KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan bahan tambang emas yang banyak terdapat pada batuan di gunung ataupun pasir di sungai.  Kegiatan eksplorasi penambangan emas semakin banyak dilakukan baik secara perorangan maupun berkelompok.  Keberadaan bijih emas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya sebagai sumber penghasilan sehingga berkembanglah kegiatan pertambangan emas rakyat yang dikenal dengan istilah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Untuk mengetahui dampak pencemaran dari kegiatan PETI maka PUSARPEDAL melakukan pemantauan kualitas air di kawasan PETI yang berada Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Barat dan Jambi.  

Contoh uji diambil dari sungai yang pada alirannya terdapat aktivitas PETI. Jenis contoh uji yang diambil adalah sedimen, air, ikan dan lumut dari bagian hulu sampai hilir sungai. Untuk mengetahui nilai akumulasi merkuri terhadap pekerja PETi dilakukan juga pengambilan contoh uji rambut dari pengolah emas.

Parameter yang diuji adalah TOC dan Sianida dalam air, logam berat (Pb, Cu, Cr, Cd, Zn, As) dalam air dan sedimen sungai, serta logam merkuri dalam air, sedimen, ikan, biota sungai dan rambut pengolah emas.

Hasil analisis air sungai menunjukkan untuk parameter pH, DO, TDS, Cu, As, Ni, Hg, Pb, Cd di semua lokasi masih memenuhi Kriteria Mutu Air PP. 82 tahun 2001 kelas II (KMA) tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran.  Sianida di lokasi Sulawesi Utara (Sulut) pada titik S. Talawaan 3 adalah 0,036 mg/L melebihi Kriteria Mutu Air PP. 82 tahun 2001 kelas II yang di persyaratkan yaitu 0,02 mg/L. TSS (Total Suspended Solid) melebihi KMA di S. Kadumut (Sulut);  S. Kahayan Hulu, S. Kahayan II, S. Kahayan III, S. Rungan (Kalteng); S. malawi, S. Sepauk, S. Mandor (Kalbar) dan Jembatan Sungai Dareh, Kota Gn. Medan, S.Koto Balai, S.Batang (Sumbar); Jembatan Tebo, Ds. Mersam, Ds. Aro (Jambi), tertinggi di S. Mandor (Kalbar).
Konsentrasi logam Zn, Cu, Pb, As, Hg didalam tissue untuk kedua jenis ikan pada lokasi S. Kahayan IV (Kalteng); dan S. Sintang I (Kalbar) terdeteksi pada konsentrasi masih di bawh batasan maksimum cemaran logam berdasarkan Keputusan Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan (POM)/037/25/SK/VII/89.

Sumber:
(Pusarpedal)