manado, Sulawesi Utara, pada tanggal 4 September 2014. Acara ini diikuti oleh peserta sosialisasi berjumlah sekitar 110 orang yang berasal dari Badan Lingkungan Hidup se-Sulawesi, sektor terkait di Provinsi Sulawesi Utara (Bappeda, Bapedalda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan POM, Badan Karantina), Badan Penelitian Pengembangan Daerah, Perguruan Tinggi (pusat studi lingkungan/biologi/pertanian/peternakan/farmasi/kelautan/perikanan), dan LSM. Acara ini dibuka oleh Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan KLH. Dalam hal ini  Ir. Antung Dedi Radiansyah, mewakili Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH, sekaligus memberikan pengantar mengenai Pengelolaan Kehati dalam pembangunan berkelanjutan.

Pada acara ini diselenggarakan sosialisasi kebijakan, peraturan dan program keanekaragaman hayati,dan bioprospeksi(Bioprospecting) atau upaya-upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan nilai ekonomi dari keanekaragaman yang tersebar diberbagai daerah dan tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatanya seperti pembajakan keanekaragaman hayati (Biopiracy).

Dalam sambutannya, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH yang diwakili oleh Asdep Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan KLH menyatakan, “Bioprospeksi dan Biopiracy merupakan peluang dan tantangan dalam implementasi Protokol Nagoya Tentang Akses dan Pembagian Keuntungan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keanekaragaman hayati dan menggali potensi manfaatnya menjadi bagian penting untuk terlaksananya implementasi Protokol Nagoya dan menjadikan sumber daya genetik yang kita miliki menjadi modal dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pembangunan bangsa”.

Forum ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi kegiatan-kegiatan penelitian keanekaragaman hayati di daerah yang sudah dilakukan oleh para peneliti baik dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian di pusat dan daerah yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian serta pemahaman semua pihak untuk bersama-sama menyelamatkan keanekaragaman hayati di masing-masing daerah dari ancaman kepunahan, guna mendukung pengembangan nilai tambah dan bentuk pemanfaatan kehati berkelanjutan, sehingga kehati sebagai bioresources menjadi unggulan dan meningkatkan daya saing nasional.

Secara khusus disampaikan Profil Kehati Sulawesi Utara oleh Kepala BLH Provinsi Sulut, Christiano E. Talumepa, SH, Msi, untuk menyampaikan kekayaan kehati sebagai aset daerah dan kebijakan pengelolaan kehati. Selanjutnya para peneliti dan pakar Kehati dari berbagai universitas (Universitas Diponegoro, Universitas Tadulako, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Manado, Universitas Padjajaran, IPB), Yayasan Kehati, Kemenristek, dan Balitbang Sulawesi Utara memberikan paparan mengenai Produk Rekayasa Genetika dan Jenis Asing Invasif, Implementasi Protokol Nagoya serta mengenai Biomassa yang terbagi dalam tiga forum working group.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pemanfaatan kenekaragaman hayati melalui bioteknologi moderen dengan hasil berupa produk rekayasa genetik (PRG) memberi peluang untuk menunjang produksi pertanian, ketahanan pangan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Selain manfaat dan keuntungan yang dapat diharapkan dari produk rekayasa genetik, timbul kekhawatiran akan adanya risiko terhadap keamanan hayati, kesehatan manusia dan sosial budaya dari penggunaan produk rekayasa genetik. Selain itu dipresentasikan berbagai hasil eksplorasi pemanfaatan keekonomian kehati atau bioprospeksi sebagai peluang dan pengamanannya dari pembajakan biopiracy melalui jalur penelitian baik perorangan maupun lembaga.

Disamping itu, masuknya jenis asing terutama jenis asing invasif ke Indonesia merupakan ancaman lain terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Berbagai jenis hewan dan tumbuhan asing telah masuk ke Indonesia sebagai hewan peliharaan dan tumbuhan hias maupun untuk kegunaan lain, tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkannya. Hal ini sangat dirasakan pada ekosistem perairan danau dan kawasan-kawasan konservasi di daratan, karena eksostem aslinya sudah mengalami pergeseran dan kehilangan berbagai jenis endemik.