KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

BOGOR- Kualitas air Sungai Ciliwung saat ini menurun, karena kondisinya yang telah tercemar berat pada seluruh segmennya, mulai dari hulu (daerah Puncak, Kab. Bogor) sampai dengan hilir (di DKI Jakarta). Begitu juga fluktuasi debit air sungai antara musim kemarau dan musim hujan cukup tinggi, sehingga terjadi banjir rutin di hilir atau di DKI Jakarta. Permasalahan utama yang terjadi di Sungai Ciliwung ada 2 hal, yaitu Daerah konservasi yang semakin berkurang, dan beban pencemaran yang tinggi, baik dari limbah domestik maupun industri.

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas air pada Tahun 2008, diketahui bahwa kondisi mutu air saat ini (existing) Sungai Ciliwung di daerah hulu (Segmen-1, Kabupaten Bogor) termasuk Kelas IV dengan kondisi status mutu: D (cemar berat). Kemudian untuk ruas sungai di Kota Bogor sampai Kota Depok (Segmen-2 s/d Segmen-4) juga termasuk Kelas IV dengan kondisi status mutu: D (cemar berat). Sedangkan untuk ruas Sungai Ciliwung yang masuk ke wilayah DKI Jakarta sudah tidak termasuk ke dalam kelas air (no class) dengan kondisi status mutu: E (cemar sangat berat). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya air Sungai Ciliwung sudah tidak layak dikonsumsi oleh manusia, dengan berbagai kondisi seperti tersebut di atas.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof. Rachmat Witoelar bersama Menteri Pekerjaan Umum Ir. Joko Kirmanto, Dipl. HE, Menteri Pertanian Prof. Dr. Anton Apriyantono Ms, Menteri Kehutanan MS Kaban, SE, Ms, wakil Gubernur Jawa Barat dan wakil Bupati Kabupaten Bogor, mengunjungi lingkungan DAS Ciliwung di Desa Sukatani Kecamatan Cisarua-Bogor (2/3). Pada kegiatan pemulihan Kualitas Lingkungan DAS Ciliwung secara Terpadu.

Kegiatan ini sebagai upaya perbaikan lingkungan DAS Ciliwung secara terpadu yang telah disepakati sejak 1 Desember 2005 lalu, yaitu tentang kesepakatan Penyusunan Master Plan (Rencana Umum) Pemulihan Kualitas Lingkungan DAS Ciliwung pada rapat koordinasi dengan Menteri Kehutanan dan para pejabat eselon I Departemen terkait.

Hasil kesepakatan tersebut ditindaklanjuti dengan pembuatan demplot oleh Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian dan Departemen Pekerjaan Umum untuk memulihkan kualitas lingkungan DAS Ciliwung di Hulu Sungai Ciliwung. Kegiatan pemulihan kualitas lingkungan di DAS Ciliwung ini juga di dorong dengan adanya kegiatan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) yang dicanangkan oleh Bapak Presiden pada tanggal 28 April 2006, disamping juga telah dimulai pula dengan Gerakan Nasional Rehabilitas Hutan dan Lahan (GNRHL).

Menurut Rachmat, upaya yang telah dilakukan sektor dan daerah dalam perbaikan kualitas lingkungan DAS Ciliwung, antara lain adalah penanaman pohon, pembuatan WC dan Septiktank komunal, pembuatan sediment trap/jebakan sediment dengan menggunakan tanaman hidup (bio-engineering), sumur resapan maupun pembuatan Lubang Resapan Biopori yang semuanya dilakukan oleh masyarakat.

Peran Kementerian Negara Lingkungan Hidup

KNLH merupakan instansi yang mempunyai fungsi mengkoordinasikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebjiaksanaan nasional dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan amant UU Nomor 23 Tahun 1997 Pasal 9 ayat (2). Untuk melaksanakan fungsi tersebut, KNLH telah melakukan koordinasi baik di Pusat maupun dengan Pemerintah Daerah untuk mensinergikan program pemulihan kerusakan lingkungan dan pengendalian pencemaran air Sungai Ciliwung. Koordinasi tersebut diselenggarakan melalui pendekatan pengelolaan kualitas air yang dituangkan dalam satu masterplan yang menjabarkan tahapan kegiatan dan penanggung jawab kegiatan, dengan sasaran dan waktu yang jelas.

Beberapa program kerja yang sudah dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka peningkatan konservasi sumberdaya air dan lahan antara lain dengan pembuatan sumur resapan, lubang resapan biopori, sediment trap, penanaman pohon di sekitar cathment area, dll.
 

Sumber:
Deputi III