Kementerian Lingkungan Hidup

Republik Indonesia

Kementerian Lingkungan Hidup – Kupang, 24 Nopember 2012. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA memberikan Kuliah Umum di depan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Rektor, Civitas  dan mayoritas Mahasiswa Universitas Nusa Cendana.  Besoknya pada hari minggunya tanggal 25 November 2012 Menteri mengadakaan kebaktian terhadap Jemaat GMIT di Kupang. kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 800 orang jemaat. Selain ceramah lingkungan Menteri juga menanam pohon disekitar gereja GMIT Kupang.

Berikut ini Petikan Kuliah Umum MeNLH di Kampus Universitas Nusa Cendana;
Hadirin yang saya hormati,

Di tengah krisis ekonomi global yang melanda dunia pada saat ini, Indonesia diharapkan tetap mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya yang positif dalam rangka mensejahterakan masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Namun demikian, bukan hanya pertumbuhan ekonomi semata yang menjadi tujuan pembangunan Indonesia, selain pertumbuhan yang berkualitas, Indonesia juga memerlukan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan sejatinya dicapai dengan meminimalkan degradasi lingkungan dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas ekonomi. Dampak dari pembangunan ekonomi terhadap lingkungan selama ini sudah terlihat dari beberapa indikator degradasi lingkungan baik pada air, udara, lahan dan hutan, pesisir dan lautan serta keanekaragaman hayati.

Hadirin yang saya hormati,

Berbicara mengenai lingkungan hidup, maka tidak terlepas dari bumi beserta isinya, seperti halnya manusia, hewan maupun tumbuhan. Namun tidak terbatas pula pada makhluk hidup, karena dalam lingkungan hidup terdapat segala macam “benda” lainnya, seperti air, tanah, ataupun sumber energi, yang kesemuanya merupakan satu kesatuan.

Jika kita melihat pada 1 (satu) saja masalah lingkungan hidup yaitu disektor kehutanan,  maka akan banyak problematika yang ditemukan. Permasalahan deforestasi (penggundulan) hutan, seperti penebangan liar (illegal logging) memiliki dampak sangat mengerikan. Dapat mengakibatkan erosi lahan, terancamnya berbagai aneka satwa didalamnya, hingga mengakibatkan global warming atau pemanasan global. Bahkan jika tidak dihentikan, tidak menutup kemungkinan dapat menghilangkan hutan di masa depan dan menyisakan kenangan. Menurut data Kementerian Kehutanan, pada tahun 2009, luas kawasan hutan Indonesia mencapai 138 juta hektare. Dengan laju deforestasi hutan pada periode 2005-2009 mencapai 5,4 juta hektare, yang secara finansial juga menyebabkan timbulnya kerugian.

Para hadirin yang berbahagia,

Dampak dari perubahan iklim tersebut saat ini dan mendatang dapat menjadi ancaman serius bagi kehidupan kita semua terutama bagi negara pantai. Di lain pihak juga sangat berpengaruh pada sektor pertanian. Karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi melalui pengendalian berbagai aktivitas yang dapat menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang ditargetkan sebesar 26 % di tahun 2020. Sedangkan adaptasi dilakukan antara lain melalui upaya kita untuk menyesuaikan dengan pola perubahan yang terjadi.

Salah satu dampak dari perubahan iklim berupa naiknya suhu permukaan bumi yang berakibat pada terjadinya kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu, dengan terus berkurangnya tutupan lahan, padatnya kegiatan pembangunan dan penduduk semakin memberikan tekanan terhadap lingkungan hidup yang pada akhirnya menimbulkan masalah semakin tingginya tingkat kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Hadirin yang saya hormati,

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan terdiri dari beberapa pulau besar dan pulau kecil, komoditas terbatas serta dipengaruhi oleh iklim, yang dapat berakibat terjadi isolasi fisik, isolasi ekonomi, isolasi sosial,  kemiskinan, bencana alam, kelaparan dan rentan serangan hama dan penyakit.

Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah penduduk 4.448.873 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduknya 1,79% pertahun dan kepadatan penduduk 93,96 jiwa per km2, mempunyai isu lingkungan hidup :

  • Meningkatnya Permukiman dan kegiatan Budidaya di  Kawasan Hutan Lindung dan Kawasan Lindung (Kawasan sekitar Gunung berapi, Daerah dengan bahaya bencana longsor, land slide)
  • Kebiasaan tebas bakar  dan Perladangan berpindah pindah – di kawasan savanna dan padang, sehingga menghambat pertumbuhan  tanaman
  • Pengurangan dan penurunan sumber air dan mengeringnya mata air.
  • Kerusakan kawasan pesisir dan laut
  • Kerusakan lahan akibat kegiatan pertambangan
  • Konflik hak kelola dan hak hukum sumber-sumber air dan Kawasan Lindung .
  • Eksisting ruang/tata ruang yang belum berorientasi prinsip-tata ruang

Data sampai tahun 2009 menunjukan bahwa dari total 4,5 juta ha luas lahan NTT, sekitar 3,5 juta ha adalah lahan kritis yang menandakan buruknya kualitas lingkungan yang berdampak pada rendahnya produktivitas pertanian dan rendahnya persentase masyarakat yang dapat mengakses air bersih.

Kerusakan sumberdaya alam di NTT sebagian terbesar bersifat antropogenik, terutama karena diteruskannya pola-pola penggunaan lahan secara tradisional tanpa menyadari bahwa rasio penduduk dan lahan meningkat. Pola-pola rehabilitasi lahan yang dilaksanakan pemerintah kurang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Data kehutanan NTT (2006) menunjukan bahwa laju kerusakan hutan di NTT sekitar 15.000 ha pertahun sedangkan kemampuan pemerintah untuk merehabilitasi hanya sekitar 3.000 ha pertahun. Untuk itu perlu perhatian yang sunguh-sungguh semua pihak dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Hadirin yang saya hormati,

Untuk Provinsi NTT, jika dilihat berdasarkan indeks kualitas lingkungan hidup Indonesia, telah mengalami penurunan. Indeks kualitas lingkungan hidup ini dinilai berdasarkan kualitas air, udara dan tutupan lahan. Semua komponen tersebut dibandingkan dengan standar baku mutu yang telah ditetapkan. Indeks kualitas lingkungan hidup Provinsi NTT pada tahun 2009 menduduki rangking 16 dengan nilai sebesar 66,61 sedangkan pada tahun 2010 turun menjadi 50,72 dan menduduki rangking 24 di Indonesia.
Mengingat Provinsi NTT merupakan daerah kepulauan maka program pengelolaan lingkungan hidup sebaiknya dilaksanakan dengan pendekatan kepulauan daripada pendekatan secara parsial dan wilayah administratif. Pendekatan tersebut harus memperhatikan kesamaan karakteristik sumber daya alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan lokal. Pendekatan tersebut disebut juga dengan pendekatan ekoregion. Dengan melaksanakan pendekatan kepulauan berbasis ekoregion, maka pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan karakteristik, potensi dan permasalahan pulau tersebut.
Hadirin yang saya hormati,

Dengan berubahnya pilar pembangunan Indonesia dari pro jobs, pro poor, pro growth  menjadi pro jobs, pro poor, pro growth, dan pro environment, adalah sangat penting dan relevan untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup dalam dimensi ruang dan waktu terkait dengan pembangunan di Indonesia. Namun kegiatan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata tanpa memperhatikan aspek pelestarian fungsi lingkungan, telah mengakibatkan timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Menyadari akan tekanan pembangunan yang dihadapi Indonesia dan juga berbagai negara lain di dunia, saat ini terjadi perubahan paradigma yang ditatanan global untuk mengoreksi pertumbuhan ekonomi tersebut dengan mewacanakan “ekonomi hijau”. Saat ini perubahan paradigma ekonomi hijau juga telah direspon oleh Indonesia melalui berbagai inisiatif dan aturan perundang-undangan. Dengan diundangkannya  Undang-undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah memberikan ruang yang cukup banyak untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui instrumen ekonomi lingkungan. Selain itu UU No.32 Tahun 2009 juga memberikan mandat dalam melakukan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan aspek perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.

Beberapa inisiatif lingkungan berbasis pasar seperti pembayaran jasa lingkungan, produksi bersih dan sejenisnya merupakan beberapa langkah yang telah, sedang dan akan terus diupayakan oleh Indonesia sebagai komitmen untuk menuju ekonomi hijau. Secara nasional Indonesia juga berkomitmen mengejar pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Komitmen ini tentu saja membutuhkan dukungan kebijakan lingkungan yang konsisten dan kontinyu sehingga target ekonomi hijau tersebut dapat dicapai tanpa harus mengorbankan lingkungan.

Hadirin yang saya hormati,

Kita juga bisa melihat lingkungan diperkotaan dimana selain dipengaruhi oleh ledakan penduduk juga oleh alihfungsi peruntukan lahan menjadi bangunan yang mengakibatkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan. Akibatnya setiap musim hujan datang, banjirpun tak dapat terelakkan. Sementara ilmu dan teknologi telah merubah gaya hidup manusia, perilaku yang mengabaikan kaidah-kaidah ekologis sehingga perlu disadarkan dan  dituntut untuk  menjadi gerakan bersama dalam mendorong berperilaku ramah lingkungan sehingga Green Lifestyle akan menjadi trend.  Jadi harapan kita semua terhadap para civitas akademis agar disetiap aktifitas kemahasiswaannya untuk dapat menginternalisasikan nilai-nilai ekologis untuk menjadi bagian dari proses kegiatan kemahasiswaan agar keberlanjutan lingkungan bisa terus dijaga.

Sebagai civitas akademis yang memiliki semangat belajar dan rasa ingin tahu yang besar, idealnya ia memiliki kepekaan terhadap kelestarian lingkungan, sehingga timbul kepedulian untuk menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan seputar lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi potensi yang dimiliki untuk mengimplementasikannya ke dalam suatu tindakan ataupun gerakan.

Gerakan tersebut bertujuan untuk melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik terkait dengan kondisi lingkungan hidup saat ini yang tengah berada pada titik nadir yang memprihatinkan.

Hadirin yang saya hormati,

Lingkungan hidup, milik semua generasi dan jika pada hari ini kita semua menginginkan keberlanjutan generasi ke generasi maka marilah kita sepakat untuk, melindungi, mencegah dan memelihara lingkungan kita dengan memulai dari diri kita, rumah kita, kampus kita dan seterusnya. Pemerintah perlu mendorong program yang pro rakyat sedangkan pengusaha perlu memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien serta masyarakat perlu  meningkatkan kesadaran dan kepeduliannya terhadap masalah lingkungan dengan melakukan berbagai kegiatan sederhana seperti,  upaya tanam dan pelihara pohon, penggunaan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), hemat penggunaan energi serta mencari alternatif moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam pasal 67 UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”.

Diharapkan semuanya akan menjadi gerakan bersama dan kedepannya kampus sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran strategis di masyarakat dapat menjadi pelopor dalam perubahan masyarakat kearah “Green lifestyle”, dengan mewujudkan  Universitas Nusa Cendana menjadi Green Campus. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para civitas akademis adalah  sebagai berikut:
1.    Membangun Gerakan Moral dalam meningkatkan kepedulian lingkungan
2.    Mendorong aliansi strategis pemuda dalam melakukan pengawasan, pencegahan terhadap kerusakan lingkungan.
3.    Membangun kemitraan para pihak dalam melakukan konsolidasi kekuatan sebagai agent of sosial change
4.    Melakukan gerakan aksi untuk lingkungan hidup (GAUL)

Hadirin yang saya hormati,

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, Kementerian Lingkungan Hidup telah meluncurkan program dan kegiatan yaitu program Adipura, Adiwiyata, Kalpataru, Keanekaragaman Hayati, Menuju Indonesia Hijau, Pantai Laut Lestari, Pengelolaan B3, Penegakan Hukum Lingkungan, PROPER dan Perlindungan Lapisan Ozon.

Sejak tahun 2006, sejalan dengan pelaksanaan desentralisasi dan dekonsentrasi, maka Kementerian Lingkungan Hidup telah menetapkan kebijakan pengalokasian dana dekonsentrasi kepada pemerintah Provinsi dan Dana Alokasi Khusus kepada pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka meningkatkan kinerja perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan program yang sinergis dan harmonis antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sehingga akan menghasilkan output yang konkrit dan terfokus sesuai sasaran.

Hadirin yang saya hormati,

Bagi civitas akademika, dengan melakukan aktifitas pelestarian lingkungan hidup artinya kita telah melakukan perubahan karena melakukan aktifitas diluar dari tugas akademik sebagai mahasiswa. Selanjutnya melestarikan lingkungan juga dapat menjaga keutuhan bangsa dari intervensi negara lain yang disebabkan oleh rentannya konflik sosial didalam permasalahan lingkungan hidup karena menyangkut tidak terlindunginya sumberdaya alam secara baik dan ramah lingkungan.

Akhirnya saya sampaikan apresiasi kepada pihak Universitas Nusa Cendana yang memberikan perhatiannya terhadap permasalahan lingkungan, mudah-mudahan kedepan anak-anak kita ini menjadi bagian dari perubahan dalam melestarikan lingkungan hidup sehingga dapat menjamin ketahanan dan keutuhan bangsa kita dari berbagai konflik sumberdaya alam.

Sekian dan terimakasih.

Menteri Negara Lingkungan Hidup
Republik Indonesia,

Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA