Penerima Penghargaan Kalpataru 2006

KALPATARU berasal dari kata kalpa yang berarti kehidupan, dan taru yang berarti pohon. Secara utuh bermakna sebagai pohon kehidupan yang mencerminkan tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang yang diidamkan. Untuk mendorong dan meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup sejak tahun 1980 memberikan penghargaan lingkungan bernama KALPATARU. Penghargaan [...]

21 Jun 2006 17:03 WIB

KALPATARU berasal dari kata kalpa yang berarti kehidupan, dan taru yang berarti pohon. Secara utuh bermakna sebagai pohon kehidupan yang mencerminkan tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang yang diidamkan. Untuk mendorong dan meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup sejak tahun 1980 memberikan penghargaan lingkungan bernama KALPATARU. Penghargaan diberikan kepada masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok yang telah memberikan sumbangsihnya pada upaya pelestarian fungsi lingkungan. Melalui pemberian insentif ini, diharapkan inisiatif masyarakat dalam melestarikan fungsi lingkungan semakin berkembang, khususnya dalam menanggulangi permasalahan lingkungan di sekitarnya.

KALPATARU berasal dari kata kalpa yang berarti kehidupan, dan taru yang berarti pohon. Secara utuh dimaknai sebagai pohon kehidupan yang mencerminkan tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang yang diidamkan. Lambang Kalpataru diadopsi dari relief yang terdapat pada dinding Candi Mendut dan Candi Prambanan yang merefleksikan harmonisasi antara hutan, tanah, air, udara dan makhluk hidup. Nilai-nilai kearifan yang terkandung pada kegiatan para penerima Kalpataru perlu disebarluaskan kepada masyarakat luas. Bahkan perlu direplikasikan sebagai model pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berbasis pada kearifan tradisional. Penghargaan Kalpataru terdiri dari empat kategori, yaitu (i) Perintis Lingkungan, (ii) Pengabdi Lingkungan, (iii) Penyelamat Lingkungan, dan (iv) Pembina Lingkungan. Kategori Perintis Lingkungan diperuntukkan bagi seseorang bukan pegawai negeri dan bukan tokoh organisasi formal, yang secara luar biasa berhasil merintis pengembangan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup, selain itu kegiatan yang dilakukan bersifat sama sekali baru bagi daerahnya.

Kategori Pengabdi Lingkungan diperuntukkan bagi petugas lapangan atau pegawai negeri yang mengabdikan diri pada usaha pelestarian lingkungan dan telah jauh melampaui tugas pokok dan fungsinya (beyond the call of duty), di antaranya adalah: PNS, TNI/Polri, Petugas Lapangan Penghijauan, Petugas Penyuluh Lapangan, Petugas Lapangan Kesehatan, Jagawana, Penjaga Pintu Air, dll. Kategori Penyelamat Lingkungan diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang secara bersamasama berhasil melakukan upaya penyelamatan fungsi lingkungan hidup. Kategori Lingkungan diperuntukkan bagi pengusaha atau tokoh masyarakat yang mempunyai prakarsa dan pengaruh untuk membangkitkan kesadaran dan peran masyarakat guna melestarikan fungsi linkgungan hidup.

Calon penerima Kalpataru sekurang-kurangnya harus memenuhi persyaratan umum yang antara lain adalah: (i) kegiatan yang dilakukan atas prakarsa atau inisiatif sendiri, (ii) telah menunjukkan dampak positif pada pelestarian lingkungan hidup, (iii) berdampak membangkitkan kesadaran masyarakat sekitarnya, dan (iv) minimal telah dilakukan selama 5 tahun dan telah ditiru oleh orang atau kelompok lain. Calon dapat diusulkan oleh perorangan atau kelompok, misalnya pers, organisasi swadaya masyarakat, institusi pemerintah, pejabat, swasta, dan masyarakat luas. Melalui mekanisme dalam Dewan Pertimbangan yang mempunyai otoritas independent, usulan yang disampaikan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup dinilai dan kemudian perorangan atau kelompok yang layak menerima penghargaan Kalpataru ditentukan. Hingga Tahun 2005, jumlah penerima penghargaan Kalpataru sebanyak 217 orang/kelompok, yang terdiri dari 61 orang Perintis Lingkungan, 56 orang Pengabdi Lingkungan, 70 kelompok Pengabdi Lingkungan, dan 30 orang Pembina Lingkungan. Sedangkan di tahun 2006, jumlah kandidat yang diterima Kementerian Negara Lingkungan Hidup sebanyak 137 calon, terdiri dari 46 orang calon Perintis Lingkungan, 19 orang calon Pengabdi Lingkungan, 45 kelompok calon Penyelamat Lingkungan, dan 27 orang calon Pengabdi Lingkungan. Melalui mekanisme penilaian oleh Dewan Pertimbangan, telah dilakukan peninjauan lapangan terhadap 20 calon yang dinominasikan sebelum diputuskan 11 orang/kelompok yang layak memperoleh penghargaan.

Penerima penghargaan Kalpataru tahun ini terdiri dari 3 orang Perintis Lingkungan, 2 orang Pengabdi Lingkungan, 3 kelompok Penyelamat Lingkungan, dan 3 orang Pembina Lingkungan.

Penghargaan KALPATARU tahun 2006 diberikan kepada :

KATEGORI PERINTIS LINGKUNGAN
1. Samuel Ngongo Lewu, Desa Tenggaba Kecamatan, Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur;
2. H. Abidin Moestakim, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat;
3. Wayan Sutiari Mastoer, Jalan Rungkut Asri Tengah XIX Nomor 1, Kelurahan Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

KATEGORI PENGABDI LINGKUNGAN
1. Salim, Pulau Pramuka RT.004 RW.005, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara,
Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta;
2. Agusdin, Jalan Sei Wain Nomor 24, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota
Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

KATEGORI PENYELAMAT LINGKUNGAN
1. Komunitas Anak Dalam Air Hitam Bukit Duabelas, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi;
2. Kelompok Tani Murakapi, Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur;
3. Club Pencinta Alam Hirosi, Jalan Kemiri I RT 02 RW VII, Desa Hinekombe, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

KATEGORI PEMBINA LINGKUNGAN
1. Anak Agung Gde Agung Bharata, S.H, Jalan Ngurah Rai No. 5-7, Desa Gianyar, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar Provinsi Bali;
2. dr. H. Jusuf Serang Kasim, Jalan Kalimantan Timur No. 1 RT V RW I, Kelurahan Kampung I SKIP, Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur; dan
3. Dr. (HC) K.H. Abdul Ghofur, Pondok Pesantren Sunan Drajat, Jalan Raden Qosim RT.08/02, Desa Banjarwati Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.


 

KATAGORI PERINTIS LINGKUNGAN

Diberikan kepada seseorang, bukan pejabat atau petugas pemerintah, bukan tokoh dari organisasi formal dan pengusaha, namun telah berhasil melakukan usaha luar biasa dan merupakan hal baru bagi daerahnya dalam rangka pengembangan dan pelestarian fungsi lingkungan

SAMUEL NGONGO LEWU
Menanam Pohon di Atas Karang

Peran Samuel Ngongo Lewu (58 tahun) sangat besar dalam membangun suasa lingkungan terpencil di Desa Tanggaba, Kecamatan Wewewa Timur sehingga hijau sekarang. Sekalipun hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar, namun dalam kurun waktu 28 tahun ia berhasil merubah lingkungan yang tandus dan kering menjadi hutan. Menanam dan merawat pohon merupakan dua pekerjaan yang selalu dilakukan. Selama itu pula ia tak hentihentinya mengajak saudara, tetangga dan anggota gerejanya untuk menanam pohon. Karena dari pohon dapat dipetik buah dan kayunya dijadikan bangunan dan dapat pula dijual.

Kerja keras tersebut kini membuahkan hasil. Jika sebagian besar wilayah Sumba umumnya merupakan hamparan padang yang luas dengan ciri langka pohon dan mudah terbakar, tidak demikian di desa Tanggaba. Sekitar 600 ha hutan rakyat mirip hutan alam teronggok di antara hamparan padang yang tidak berpohon. Di sela-sela hutan buatan warga tersebut mengalir air bening yang muncul dari empat sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun.

Samuel juga membuktikan dengan jelas bahwa pohon kemiri, cendana, vanili, mangga, nangka dll. yang ia tanam, dapat menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Samuel dapat berbangga hati karena dijadikan sebagai contoh sukses upaya rehabilitasi hutan berbasis masyarakat. Samuel juga bersuka cita karena dapat membagi air bersih kepada penduduk di 6 desa tetangganya.

Hasil kerja keras itu berawal dari tekanan kesulitan ekonomi keluarga dan tantangan alam. Kondisi ini mendorong Samuel untuk membuat terobosan baru dengan merubah kebiasaan merambah hutan untuk ladang. Pada tahun 1970-an, khususnya Dusun Tangga Wesi-desa Tanggaba, merupakan daerah tandus, berbatu, kering dan langka pohon. Daerah ini awalnya dipenuhi padang ilalang (savana), sering terbakar dan tidak ada sumber mata air. Karena itu pula, tidak ada rumah maupun kebun peduduk di tempat ini karena tidak ada air. Bahkan siapapun akan kelaparan jika hanya menggantungkan diri pada kemurahan alam.

Berdasarkan pengalamannya, ia memilih gamal, lamtoro, jarak dan beringin sebagai tanaman pembuka (pioner) karena mudah tumbuh dan tahan di musim kemarau. Di antara tumbuhan pioner ini ditanami vetasi produktif, seperti: kemiri, jati, mehoni, lare, masela, ritta, goka, kadibil, nangka,ullu kataka, lapale, kapaka, lamme, burruka, kemiri, cendana, lamtoro, morra, vanili, jatrova, lamtoro, cendana, mangga, rambutan, durian, pisang, gamal, dan beringin. Hingga saat ini terdapat 10.000-an pohon cendana berdiameter hingga 20 cm dan ribuan pohon lainnya berbaris rapi dengan menutupi lahan seluas 60 ha milik Samuel.

Setelah 15 tahun, sumber mata air mulai bermunculan, dan 13 tahun kemudian muncul mata air dengan debit yang besar (masing-masing 10 liter/menit) yang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk 6 desa terdekat. Strategi yang dilakukan untuk mengajak masyarakat adalah dengan menunjukkan hasil yang dipanen dari pohon dan menghidupkan tradisi “pawonda

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
Sex izle Film izle Hd Film izle Seo Danışmanı