KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

(SIARAN PERS Nomor : S. 563/II/PIK-1/2005) Saat ini berkembang isu mengenai pemanfaatan ampas tebu (bagasse) sebagai bahan alternatif industri pulp dan kertas. Berkaitan dengan isu tersebut Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Badan Litbang Departemen Kehutanan melakukan kajian terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan bagasse untuk bahan baku alternatif industri pulp dan kertas.

Ampas tebu (bagasse) adalah limbah padat industri gula tebu yang mengandung serat selulosa yang dapat dibuat pulp. Potensi bagasse di Indonesia cukup besar, menurut data statistik Indonesia tahun 2002, luas tanaman tebu di Indonesia 395.399,44 ha, yang tersebar di Pulau Sumatera seluas 99.383,8 ha, Pulau Jawa seluas 265.671,82 ha, Pulau Kalimantan seluas 13.970,42 ha, dan Pulau Sulawesi seluas 16.373,4 ha. Diperkirakan setiap ha tanaman tebu mampu menghasilkan 100 ton bagasse. Maka potensi bagasse nasional yang dapat tersedia dari total luas tanaman tebu mencapai 39.539.944 ton per tahun.

Namun demikian, apabila digunakan sebagai bahan baku alternatif industri pulp dan kertas, masih menghadapi beberapa permasalahan, yaitu selama ini ampas tebu digunakan sebagai energi utama pabrik gula. Oleh karena itu, apabila seluruh bagasse yang ada dimanfaatkan untuk industri pulp dan kertas, maka perlu bahan bakar pengganti untuk pabrik gula, yaitu solar yang harganya saat ini cukup mahal. Kalau satu liter solar harganya Rp 3.600,-, sedangkan nilai kalor 1 ton bagasse kering setara dengan 598 liter solar, maka apabila dinilai dengan uang, 1 ton bagasse setara dengan Rp 2.152.800,-. Berarti lebih mahal dari harga Bahan Baku Serpih (BBS) kayu, yaitu setara Rp 600.000,- per ton. Selama ini industri pulp dan kertas menggunakan BBS kayu.

Permasalahan lain adalah, tebu merupakan tanaman semusim, sehingga tidak dipanen sepanjang tahun. Untuk menjamin rutinitas pasokan bagasse, maka diperlukan tempat penyimpanan yang luas. Kendalanya adalah bagasse bersifat kamba (bulky), sehingga memerlukan biaya transportasi dan penggudangan yang mahal. Pada saat penggudangan bagasse mudah terserang jamur dan serangga karena kandungan gula yang tersisa. Apabila dalam keadaan kering bagasse mudah terbakar.

Ditinjau dari potensi bagasse yang ada di setiap lokasi, pemanfaatan bagasse untuk memasok bahan baku industri pulp dan kertas tidak efisien. Karena produksi bagasse terbesar ada di Pulau Jawa, sedangkan industri pulp dan kertas berbahan baku kayu lebih banyak di luar Jawa, yaitu 83 % di Sumatera, hanya sekitar 5,88 % terdapat di Jawa. Oleh karena itu apabila kelebihan pasokan bagasse di Jawa akan dimanfaatkan untuk industri pulp dan kertas di luar Jawa, maka akan memerlukan biaya yang tinggi, hal ini akan meningkatkan biaya produksi.

Sementara itu, berdasarkan data yang ada, kapasitas terpasang industri pulp di Indonesia saat ini sebesar 6,28 juta ton per tahun. Dengan tingkat utilisasi 82 %, maka kemampuan riil produksi adalah sebesar 5,2 juta ton per tahun, atau setara dengan bahan baku kayu bulat sebesar 26 juta m3 per tahun. Saat ini pasokan bahan baku pulp dan kertas dipenuhi dari realisasi HTI pulp yang luasnya 382.000 ha, dan menghasilkan kayu sekitar 7,7 juta m3 per tahun. Ini berarti terdapat kekurangan bahan baku kayu untuk industri pulp sebesar 18,3 juta m3 per tahun (26 juta – 7,7 juta), atau setara dengan 1,2 juta ha.

Upaya untuk menutupi kekurangan bahan baku tersebut di antaranya dengan bagasse, namun karena terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaannya, maka penggunaan bagasse sebagai bahan baku alternatif, perlu dipertimbangkan kembali dengan matang.

Jakarta, 15 September 2005

Kepala Pusat Penerangan DePHut

Achmad Fauzi
NIP. 080030366