PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BUKAN SEKADAR KONSEPSI DAN REKAYASA

Dalam acara penyerahan Penghargaan Kalpataru di Bali, Presiden Megawati Soekarnoputri menyambut gembira tokoh lingkungan dan para penyelamat lingkungan. Beliau begitu bangga dan mengatakan bahwa, mereka bukan saja telah merintis upaya untuk melestarikan lingkungan, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan pencemaran, serta meneruskan kearifan agar pemanfaatan sumber daya alam tetap dilakukan dengan menjaga lingkungan. Dalam [...]

21 Dec 2002 06:20 WIB

Dalam acara penyerahan Penghargaan Kalpataru di Bali, Presiden Megawati Soekarnoputri menyambut gembira tokoh lingkungan dan para penyelamat lingkungan. Beliau begitu bangga dan mengatakan bahwa, mereka bukan saja telah merintis upaya untuk melestarikan lingkungan, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan pencemaran, serta meneruskan kearifan agar pemanfaatan sumber daya alam tetap dilakukan dengan menjaga lingkungan. Dalam batas kemampuan yang mereka miliki, mereka telah berbuat sesuatu yang nyata bagi kita semua.

“Kita juga patut menaruh hormat kepada para tokoh ini, yang dengan prakarsa dan tanggungjawab sendiri, selalu memelihara komitmen yang luhur terhadap pelestarian lingkungan”.

Presiden juga menekankan dalam dua dekade terakhir ini, Indonesia berupaya melakukan pengelolaan lingkungan sebagai bagian integral dalam kegiatan pembangunan. Namun demikian harus diakui, dibalik meningkatnya kepedulian terhadap masalah lingkungan, Presiden juga menyaksikan betapa kerusakan dan pencemaran lingkungan diberbagai wilayah, ternyata juga berlangsung dengan irama yang sama cepatnya. “Karenanya, menggunakan kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak Saudara-saudara untuk sejenak menyatukan cara pandang kita terhadap satu masalah yang dekat dengan persoalan lingkungan, yaitu konsep tentang pembangunan berkelanjutan, yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan.”

Megawati juga mengatakan bahwa diluar pandangan yang sering kita dengar, esensi pembangunan berkelanjutan sebenarnya tidaklah berhenti pada pengertian program pembangunan itu sendiri. Lebih dari itu, konsepsi pembangunan berkelanjutan dalam pemahamannya lebih menampilkan cara pikir, sikap dan kepedulian terhadap kehidupan dan kesinambungan kemanusiaan. Pembangunan berkelanjutan ternyata bukan sekedar konsepsi dan rekayasa agar proses pembangunan dapat berjalan terus, lancar dan tanpa hambatan.

Konsepsi yang ditampilkan lebih pada pengetengahan norma-norma kesinambungan, kelestarian, keseimbangan, dan keselarasan hasil pembangunan tersebut dengan tersedianya sumber daya alam, kelangsungan hidup manusia, kemanusiaan, dan lingkungannya. Terjemahan konsepsi ini, pada gilirannya menuntut kemampuan kita untuk selalu, dari waktu ke waktu, menyerasikan dan menerpadukan program-program di berbagai sektor pembangunan, sehingga dapat saling menunjang, saling mengisi, dan saling mendorong.

“Pengamatan saya terhadap cara pendekatan baik dalam perencanaan maupun dalam tahap pelaksanaan program-program pembangunan selama ini, menuntun saya hingga sampai pada satu titik, bahwa sebenarnya disitulah letak kelemahan kita yang utama. Telah terlalu lama kita membiarkan berlangsungnya tumpang tindih dan bahkan benturan antar program dan sektor tersebut. Sebagai akibat, sebagaimana kita saksikan saat ini, bukan saja hal itu merupakan pemborosan, tetapi bahkan menghabiskan banyak sumber daya kita yang sesungguhnya masih terbatas,” tambahnya.

Kondisi seperti itu pula yang menyebabkan seakan berjalan di tempat. Kita bergerak mengkonsumsi energi yang luar biasa besar atau banyaknya, tetapi kita sendiri merasakan hampir tidak adanya kemajuan yang berarti. Keinginan kita untuk dapat semakin dekat dengan cita-cita pembangunan yang kita rumuskan, belum pula dapat segera terwujud. Masyarakat yang sejahtera, yang maju, mandiri dan berkeadilan, dan lain-lain belum juga dapat dirasakan secara merata.

Dalam sambutannya Presiden mengambil sedikit contoh dari kegiatan pembangunan Indonesia yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, misalnya di sektor kehutanan, kita dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi tadi. Kita menyaksikan, bagaimana soal penetapan tapal batas usaha, masih saja belum pas dengan kegiatan pemetaan tanah. Juga sering mendengar, betapa soal status hukum dari hak yang ditimbulkan, ternyata benturan dengan hak-hak adat masyarakat setempat.

Kita juga menyaksikan selama bertahun-tahun, betapa yang namanya kewajiban penghutanan kembali suatu bekas wilayah usaha, ternyata banyak yang tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Dengan sektor-sektor lain seperti usaha pertambangan, perkebunan, pertanian, pengairan, atau pembangunan infrastruktur perhubungan, benturan masih selalu terjadi. Setiap sektor membentengi diri dari sektor lainnya, seakan tidak mengganggu sedikitpun.

Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian dan pengawetan alam berikut kekayaan dan ragam sumber daya yang terdapat didalam atau diatasnya juga harus diakui, kita belumlah sepenuhnya melakukan segala sesuatunya dengan benar dan aman. “Saya sering menerima laporan, betapa banyak sumberdaya genetika atau plasma nutfah yang hancur atau hilang, atau belakangan kita ketahui telah berada dibawah penguasaan pihak lain. Lingkungan hidup kita juga menderita karena timbulnya kebakaran hutan, banjir, longsor atau berubahnya pola iklim dan lain-lain bencana.”

Contoh-contoh tersebut menurut presiden menunjukkan, betapa kekurangmampuan kita dalam mewujudkan koordinasi, dan miskinnya keterpaduan dalam program dan kegiatan di berbagai sektor, telah menimbulkan hambatan terhadap proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan menjadi tersendat, dan bagaikan berjalan sepotong-potong tanpa rangkaian. Gambaran tentang kesinambungan program yang satu dan yang berikutnya, masih sulit diperoleh. Dalam konteks hasil dan harapan untuk segera menggapai tujuan pembangunan itupun, kita sendiri juga mengalami kesulitan untuk memahaminya. Untuk jelasnya, keinginan kita untuk melaksanakan pembangunan sekarang demi kelangsungan hidup dan kemakmuran bangsa ini, generasi mendatang, dan kesinambungan kemanusiaan kita terasa masih begitu jauh.

“Saya memahami, saat ini saya berada di tengah para tokoh, dan saya yakin banyak pula para ahli lingkungan. Namun demikian, sekali lagi, saya sangat berharap kita semua dapat memiliki pemahaman dan cara pandang yang sama dalam masalah pembangunan berkelanjutan ini. Secara khusus, sudah barang tentu juga dalam kaitannya dengan soal lingkungan itu sendiri, saya mengajak, marilah kita bangun pemahaman dan cara pandang yang sama tersebut.”

Presiden mengajak agar menghindarkan cara pandang yang berkotak-kotak, dimana setiap dari kita hanya memikirkan sektor masing-masing. Pembangunan berkelanjutan menyangkut spektrum yang luas, dan mengandung pengertian yang komprehensif, ia menuntut keterpaduan perencanaan, program dan kegiatan antar sektor. Kadangkala, ia juga menuntut pengorbanan, walau tidak banyak, dari sektor yang lain. Pada saat sama, ia juga menampilkan dorongan dan dukungan satu sektor terhadap lainnya.

Dalam hubungan ini pula, beberapa waktu yang lalu tentang perlunya kemungkinan strategi baru dalam pembangunan Indonesia. Dalam salah satu kesempatan, terutama menjelang berlangsungnya konferensi dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan tahun 2002 ini, Presiden juga minta para menteri untuk dapat menyusun konsep yang menggambarkan keterpaduan antar sektor tadi. “Saya minta, agar kehadiran dan keikutsertaan kita dalam konferensi itu nantinya dapat memiliki arti yang lebih substansif, dan secara konkrit menghasilkan dukungan terhadap segala upaya pembangunan nasional kita.”

Presiden juga berharap kita masih memiliki semangat dan kekuatan yang cukup untuk mewujudkan itu semua. Saya yakin, yang kita hadapi bukanlah kurangnya sumber daya manusia. Kita sesungguhnya memiliki banyak ahli. Yang kita perlukan, hanyalah kesepahaman dan keamanan untuk berkoordinasi dan menerpadukan rencana, program, dan kegiatan sektor-sektor itu.

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
Sex izle Film izle Hd Film izle Seo Danışmanı