KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 23 Desember 2014. Indonesia menduduki posisi penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia, karena termasuk dalam sepuluh negara yang kekayaan keanekaragaman hayatinya tertinggi, atau dikenal sebagai salah satu megadiversitycountry. Kekayaan ini merupakan modal dasar bagi pembangunan karena sangat berpotensi menjadi gudang pangan dunia, sumber bahan baku obat, tujuan wisata dan paru-paru bagi dunia. Dengan demikian Kehati adalah aset bagi pembangunan dan kemakmuran bangsa yang dapat tercapai melalui pengelolaan yang baik guna menunjang pembangunan berkelanjutan.

Untuk mewujudkan pengelolaan keanekaragaman hayati yang baik diperlukan strategi dan rencana aksi pengelolaan keanekaragaman hayati yang komprehensif, efektif dan partisipatif. Pemerintah Indonesia, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), telah menyusun Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati untuk Indonesia atau Biodiversity Action Plan for Indonesia (BAPI) pada 1993 yang diperbaharui menjadi Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) pada tahun 2003.

Hampir sepuluh tahun berlalu sejak IBSAP 2003 diterbitkan 2003 diterbitkan sebagai panduan untuk pengelolaan keanekaragaman hayati secara lestari. Namun, ditinjau dari data yang ada, laju penyusutan keanekaragaman hayati selama dekade terakhir ini semakin mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan selain IBSAP 2003 tidak berjalan secara efektif, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi pengelolaan keanekaragaman hayati. Faktor-faktor tersebut diantaranya pentingnya integrasi target dan program IBSAP ke dalam perencanaan pembangunan, identifikasi sumber-sumber pendanaan untuk pelaksanaan IBSAP, kajian terhadap nilai ekonomi hayati, belum adanya mekanisme kelembagaan yang jelas untuk memonitor dan mengevaluasi keberhasilan program-program kehati. Selain itu saat ini berkembang isu-isu lingkungan terkini seperti dampak perubahan iklim terhadap kehati dan kesepakatan COP CBD ke 10 di Nagoya yaitu pencapaian Aichi Targets. Oleh karena itu, dilakukan pembaharuan Strategi dan Rencana Aksi keanekaragaman Hayati Kementerian Perencanaan Pembangunan / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (KemenPPN/BAPPENAS) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penyusunan Update IBSAP tidak serta merta di mulai dari awal, namun dilandasi dengan evaluasi terhadap implementasi IBSAP 2003 dan kegiatan lain yang terkait dengan keanekaragaman hayati.

Hasil pelaksanaan Update IBSAP ini adalah (i) pembaharuan data dan informasi mengenai status kekinian Indonesia; (ii) teridentifikasinya program dan rencana aksi untuk pencapaian target nasional dan global (Aichi Target); (iii) tersusunnya kajian untuk mengidentifikasi kontribusi keekonomian kehati, sumber-sumber pendanaan, dan strategi pengarusutamaan kehati ke dalam perencanaan pembangunan; (iv) mengidentifikasi tantangan pengelolaan kehati; dan (v) mengidentifikasi kebutuhan pendukung pelaksanaan program dan rencana aksi seperti kelembagaan, peningkatan kapasitas, mekanisme pertukaran data dan informasi serta mekanisme monitoring dan evaluasi.

Dengan telah dilaksanakannya updatenya IBSAP ini, Indonesia telah melaksanakan komitmen global untuk melakukan pelestarian keanekaragaman hayati melalui pengelolaan keanekaragaman hayati secara terpadu dan dokumen IBSAP akan dijadikan acuan bagi pengelolaan keanekaragaman hayati semua pihak terkait.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Ir. Arief Yuwono MA, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH, telp/fax: 021-85904923, email: humaslh@gmaill.com