KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 18 Desember 2013 – Hari ini Menteri Lingkungan Hidup melakukan Kunjungan KerjaKe Lokasi Pemulihan Lahan Terkontaminasi Timbal (Pb) di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea,Kabupaten Bogor. Timbal (Pb) merupakan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusiadan lingkungan hidup. Walaupun bensin bertimbal telah dihapuskan sejak 1 Juli 2006 diIndonesia, namun pencemaran Timbal (Pb) masih mengancam kesehatan masyarakat diIndonesia salah satunya diakibatkan oleh emisi Timbal yang berasal dari industri peleburan akibekas. Hingga tahun 2012 di Jabodetabek telah teridentifikasi 71 lokasi lahan tercemar Timbalakibat kegiatan daur ulang aki bekas. Salah satu lokasi lahan yang tercemar logam berat Timbaladalah Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea. Hasil penelitian menunjukkan kadar Timbal (Pb) didalam tanah mencapai 270.000 ppm (270.000 mg/Kg), sedangkan standard yang ditetapkanoleh WHO sebesar maksimal 400 ppm (400 mg/Kg), disamping itu kadar Pb di dalam darahmasyarakat disekitar lokasi sudah ada yang mencapai 65 µg/dL. Konsentrasi ini melebihi daribatas aman yang ditetapkan oleh WHO yaitu 10 µg/dL.

Sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi seperti industri yang mencemari dan rumahtangga yang menghasilkan berbagai limbah lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat.Jenis limbah yang paling berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan adalah limbah yangdikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Pencemaran limbah B3 dapatmelalui tanah, air, maupun udara. Pencemaran tersebut menyebabkan penurunan kualitaslingkungan. Salah satu limbah B3 yang harus menjadi perhatian adalah limbah-limbah yangmengandung logam berat yaitu Timbal (Pb), Merkuri (Hg), dan Arsen (As). Limbah logam beratini bersifat racun dan persisten, sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia danlingkungan hidup. Salah satu dampak yang signifikan bagi kesehatan manusia adalah penurunanIQ terutama bagi anak –anak dan balita, merusak produksi haemoglobin darah, menyebabkanketidaksuburan bagi wanita/ pria, keguguran, dan bayi meninggal dalam kandungan.

Salah satu kegiatan yang harus segera dilakukan adalah menghentikan kegiatan peleburanTimbal dari aki bekas yang dilakukan secara illegal untuk mencegah peningkatan pencemaranTimbal. Kita harus segera melakukan pemulihan lahan-lahan yang terkontaminasi Timbal baik dilokasi yang tidak bertuan (abandoned lands) maupun di lokasi lain untuk menghentikan dampakpencemaran Timbal terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Berkaitan dengan upaya pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 maka penanggungjawabusaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 yangdiakibatkan dari usaha dan/atau kegiatannya. Akan tetapi, bagi usaha dan/atau kegiatan yangtidak jelas penanggung jawabnya maka pemerintah daerah berkewajiban melakukanpengawasan dan menghentikan kegiatan illegal yang dapat membahayakan kesehatan manusiadan lingkungan hidup.

Pada kunjungan kerja hari ini, Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya,MBA mengatakan “kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama dapat menghentikansumber pencemar, mengurangi resiko dengan penerapan prosedur peleburan yang benar danikut berperan dalam pelaksanaan pemulihan lahan terkontaminasi. Kami mendorong industriprodusen aki untuk ikut andil memantau peredaran aki sampai habis pakai di masyarakat melaluiprogram Extended Producer Respontibility (EPR) yaitu membeli kembali aki bekas atau menukardengan aki baru dengan potongan harga. Sementara bagi industri peleburan aki bekas danasosiasinya untuk bekerja lebih keras agar tidak mencemari lingkungan”.

Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi upaya pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3(Timbal/Pb) di Desa Cinangka yang telah melalui proses persiapan yang panjang. Berbagai pihaktelah dilibatkan antara lain Pemda Kabupaten Bogor dan jajarannya (BLHD, Bappeda, DTRP,Diskes), Camat Ciampea, dan LSM di bidang lingkungan, yaitu Blacksmith Institute dan KPBB(Komite Penghapusan Bensin Bertimbel). Kegiatan pemulihan ini merupakan pilot project yangdiharapkan menjadi pemicu bagi kegiatan serupa di lokasi terkontaminasi lainnya di Indonesia,terutama di lokasi yang tidak jelas penanggungjawab pencemarnya (abandoned lands)

Informasi lebih lanjut:
Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com., MPM,
Deputi IV KLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahayadan Beracun,
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah,
Kementerian LingkunganHidup,
Tlp/Fax (021) 85905637,
email: humaslh@gmail.com / www.menlh.go.id