KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup menargetkan 20 persen titik api (hot spot) dapat berkurang tiap tahun, “MenjeLang kemarau tahun ini, kami sudah mengumpulkan pejabat daerah dan provinsi-provinsi yang rawan kebakaran hutan,” ujar Menteri Lingkungan Gusti M. Hatta dalam keterangan persnya di Jakarta kemarin.
Pejabat mulai bupati, gubernur, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tersebut dikumpulkan di Jakarta pekan lalu. Tujuannya, menemukan kesepakatan dalam mengantisipasi meningkatnya titik api menjelang musim kemarau sebagai antisipasi kebakaran hutan. “Ada enam provinsi yang berpotensi menjadi pengekspor asap tiap tahunnya,” ujar Gusti. Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari hasil pertemuan itu, Gusti mencontohkan, terungkap bahwa Kalimantan Tengah ternyata punya program pengendalian kebakaran hutan melalui peraturan daerah. “Perda (peraturan daerah) larangan pembakaran untuk membuka hutan di Kalimantan Tengah ternyata mampu menurunkan 65 persen titik api.” ujarnya.
Gusti mengakui, larangan pembakaran hutan untuk membuka lahan dikeluhkan oleh masyarakat “Mereka jadi menambah ongkos untuk menyewa alat atau tenaga manusia. Akibatnya, pendapatan berkurang,” ujarnya.
Namun ditemukan pula ulah perusahaan yang memanfaatkan warga untuk membuka lahan dengan cara membakar. Menurut dia, perusahaan berpandangan sanksi yang dikenakan ke masyarakat jauh lebih ringan ketimbang sanksi untuk perusahaan. Dianning Sari

Sumber :
Koran tempo
Kamis, 01 Arril 2010
Halaman A7