KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Beliau berasal dari Dusun Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Dengan masyarakatnya mereka berhasil menyelamatkan lingkungan.

Sejarah terbentuknya kelompok masyarakat adat Kutasari dimulai dengan datangnya Prabu Ajar Sukaresi yang ingin mencari daerah untuk dijadikan pusat pemerintahan pada zaman Kerajaan Galuh. Keinginan untuk mendirikan pusat pemerintah di daerah Kuta dibatalkan karena kondisi daerah yang dikelilingi bukit dan dibatasi tebing. Kemudian utusan dari Raja Cirebon yaitu Raksabumi atau Ki Bumi ditugaskan untuk melestarikan dan menjaga keutuhan daerah Kuta sebagai peninggal Prabu Ajar Sukaresi tersebut. Raksabumi menjadi pemimpin, penjaga dan penghuni Kampung Kuta sampai akhir hayatnya.

Peninggalan dari Prabu Ajar Sukaresi tersebut Masyarakat Adat Kutasari berupa tempat di hutan keramat, yang dilihat dari namanya merupakan persiapan pembangunan permukiman, seperti pandai domas (pandai besi tempat pembuatan peralatan), gunung semen (tempat menyimpan semen) dan gunung apu.

Masyarakat Kampung Kuta, yang kemudian dikenal dengan Kelompok Masyarakat Adat Kutasari dipimpin oleh seorang Ketua Adat (saat ini dipimpin oleh Karman) yang dipilih melalui musyawarah adat. Masyarakat adat ini mempercayai bahwa peninggalanpeninggalan dari Prabu Ajar Sukaresi tersebut disimpan di hutan keramat dan dijaga oleh makhluk gaib yang bernama Bima Raksa Kalijaga, Sang Mentil, Kyai Bima Raksanagara dan Prabu Mangkurat Jagat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat sangat patuh untuk menjaga hutan keramat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai sekarang masyarakat adat Kutasari tidak pernah mengganggu dan merusak kelestarian hutan keramat (hutan lindung) seluas 40 ha. Sehingga kelestarian dan keutuhan hutan lindung itu tetap terpelihara dengan baik.

Warga masyarakat Adat Kutasari dilarang untuk mengambil kayu, ranting, tanaman dan binatang (kera, burung, biawak, kalong) dari hutan keramat (hutan lindung). Keasrian lingkungan permukiman Kutasari terjaga meskipun ada pohon yang tumbang. Pohon yang telah tumbang dibiarkan menyatu dengan tanah, sedangkan kayu bakar untuk keutuuhan memasak diambil dari kayu dan ranting-ranting pohon di ladang/kebun mereka, hal inilah yang menyebabkan kelestarian hutan keramat/hutan lindung terus terpelihara.

Karena hutan dianggap keramat maka masyarakat melakukan ziarah ke hutan keramat dengan ditemani/dipandu oleh Kuncen (juru kunci/pemandu hutan lindung yang telah mendapat pengakuan), untuk meminta keselamatan, keharmonisan rumah tangga, enteng jodoh, pandai di sekolah dan ketentraman hidup tetapi masyarakat dilarang/tabu melakukan ziarah dengan niat yang “tidak baik”. Ziarah ke hutan keramat hanya boleh dilakukan pada Upacara Nyugah dipimpin kuncen hari Senin dan Jumat.
Untuk menjaga hutan keramat, setiap bulannya pada hari Jum’at Kliwon dilakukan gotong-royong membersihkan hutan.

Untuk menjaga adat istiadat tetap dihormati, diingat, dilaksanakan dan dipatuhi, Masyarakat Kelompok Adat Kutasari melakukan pertemuan sekali daiam tiga bulan. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengingat masyarakat akan nilai-nilai, norma-norma dan larangan-larangan adat (tabu/pamali) yang mesti dipatuhi dan dilaksanakan, sehingga adat istiadat tetap dapat dipertahankan.

Masyarakat juga melakukan upacara adat yang disebut upacara adat Nyugah yang diadakan sekali daiam satu tahun pada setiap bulan Syafar dengan memberikan persembahan (sesajen). Upacara dipimpin oleh kuncen (kunci) yang mempunyai tugas memelihara Kuta dan dijabat secara turun temurun dari keturunan Ki Bumi anak pertama yang laki-laki. Upacara ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih pada Tuhan dan Arwah leluhur yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi (pohon aren, panen padi, kelapa, pisang, ikan dan lain-lain), ketenteraman, kesehatan, keselamatan, perlindungan, serta memohon tetap diberikan rezeki dimasa-masa yang akan datang.

Sesajen yang diberikan berupa makanan yang terbuat dari hasil bumi yang telah dipanen (ketupat, nasi kuning, kelapa, bubur, gula aren, pisang, minuman, dll), yang dibuat secara gotong-royong oleh semua anggota masyarakat adat Kutasari.
Upacara juga dilakukan pada saat pembuatan rumah adat. Masyarakat adat Kutasari tetap menjaga kelestarian rumah adat mereka. Rumah adat yang dibangun harus berukuran 10 m x 6 m dan terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai papan kayu, atap ijuk dan rumbia. Setiap warga masyarakat dilarang/tabu membuat/ membangun rumah adat dari semen. Hal ini dimaksudkan di samping mematuhi adat istiadat leluhur juga karena kondisi tanah di daerahnya ini yang sangat labil sehingga tidak memungkinkan untuk membuat pondasi rumah. Pembangunan rumah dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Ukuran dan bentuk rumah yang telah ditetapkan ini menunjukan pola hidup yang sederhana dan azas keadilan daiam pemanfaatan lahan untuk pemukiman.

Bangunan rumah adat masyarakat Kutasari ini sangat asri, sederhana, dan tidak memerlukan biaya yang tinggi karena bahan-bahan yang digunakan semuanya dapat diambil dari alam.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan Dusun Kuta, kelompok masyarakat adat Kuta Sari melakukan gotong royong membersihkan lingkungan dusun dua kali daiam satu minggu pada hari Selasa dan Sabtu. Semangat gotong royong menimbulkan rasa kebersamaan, persaudaraan dan rasa tolong menolong yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia.

Sumber air bersih kelompok masyarakat adat Kutasari berasal dari 4 (empat) sumber mata air, yaitu Cibanguara, Ciasihan, Cinangka dan Cipanyipuhan, yang dialirkan dengan selang plastik dan bambu ke tempat pemandian umum. Pemandian umum dan jamban terletak di atas kolam ikan sehingga rantai kehidupan berjalan baik.
Masyarakat hanya memanfaatkan sumber mata air ini untuk semua kebutuhan hidup sehari-hari dan dilarang untuk menggali sumur sendiri. Pelarangan penggalian sumur ini untuk menjaga kondisi air bawah tanah agar selalu baik, bersih dan untuk menjaga tanah yang kondisinya sangat labil. Untuk menjaga kesucian tanah pulalah maka dilarang/tabu melakukan penguburan jenazah di Dusun ini. Untuk penguburan jenazah dilakukan di pemakaman umum Dusun Cibodas, sama seperti Ki Bumi yang juga dikuburkan disana, sehingga air tanah Dusun Kuta tidak terkontaminasi dengan zat-zat berbahaya dari jenazah.

Masyarakat Dusun Kuta melestarikan/melakukan budidaya pohon aren dan ini merupakan mata pencaharian utama kelompok masyarakat adat Kutasari. Setiap Kepala Keluarga menghasilkan 2,5 kg per hari dan Dusun Kuta merupakan salah satu penghasil gula aren terbesar di Kabupaten Ciamis. Keberhasilan Dusun Kuta daiam melestarikan pohon aren ini menimbulkan keinginan dan membangkitkan semangat masyarakat sekitarnya (Dusun Cibodas, Dusun Margamulya dan Dusun Ciloa) untuk melakukan penanaman pohon aren dimana bibit pohon arennya diambil dari Dusun Kuta.

Pelestarian budaya juga dilakukan untuk bidang kesenian daerah. Kesenian daerah berupa Tembang, Gondang dan Tayub masih tetap dipertahankan dan diwariskan pada generasi penerus (generasi muda) agar tetap bertahan. Promosi dalam rangka pengembangan kesenian ini dilakukan pada saat penyambutan tamu, oleh Dinas Pariwisata setempat.

Upaya, kerja keras dan semangat Kelompok Masyarakat Adat Kutasari ini menunjukkan bahwa sistem pengetahuan lokal dengan penerapan nilai-nilai adat tradisional mereka telah memfungsi melindungi lingkungan alam.