KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

headi.jpgTemanggung, 8 Januari 2008. Dalam rangka pemulihan kerusakan lahan, khususnya pada daerah yang beresiko longsor, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) pada Tahun 2008 mengembangkan kegiatan  rehabilitasi dan konservasi lahan yang beresiko longsor di Desa Bonjor dan Desa Sigedong, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk merehabilitasi lahan-lahan yang rusak akibat kegiatan budidaya tanaman semusim, khususnya lahan-lahan yang memiliki potensi rawan longsor yang umumnya terjadi pada lahan dengan kelerengan > 40 %, dengan mengembangkan pola penanaman yang mengikuti kaidah konservasi sehingga potensi longsor dapat dikurangi.

Masyarakat Desa Bonjor dan Desa Sigedong sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Pada umumnya jenis tanaman yang ditanam adalah tembakau pada saat musim kemarau dan jagung pada saat musim penghujan. Kondisi pola tanam dengan tanaman semusim ini menyebabkan potensi longsor sangat tinggi, sebab secara fisik lahan pertanian tersebut sebagian besar berada pada kelerengan > 40 %, dengan jenis tanah andosol yang peka erosi, serta curah hujan yang cukup tinggi yakni 3500 – 4000 mm/tahun.

Untuk melakukan pemulihan kawasan tersebut, KLH mengembangkan demplot rehabilitasi dan konservasi lahan di Desa Sigedong dan di Desa Bonjor. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman pokok: sengon (Paraserianthes falcataria) 1.155 batang, suren (Toona sureni) 500 batang, pinus (Pinus merkusii) 400 batang;  tanaman pengisi: kopi robusta (Coffea canephora) 2000 batang dan kopi arabika (Coffea arabica) 1.150 batang; tanaman pagar: lamtoro (legum) sebanyak 2200 benih yang disebar dalam larikan secara rapat mengikuti kontur dengan fungsi untuk mengikat nutrisi dan pencegah erosi. Selain itu untuk memperkuat teras ditanami tanaman rumput gajah.

heady_2_copy.jpgDiharapkan dari demplot yang dibangun tersebut dapat menjadi contoh pola tanam yang mengikuti kaedah konservasi dalam rangka mengurangi potensi bencana longsor, serta dari sisi ekonomi dapat memberikan pendapatan yang lebih baik bagi masyarakat. Dari demplot uji coba ini diharapkan pula dapat mendorong kegiatan pemulihan kerusakan lahan di lahan-lahan sekitarnya, sehingga dapat membantu upaya pemulihan kerusakan lingkungan DAS Bodri, khususnya untuk daerah tangkapan air bagian hulu Sungai Bodri.

Ket Foto:
Atas: Penyerahan Bibit Kepada Kepala Desa
Bawah: Demplot dibangun saat ditanami tanaman jagung

Sumber:
Asdep urusan Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan.
Deputi MENLH Bidang Peningkatan Konservasi SDA dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan
Jl. D.I. Pandjaitan Kav. 24 Gd. B, Lt. 4
Telp./Fax.: 021 – 85904934