KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Fenomena Pemanasan Global dan Perubahan Iklim yang terus meningkat dewasa ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia bahkan berpotensi menghancurkan ekosistem dunia dan mengancam eksistensi kehidupan manusia. Dampak perubahan iklim yang semakin memperburuk kondisi lingkungan hidup mengharuskan kita untuk merubah paradigma pembangunan yang dapat mensinergikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup secara berkelanjutan, konsep pembangunan ekonomi harus seiring dengan pelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat demi terjaminnya keberlangsungan pembangunan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Demikian antara lain disampaikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof. (Hon) Ir. Rachmat Witoelar pada pembukaan Lokakarya Peningkatan Peran Pemerintah Daerah, Calon Anggota Legislatif, Para Pempinan Pondok Pesantren, Komunitas Perempuan dan Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan pada tanggal 22 Juli 2009 di Hotel Grand Legi Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Haji (TGH) M, Zainul Majdi, MA dalam sambutannya antara lain menyampaikan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang merupakan provinsi dengan ratusan pulau kecil dan dua pulau besar diprediksi akan menerima dampak dan pengaruh yang sangat besar dari fenomena perubahan iklim dan pemanasan global tersebut, terlebih dengan kondisi lingkungannya yang terus menurun, seperti hilangnya mata air yang pada tahun 1980-an masih berjumlah 702 titik dan saat ini hanya tinggal 298 titik saja. Oleh karena itulah dalam mengantisifasi semakin meningkat dan meluasnya dampak kerusakan lingkungan hidup, pelibatan 4 pilar yakni : Pemerintah Daerah, Anggota Legislatif, Pondok Pesantren dan kalangan Perempuan memiliki peran yang sangat penting dan strategis untuk melakukan upaya-upaya preventif. Begitu juga dengan Pencanangan Program Eco-Pesantren di Provinsi Nusa Tenggara Barat dinilai sangat tepat, karena kehadiran Pondok Pesantren bagi masyarakat NTB bukan hanya dipandang sebagai institusi Pendidikan berbasis Islam semata, melainkan juga sebagai pencerminan Local Wisdom, termasuk kearifan dalam memperlakukan lingkungan hidup. Pondok Pesantren yang saat ini berjumlah 512 buah di Provinsi NTB tentunya juga merupakan potensi yang sangat besar untuk ikut aktif dalam pengelolaan lingkungan karena tujuan dari Eco-Pesantren ini sangat sejalan dengan ajaran dan kultur islami yang sangat mengedepankan nilai-nilai keharmonisan dan prilaku ramah lingkungan .

Kegiatan yang diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan PPLH Regional Bali Nusra dan Badan Lingkungan Hidup dan Penelitian Provinsi NTB ini, setelah pembukaan secara paralel di lanjutkan di 4 ruangan terpisah. Khusus untuk komunitas Pondok Pesantren , menghadirkan pemateri dari kalangan Birokrasi dan Praktisi Lingkungan seperti Dr. Henri Bastaman, MES Deputi VI Menteri Negara Lingkungan Hidup, K.H. Thonthowi D. Musaddad, MA Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut, Tuan Guru Haji (TBH) Safwan Hakim Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri Lombok Barat yang antara lain menyampaikan bahwa gerakan menuju terwujudnya Eco-Pesantren di NTB sudah dirintis sejak tahun 2005 melalui Forum Kerjasama Pondok Pesantren (FKSPP) NTB bekerjasama dengan Gerbang Emas dan Dinas Kehutanan NTB antara lain melalui pembuatan pembibitan oleh Pondok Pesantren, dengan hasil sbb: Pada tahun 2005 telah tertanam 2.500 batang pohon, pada tahun 2006 diperluas menjadi 39 lokasi pembibitan dengan menghasilkan 7.500 batang pohon, pada tahun 2007 ditambah menjadi 54 tempat dengan menghasilkan 10.000 batang bibit pohon. Disamping itu Pondok Pesantren Nurul Hakim juga telah mendapat bantuan mesin pencacah sampah yang sangat membantu pembuatan kompos. Pada kesempatan tersebut KNLH juga menyampaikan bahwa dari 4 Pondok Pesantren di NTB yang mengikuti lomba Proposal periode tahun 2008-2009 satu diantaranya berhasil menang yakni Pondok Pesantren Al Ushuluddin NW Ubung dari Lombok Barat NTB untuk Kategori Pengembangan Layanan Informasi lingkungan.

Kepada peserta selain diberikan materi tersebut diatas, diberikan kesempatan mengikuti lomba proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren dan copy VCD Cara Pengolahan Sampah Organik di Kebun Karinda (ws).

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan