KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

tanam.jpgAkhir-akhir ini sering terjadi banjir di kawasan pantai utara Jakarta, kalau sebelumnya kita tahu sumber penyebab banjir tersebut adalah karena intensitas hujan yang tinggi di daerah hulu seperti Cianjur, Bogor dan Depok.  Tetapi fenomena banjir di pantai utara Jakarta tersebut sudah bertambah parah karena diperkirakan pasang laut memiliki trend yang semakin tinggi.  Banyak dermaga sekarang sudah sama tingginya dengan permukaan laut sehingga sandar kapal menjadi terganggu.  Tanggul penahan air hancur diterjang gelombang sehingga air laut masuk ke daratan.  Kondisi akan menjadi tidak terkendali jika hujan di hulu dan pasang tinggi terjadi atau bertemu pada saat yang bersamaan.  Air akan sulit untuk surut sehingga genangan air akan semakin lama.

Beberapa penyebab terganggunya jalan air keluar dari genangan adalah karena faktor elevasi dan sumbatan sampah.  Jakarta adalah kawasan yang landai bahkan beberapa menyebutkan adanya land subsidence/penurunan.  Tidak diaturnya pemanfaatan air tanah mendorong pada eksploitasi iar tanah berlebihan sehingga terjadi penurunan tanah.

Penanaman pohon adalah bertujuan meningkatkan kemampuan mitigasi bumi terhadap perubahan iklim secara lokal.  Dengan menanam pohon, kapasitas penyerapan gas karbon dioksida yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang ditengarai sebagai penyebab perubahan iklim.  Selain karbon dioksida, gas rumah kaca adalah uap air, metana, nitrogen oksida dan gas lainnya, seperti ozon dan chloro fluoro carbon (CFC).

Pada hari minggu, tanggal 3 februari 2008, beberapa wadah perkumpulan bekerjasama untuk melakukan penanaman pohon di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke.  Wadah yang bekerjasama adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan Planologi Universitas Tarumanegara, Global Islamic School, Kementerian Lingkungan Hidup, Yayasan Mangrove dan Yayasan Lautkita.

Kenapa harus mangrove?  Jawabannya adalah kapasitas mangrove untuk menyerap karbon 2 kali lipat lebih besar dibanding jenis tanaman lainnya.  Sehingga penggalakan gerakan penanaman mangrove dapat membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida di udara yang akhirnya mengurangi pemanasan global.  Pada kesempatan tersebut dibagikan berbagai buku terkait dengan perubahan iklim seperti Tanya Jawab Seputar Perubahan Iklim, Rencana Aksi menghadapi perubahan Iklim, Jangan Hanya Kipas-Kipas dan  Majalah Serasi.

Gerakan penanaman pohon di Muara Angke dihadiri oleh Drs. Sudariyono (Deputi VI Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat-KLH), Ir. Wahyu Indraningsih (Asdep Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Laut-Deputi III), Dra. Wiwiek Wikoyah (Asdep Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan), DR. R. Kaswadji (Yayasan Lautkita), Ir. Nyoto Santoso (Yayasan Mangrove), Ir. Parino Rahardjo, M.Si (Pembantu Rektor III, Universitas Tarumanegara), serta dewan guru Global Islamic School.

Diharapkan kegiatan penanaman ini tidak hanya berhenti sampai disini saja, tetapi yang lebih penting adalah pasca penanaman yaitu pemeliharaan termasuk didalamnya adalah penyulaman (penggantian tanaman yang hilang dan rusak) dengan yang baru sehingga pencapaian hasil penanaman dapat maksimal.

Acara berakhir dengan berbagai bentuk kuis dan permainan yang menarik bagi peserta yang kebanyakan generasi muda, siswa SMA dan mahasiswa.

Sumber:
Agus Rusly, Asdep 3/III KLH