KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

K A L P A T A R U

KALPATARU berasal dari kata kalpa yang berarti kehidupan, dan taru yang berarti pohon. Secara utuh bermakna sebagai pohon kehidupan yang mencerminkan tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang yang diidamkan. Untuk mendorong dan meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup sejak tahun 1980 memberikan penghargaan lingkungan bernama KALPATARU. Penghargaan diberikan kepada masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok yang telah memberikan sumbangsihnya pada upaya pelestarian fungsi lingkungan. Melalui pemberian insentif ini, diharapkan inisiatif masyarakat dalam melestarikan fungsi lingkungan semakin berkembang, khususnya dalam menanggulangi permasalahan lingkungan di sekitarnya.

KALPATARU berasal dari kata kalpa yang berarti kehidupan, dan taru yang berarti pohon. Secara utuh dimaknai sebagai pohon kehidupan yang mencerminkan tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang yang diidamkan. Lambang Kalpataru diadopsi dari relief yang terdapat pada dinding Candi Mendut dan Candi Prambanan yang merefleksikan harmonisasi antara hutan, tanah, air, udara dan makhluk hidup. Nilai-nilai kearifan yang terkandung pada kegiatan para penerima Kalpataru perlu disebarluaskan kepada masyarakat luas. Bahkan perlu direplikasikan sebagai model pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berbasis pada kearifan tradisional. Penghargaan Kalpataru terdiri dari empat kategori, yaitu (i) Perintis Lingkungan, (ii) Pengabdi Lingkungan, (iii) Penyelamat Lingkungan, dan (iv) Pembina Lingkungan. Kategori Perintis Lingkungan diperuntukkan bagi seseorang bukan pegawai negeri dan bukan tokoh organisasi formal, yang secara luar biasa berhasil merintis pengembangan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup, selain itu kegiatan yang dilakukan bersifat sama sekali baru bagi daerahnya.

Kategori Pengabdi Lingkungan diperuntukkan bagi petugas lapangan atau pegawai negeri yang mengabdikan diri pada usaha pelestarian lingkungan dan telah jauh melampaui tugas pokok dan fungsinya (beyond the call of duty), di antaranya adalah: PNS, TNI/Polri, Petugas Lapangan Penghijauan, Petugas Penyuluh Lapangan, Petugas Lapangan Kesehatan, Jagawana, Penjaga Pintu Air, dll. Kategori Penyelamat Lingkungan diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang secara bersamasama berhasil melakukan upaya penyelamatan fungsi lingkungan hidup. Kategori Lingkungan diperuntukkan bagi pengusaha atau tokoh masyarakat yang mempunyai prakarsa dan pengaruh untuk membangkitkan kesadaran dan peran masyarakat guna melestarikan fungsi linkgungan hidup.

Calon penerima Kalpataru sekurang-kurangnya harus memenuhi persyaratan umum yang antara lain adalah: (i) kegiatan yang dilakukan atas prakarsa atau inisiatif sendiri, (ii) telah menunjukkan dampak positif pada pelestarian lingkungan hidup, (iii) berdampak membangkitkan kesadaran masyarakat sekitarnya, dan (iv) minimal telah dilakukan selama 5 tahun dan telah ditiru oleh orang atau kelompok lain. Calon dapat diusulkan oleh perorangan atau kelompok, misalnya pers, organisasi swadaya masyarakat, institusi pemerintah, pejabat, swasta, dan masyarakat luas. Melalui mekanisme dalam Dewan Pertimbangan yang mempunyai otoritas independent, usulan yang disampaikan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup dinilai dan kemudian perorangan atau kelompok yang layak menerima penghargaan Kalpataru ditentukan. Hingga Tahun 2005, jumlah penerima penghargaan Kalpataru sebanyak 217 orang/kelompok, yang terdiri dari 61 orang Perintis Lingkungan, 56 orang Pengabdi Lingkungan, 70 kelompok Pengabdi Lingkungan, dan 30 orang Pembina Lingkungan. Sedangkan di tahun 2006, jumlah kandidat yang diterima Kementerian Negara Lingkungan Hidup sebanyak 137 calon, terdiri dari 46 orang calon Perintis Lingkungan, 19 orang calon Pengabdi Lingkungan, 45 kelompok calon Penyelamat Lingkungan, dan 27 orang calon Pengabdi Lingkungan. Melalui mekanisme penilaian oleh Dewan Pertimbangan, telah dilakukan peninjauan lapangan terhadap 20 calon yang dinominasikan sebelum diputuskan 11 orang/kelompok yang layak memperoleh penghargaan.

Penerima penghargaan Kalpataru tahun ini terdiri dari 3 orang Perintis Lingkungan, 2 orang Pengabdi Lingkungan, 3 kelompok Penyelamat Lingkungan, dan 3 orang Pembina Lingkungan.

Penghargaan KALPATARU tahun 2006 diberikan kepada :

KATEGORI PERINTIS LINGKUNGAN

  1. Samuel Ngongo Lewu, Desa Tenggaba Kecamatan, Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur;
  2. H. Abidin Moestakim, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat;
  3. Wayan Sutiari Mastoer, Jalan Rungkut Asri Tengah XIX Nomor 1, Kelurahan Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

KATEGORI PENGABDI LINGKUNGAN

  1. Salim, Pulau Pramuka RT.004 RW.005, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara,
    Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta;
  2. Agusdin, Jalan Sei Wain Nomor 24, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota
    Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

KATEGORI PENYELAMAT LINGKUNGAN

  1. Komunitas Anak Dalam Air Hitam Bukit Duabelas, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi;
  2. Kelompok Tani Murakapi, Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur;
  3. Club Pencinta Alam Hirosi, Jalan Kemiri I RT 02 RW VII, Desa Hinekombe, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

KATEGORI PEMBINA LINGKUNGAN

  1. Anak Agung Gde Agung Bharata, S.H, Jalan Ngurah Rai No. 5-7, Desa Gianyar, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar Provinsi Bali;
  2. dr. H. Jusuf Serang Kasim, Jalan Kalimantan Timur No. 1 RT V RW I, Kelurahan Kampung I SKIP, Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur; dan
  3. Dr. (HC) K.H. Abdul Ghofur, Pondok Pesantren Sunan Drajat, Jalan Raden Qosim RT.08/02, Desa Banjarwati Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

  KATAGORI PERINTIS LINGKUNGAN

Diberikan kepada seseorang, bukan pejabat atau petugas pemerintah, bukan tokoh dari organisasi formal dan pengusaha, namun telah berhasil melakukan usaha luar biasa dan merupakan hal baru bagi daerahnya dalam rangka pengembangan dan pelestarian fungsi lingkungan

SAMUEL NGONGO LEWU
Menanam Pohon di Atas Karang

Peran Samuel Ngongo Lewu (58 tahun) sangat besar dalam membangun suasa lingkungan terpencil di Desa Tanggaba, Kecamatan Wewewa Timur sehingga hijau sekarang. Sekalipun hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar, namun dalam kurun waktu 28 tahun ia berhasil merubah lingkungan yang tandus dan kering menjadi hutan. Menanam dan merawat pohon merupakan dua pekerjaan yang selalu dilakukan. Selama itu pula ia tak hentihentinya mengajak saudara, tetangga dan anggota gerejanya untuk menanam pohon. Karena dari pohon dapat dipetik buah dan kayunya dijadikan bangunan dan dapat pula dijual.

Kerja keras tersebut kini membuahkan hasil. Jika sebagian besar wilayah Sumba umumnya merupakan hamparan padang yang luas dengan ciri langka pohon dan mudah terbakar, tidak demikian di desa Tanggaba. Sekitar 600 ha hutan rakyat mirip hutan alam teronggok di antara hamparan padang yang tidak berpohon. Di sela-sela hutan buatan warga tersebut mengalir air bening yang muncul dari empat sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun.

Samuel juga membuktikan dengan jelas bahwa pohon kemiri, cendana, vanili, mangga, nangka dll. yang ia tanam, dapat menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Samuel dapat berbangga hati karena dijadikan sebagai contoh sukses upaya rehabilitasi hutan berbasis masyarakat. Samuel juga bersuka cita karena dapat membagi air bersih kepada penduduk di 6 desa tetangganya.

Hasil kerja keras itu berawal dari tekanan kesulitan ekonomi keluarga dan tantangan alam. Kondisi ini mendorong Samuel untuk membuat terobosan baru dengan merubah kebiasaan merambah hutan untuk ladang. Pada tahun 1970-an, khususnya Dusun Tangga Wesi-desa Tanggaba, merupakan daerah tandus, berbatu, kering dan langka pohon. Daerah ini awalnya dipenuhi padang ilalang (savana), sering terbakar dan tidak ada sumber mata air. Karena itu pula, tidak ada rumah maupun kebun peduduk di tempat ini karena tidak ada air. Bahkan siapapun akan kelaparan jika hanya menggantungkan diri pada kemurahan alam.

Berdasarkan pengalamannya, ia memilih gamal, lamtoro, jarak dan beringin sebagai tanaman pembuka (pioner) karena mudah tumbuh dan tahan di musim kemarau. Di antara tumbuhan pioner ini ditanami vetasi produktif, seperti: kemiri, jati, mehoni, lare, masela, ritta, goka, kadibil, nangka,ullu kataka, lapale, kapaka, lamme, burruka, kemiri, cendana, lamtoro, morra, vanili, jatrova, lamtoro, cendana, mangga, rambutan, durian, pisang, gamal, dan beringin. Hingga saat ini terdapat 10.000-an pohon cendana berdiameter hingga 20 cm dan ribuan pohon lainnya berbaris rapi dengan menutupi lahan seluas 60 ha milik Samuel.

Setelah 15 tahun, sumber mata air mulai bermunculan, dan 13 tahun kemudian muncul mata air dengan debit yang besar (masing-masing 10 liter/menit) yang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk 6 desa terdekat. Strategi yang dilakukan untuk mengajak masyarakat adalah dengan menunjukkan hasil yang dipanen dari pohon dan menghidupkan tradisi “pawonda� atau gotong-royong untuk membuka lahan, menanam, dan menyiangi tanaman. Seluruh warga dusun, sekitar 200 orang, dilibatkan dalam proses “pawonda�. Hutan keramat atau pamali seluas 50 ha dijaga keutuhannya secara adat melalui pengawasan terhadap pembukaan lahan (perambahan hutan). Sekali dalam setahun dilakukan ritual untuk menghormati roh-roh halus penghuni hutan adat dengan membawa sesajen. Ritual dan mitos yang dikembangkan ini ternyata efektif menjaga keutuhan hutan. Tidak seorang pun berani masuk dan membuka hutan adat karena diyakini akan mendatangkan petaka dari roh penghuninya. Bersama dengan masyarakat, ia juga mengaktifkan bau nyale dan pasola, di mana selama berlangsungnya acara ritual tersebut dilarang menebang pohon dan membunuh ternak/satwa pemanfaatan mata air

Upaya lain untuk motivasi dan menyadarkan warga masyarakat agar melakukan hal yang sama ditempuh melalui pertemuan informal, rapat-rapat, kegiatan gereja, dan obrolan sehari-hari.Lambat laun tapi pasti, terjadi perubahan yang luar biasa dari sikap apatis masyarakat menjadi tertarik bercocok tanam dan menanam pohon. Bahwa kegiatan yang memberi manfaat ekonomi sangat mudah ditiru atau diikuti oleh warga. Dibawah pengawasan Gereja, ia bersama masyarakat juga membentuk kelompok Koperasi Keuangan Mandiri dengan nama Credit Union (CU) Merandi Ate (samakan hati) yang beranggotakan 360 orang petani. Wadah ini dapat membantu anggota dalam pengadaan modal usaha dan biaya sekolah dan berobat. Adapun syarat untuk menjadi anggota adalah: tidak berjudi, tidak malas kerja dan tidak mabuk-mabukan.

Dampak yang terpenting dari kegiatan Samuel, adalah munculnya mata air yang mengalir sepanjang tahun. Empat sumber mata air ini terbukti efektif menyuburkan tanah di sekitarnya. Sumber mata air ini dapat memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Dusun Weetuaka, masyarakat Desa Totoka Kecamatan Laura, Desa Weepatando, Desa Tenggaba, Desa Wee Patando, Desa Wee Rame, Desa Kanelu, Desa Lombu, Desa Totok, Desa Wee Manada. Dampak lainnya adalah meningkatnya pencaharian keluarga dari hasil tanaman dan peningkatan pendapatan masyarakat melalui diversifikasi usaha. Petani dapat merasakan kesejukan udara, kejernihan air untuk konsumsi, hasil vanili, buaha-buahan, hasil kemiri, dan suatu ketika akan menuai cendana.Masyarakat Tenggaba yang digerakkan oleh Samuel, membuktikan bahwa tantangan alam tidak menjadi hambatan tapi menjadi pemicu untuk melahirkan inovasi dan terobosan baru dengan dukungan keuletan dan kerja keras.

Kunjungan Gubernur, Bupati Sumba Barat, anggota legislatif baru-baru ini cukup membanggakan hati Samuel. Sekalipun ia telah menerima Kalpataru Tingkat Provinsi. Ia tidak banyak bicara, namun banyak berbuat. Ia pun tidak tahu apa arti Kalpataru, karena ia telah puas dengan hasil yang diperoleh dari apa yang ia tanam. “Sepuluh atau duapuluh tahun lagi, anak cucu saya akan menuai cendana yang berlimpah dari hasil jerih payah saya�, demikian pengakuannya dengan bangga dan lugu.

 

H. ABIDIN MOESTAKIM:
Merehabilitasi Lahan Kritis Bekas Galian Batu Apung

Haji Abidin Moestakim memiliki pengalaman berharga dalam mengelola lahan kritis. Meningkatnya penggalian batu apung yang mempercepat degradasi lahan, menambah pengalamannya untuk mampu lahan tandus menjadi produktif. Lahan tandus bekas galian batu apung di Desa Empak Mayong awalnya tidak bermanfaat, lubang bekas galian dibiarkan terbuka dan terbengkalai. Semakin terbatasnya sumber-sumber pencaharian penduduk telah mendorong dirinya mengembangkan berbagai alternatif usaha yang berwawasan lingkungan. Ia bertekad untuk menghijaukan lahan tandus seluas 240 ha dan mengembangkan usaha ikutan lain berupa budidaya tanaman umur pendek, usaha ternak kambing, penangkaran tanaman serta penanaman pohon produktif dan jarak.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah mengolah lahan dengan menambahkan kompos, kemudian ditanami dengan tumbuhan pembuka yang tahan kering, yaitu: lamtoro, turi, dan gamalina. Penanaman dilakukan pada musim penghujan, saat memasuki musim kering ia menggunakan pola siram dengan sistem tetes dari botol yang dilubangi dan dilekatkan pada batang. Setelah kondisi tanah mulai membaik di antara turi dan lamtoro ditanami dengan tanaman umur pendek, seperti kacang-kacangan, cabe, dan pisang. Pada tahun 1979, ketika kesuburan lahan mulai pulih, penanaman dilanjutkan dengan jenis tanaman kebun, seperti kelapa, mangga, jambu biji, sawo, alpokat, kapuk, pohon asam, dan jambu mente. Saat ini, tanaman tersebut berhasil tumbuh dan telah dipanen hasilnya.

Menanam pohon di lahan kering dan berbatu memerlukan teknologi sendiri. Metode penyiraman melalui siram tetes pada musim kemarau, pemanfaatan pupuk kandang, dan penanaman pohon yang tahan kering, merupakan metode klasik terbukti memulihkan kesuburan tanah dan berhasil menghijaukan lahan seluas 240 hektar. Cara ini kemudian diikuti oleh 250 orang warga Desa Kayangan yang terhimpun dalam kelompok tani “Pada Maju� di atas lahan kritis bekas galian batu apung.

Pengembangan model wanatani tersebut diperkaya dengan pemeliharaan ternak kambing. Usaha ternak ini ditujukan untuk menyantuni jompo dan + 40 anak kurang mampu melalui model bapak angkat. Induknya dikembalikan, sementara anaknya menjadi milik penggembala. Terkait dengan pengembangan energi alternatif, sebagian lahan kering yang sebelumnya tidak dimanfaatkan ditanami jarak pagar yang saat ini menjadi sumber bibit jarak pagar berkualitas. Tanaman jarakdijadikan sebagai tanaman pioner, yang diikuti dengan tanaman keras/produktif lainnya.

Pemahamaan dalam merehabilitasi lahan ditularkan kepada warga sekitarnya. Ia secara rutin memberikan penyuluhan dan pembinaan bagi petani lahan kering. Tanah bekas galian milik warga yang berhasil direhabilitasi dengan mudah setelah diberitahu caranya. Gerakan rehabilitasi lahantersebut dilakukan dengan metode pembuatan bendungan tradisional dari karung berisi batu dan pasir yang diletakkan di sisi sungai untuk menangkap humus berfungsi pula digunakan sebagai pengisi lubang bekas galian. Sebagai sarana pendistribusian air, H. Abidin membangun jaringan pipa pralondari sumber mata air ke desa sepanjang 15 km.

Sejak tahun 1981, ia mulai menikmati hasil kebun berupa hasil penjualan mangga, kelapa dan sawo. Selain jumlah yang melimpah, kualitas mangga lahan kering juga bagus sehingga laku dipasaran Bali dan Jawa. Sejak saat itu ia lebih giat mengajak warga untuk menggarap lahan kering.

Agar panen tanaman berlangsung sepanjang tahun, ia beserta kelompok tani binaannya menanam berbagai jenis tanaman, seperti kacang-kacangan, alpokat, sawo, kelapa, melinjo, nangka, nanas, terong, serta jenis tanaman menahun, seperti kayu putih, cendana, lamtoro, sengon, jarak, dan panili. Hasil kerja Abidin telah memulihkan kesuburan tanah, menyelamatkan sumber air, mengubah iklim mikro dan meningkatkan kesejahteraan petani. Tidak mengherankan apabila kiprahnya diikuti tidak hanya kelompok tani binaannya, tetapi juga oleh guru-guru sekolah dasar di Dusun Empak Mayong.

 

WAYAN SUTIARI MASTOER
Daur Ulang Sampah

Sampah menjadi masalah klasik perkotaan seperti Surabaya. Namun demikian, walaupun terkesan kotor, berbau, tidak berguna, dan sumber penyakit, namun sebagian di antaranya dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk seni yang bernilai ekonomis tinggi, seperti bunga kering. Wayan Sutiari Mastoer adalah salah satu warga yang peduli pada kebersihan kota dan ingin memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna. Berbekal pengalaman yang diperoleh dari lingkungan keluarga di Bali, ia berhasil menciptakan kreasi seni dari sampah.

Kegiatan Ibu Wayan memang tidak dilakukan sendirian. Ia dibantu oleh pegawai dan anggota keluarganya guna mengumpul bahan berupa sisa-sisa tumbuhan, dan sampah anorganik. Barang-barang tersebut dibersihkan, dikeringkan dan dijadikan hiasan berupa bunga kering, hiasan dinding, bros, giwang dan sebagainya. Hasil kerajinan, Ibu Wayan telah menembus tempat-tempat bergengsi, seperti ruang-ruang tamu. Dari sampah ikan dan sisa-sisa tumbuhan, diubah menjadi kreasi seni yang amat menarik, berharga dan diminati oleh para remaja atau pecinta bunga, serta masyarakat lokal dan internasional Tidak terhitung banyaknya hasil seni Ibu Wayan , dan tidak terhitung pula banyaknya sampah yang telah dipungut dari kebun, pusat-pusat permukiman dan pasar. Tidak diketahui pula jumlah pencinta bunga kering yang telah dibina berhasil mengikuti jejaknya.

Sejak tahun 1997, ia telah melakukan sosialisasi dan diseminasi melalui media massa tentang pemanfaatan sampah rumah tangga dan industri sebagai bahan bunga kering. Wanita yang aktif sebagai bendahara POPRI (Perkumpulan Olahraga Pernapasan Indonesia) ini tidak ada henti-hentinya untuk mendemonstrasikan dan melatih masyarakat sekitar. Ibu Wayan bisa bangga dengan bunga kering hasil karyanya yang diminati oleh banyak kalangan hingga Bali dan mancanegara. Di sisi lain ia juga bangga bahwa telah ikut berperan dalam membuka lapangan kerja. Namun yang penting baginya adalah berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Secara pribadi, kegemarannya yang terbangun sejak kecil, yaitu cinta alam, dapat terwujud di pada masa pensiun tua.
“Sejak masa kecil saya telah mencintai alam dan mengagumi kebesaran penciptaNya. Setelah tua justru semakin mencintai alam dan berbuat sesuatu untuk menjaga kelestariannya. Saya rasa adalah saya orangnya yang mempunyai kegemaran untuk mengusahakan agar sampah-sampah dibuat lebih indah�, demikian akunya.


 PENGABDI LINGKUNGAN

Penghargaan KALPATARU kategori Pengabdi Lingkungan diberikan kepada petugas lapangan dan atau pegawai negeri yangmengabdikan diri dalam usaha pelestarian fungsi lingkungan hidup yang jauh melampaui tugas pokoknya.

 

SALIM

Penjaga bakau dan penangkar penyu sisik di pulau Panjaliran Salim (56 tahun) tinggal di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Ia berstatus sebagai tenaga honorer pada Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, dengan tugas sehari-hari mengawasi Pulau Penjaliran dari ganggguang pihak lain. Waktunya diisi dengan mengumpulkan telur penyu sisik, menangkarkan, merawat, lalu melepaskan tukik ke alam. Ia juga aktif menjaga kelestarian habitat pantai dengan menangkar bakau, menanam dan merawat, serta membersihkan pantai Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta dikenal sebagai daerah yang memiliki keanekaragaman ekosistem laut, seperti mangrove, terumbu karang, dan pantai. Ekosistem mangrove terdapat di beberapa lokasi antara lain di Pulau Pramuka, Pulau Panggang, dan Pulau Penjaliran. Di pulau-pulau ini juga masih dapat ditemukan penyu sisik.

Kelestarian ekosistem dan keberadaan keanekaragaman hayati semakin terancam seiring meningkatnya pertambahan penduduk di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang kurang mengindahkan kelestarian lingkungan seperti penebangan mangrove, penangkapan dan pengambilan telur penyu, dan aktivitas pembangunan itu sendiri yang berdampak pada lingkungan sering terjadi di kawasan ini.

Sementara terjadi tekanan pada ekosistem pesisir dan laut, ternyata masih ada orang yang peduli, yaitu SALIM yang lahir 29 Oktober 1950. Berbekal pendidikan Sekolah Rakyat, ia telah mengabdikan dirinya sejak 1983. Mangrove seluas +12,38 hektar dan ribuan penyu sisik di Pulau Panjaliran telah diselamatkan.
Dengan naluri pribadi, juga mampu mendeteksi keberadaan penyu sisik yang mulai terancam kepunahannya. Ia mengumpul telur penyu, menetaskan, mersawat dan melepaskannya ke alam. Pada kesempatan lain, ia juga mengumpulkan buah mangrove untuk ditangkar, dipindahkan ke polybag, dan ditanam.Setiap hari selama 16 jam/hari ia menempuh perjalanan tidak kurang dari 40 km dengan mengayuh perahu menuju tempat kerjanya. Walaupun banyak menemuhi hambatan gelombang, angin, hujan dan badai, namun dengan tabah Pak Salim tetap melakukan.

Saat ini, lebih dari10.000 bibit mangrove telah dihasilkan dan ditanam di beberapa lokasi di sekitar tempat tinggalnya dan juga Pulau lain di Kepulauan Seribu. Sedangkan kegiatan penyelamat penyu dilakukan dengan mengambil Telur di Pulau Panjaliran dan di tetaskan selama 50 hari di Pulau Pramuka dan setelah cukup besar dilepaskan ke habitat aslinya.

Dari keuletan dan ketekunanya, ia mendapat dukungan dan dorongan dari masyarakat dan pemerintah setempat. Beliau juga telah mendapat dua kali penghargaan sebagai pengabdi lingkungan di tingkat Provinsi. Aktivitas lain Pak Salim adalah mensosialisaikan dan mengajak membuat pupuk kompos dari sampah yang dihasilkan rumah tangga di Pulau pramuka. Pembuatan kompos ini dimulai pertama kali di wilayah rukun warga tempat tinggalnya dan kemudian diikuti oleh para tetangga. Usaha Pak Salim terbukti berhasil melindungi keberadaan penyu Sisik dan keberadaan hutan mangrove, menekan pencurian penyu dan bakau, meningkatkan kualitas lingkungan dan menyediakan bibit mangrove untuk mendukung rehabilitasi pantai.

 

AGUSDIN
Penjaga Hutan Lindung Sungai Wain

Selama tahun, Agusdin bekerja sebagai Kepala Devisi Perlindungan Hutan dan Konservasi Kawasan pada Unit Pelaksana Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain Kota Balikpapan. Tugas yang ia emban, antara lain monitoring satwa, pemadaman kebakaran, memantau titik api batubara, memonitor kawasan dan mencegah penebangan liar dan perambahan hutan, membina masyarakat dalam bentuk pengamanan swakarsa, mengkoordinasikan tim pengamanan terpadu, dan menyiapkan areal reboisasi. Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) merupakan hutan alam yang terletak di dalam batas kota Balikapapan, Provinsi Kalimantan Timur. Fungsi utamanya adalah sebagai penyedia air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan industri di Balikpapan. Selain itu, HLSW adalah satu-satunya hutan primer lengkap antara Balikpapan dan Samarinda. Di dalamnya hidup berbagai jenis satwa langka seperti: beruang madu, owa-owa, bekantan, ular dan orang utan serta berbagai jenis burung yang dilindungi.

Pelestarian kawasan ini tidak terlepas dari peran Agusdin. Ia yang selama ini aktif membantu menentukan lokasi lahan reboisasi; menyusun SOP penanganan dan penanggulangan kerusakan HLSW, melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan serta monitoring satwa agar tidak keluar dari HLSW. Selain itu, untuk membantu tugas pengamanan, Agusdin melatih dan memfasilitasi pembentukan serta pengukuhan PAM Swakarsa masyarakat, Tim Pemadam Kebakaran, dan Tim Serbu Api. Agusdin juga turut membantu dan mendukung program Pemerintah Kota Balikpapan dalam pengembangan Kebun Raya Balikpapan di dalam kawasan HLSW Blok Pemanfaatan Terbatas.

Untuk meningkatkan peran masyarakat sekitar dalam pengamanan HLSW, Agusdin memprakarsai pembentukan beberapa kelompok tani dengan usaha tanaman tumpangsari, seperti: durian, salak, lada, nangka, melinjo, pisang, rambutan, kelapa, cempedak, terong dan lain-lain. Tentunya hasil penjualannya itu dapat membantu meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani.

Sukses Agusdin sebagai pegawai berprestasi kemudian mendorong staf UP-HLSW dan masyarakat lainnya juga melakukan kegiatan yang mendukung kelestarian HLSW. Agusdin pun merasa senang dan bangga dengan kondisi masyarakat saat ini. Ia tidak segan-segan membagi pengalamannya kepada setiap orang yang ditemuinya baik penanganan masalah pengelolaan dan pengamanan HLSW maupun perlindungan satwa liar dan pemanfaatan berbagai jenis tanaman yang terdapat di HLSW untuk obat-obatan.


PENYELAMAT LINGKUNGAN

Penghargaan KALPATARU Kategori Penyelamat Lingkungan diberikan kepada kelompok masyarakat yang berhasil melakukan upaya-upaya penyelamatan terhadap fungsi lingkungan hidup

 

ORANG RIMBO
Mengamankan Hutan Taman Nasional Bukit XII

Bagi Orang Rimbo, hutan yang mengitari pusat permukiman berfungsi sebagai hompongan, atau benteng pertahanan dari serangan musuh. Sekarang hompongan masih diterapkan untuk menghadang kehadiran orang luar (orang terang) yang mengusik kehidupan mereka. Di sisi lain, zona penyangga ini terancam oleh perambahan untuk memperluas kebun kelapa sawit dan karet dan atau menjadi sasaran illegal logging. Maka kawasan buffer zona ini dapat dijadikan sebagai hompongan bagi taman nasional Bukit Dua Belas. Caranya, kawasan ini dijadikan sebagai hutan tanaman produktif, di mana pepohonan liar ditanam bersama dengan tanaman produktif, seperti karet, mangga hutan, rambutan, durian, gaharu, dan lain-lain. Tanaman produktif ini tentu saja diperuntukkan untuk dirawat dan dipetik buahnya oleh orang Rimbo. Wanatani yang mengitari kawasan inti taman nasional akan menjadi benteng pertahanan (hompongan) bagi hutan taman nasional. Dengan demikian tanaman buah-buahan berfungsi sebagai pagar juga memberi manfaat ekonomi bagi orang Rimbo.

Suku Anak Dalam di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi hidupnya berpindah-pindah. Mereka seperti itu karena dua alasan. Pertama, untuk mendapatkan tempat yang meyediakan makanan lebih banyak. Kedua, sebagai tradisi “melangun�, ketika salah seorang anggota rombong (kelompok) meninggal, berarti pemukiman mereka sudah tidak diberkati Sang Penguasa, oleh karena itu tempat tersebut harus segera ditinggalkan.

Untuk mempertahankan kehidupannya, mereka membuka ladang yang ditanami padi atau umbi-umbian. Setelah satu kali masa panen, bekas ladang itu ditanami karet. Model pembukaan ladang dilakukan dengan pola berbanjar, menyisir batas cagar. Hompongan bagaikan benteng yang menghalangi kegiatan orang luar untuk masuk ke dalam taman. Berkat hompongan, Temenggung Tarib dan kelompoknya bisa menghidupi
keluarganya.

Keberadaan kelompok ini sangat strategis, karena mereka yang sehariannya berhadapan dengan para perambah hutan dan pencuri kayu. Peran komunitas adat Orang Rimbo perlu diapresiasi, dihormati dan dilindungi. Karena dalam kenyataannya mereka telah menjaga, kawasan TN Bukit XII pengrusakan. Praktek illegal logging dan perambahan hutan yang dilakukan oleh “orang luar� berakibat menurunnya hewan buruan semakin sulit dicari, rotan dan damar semakin langka, dan bunga-bunga hutan sebagai syarat persembahan kepada Dewa semakin sulit ditemukan.

Hal ini semakin mengancam keberadaan Suku Anak Dalam. Berbagai upaya ditempuh untuk menjaga dan memelihara hutan di wilayah Air Hitam Bukit XII, di antaranya: (i) pengembangan hutan sebagai tempat berlindung atau hompongan telah berlangsung turun temurun; (ii) pekerjaan menanam pohon karet telah dilakukan kurang lebih 10 tahun dengan luas tanam kurang lebih 15 km panjang dengan lebar 500 meter. Pengembangan hompongan saat ini telah pula dicontoh oleh temenggungtemenggung lain yang ada di sekitar area Taman Nasional Bukit XII. Keberhasilan ini berkat upaya keras Temenggung Tarib yang secara konsisten mensosialisasikan keuntungan dan manfaat dari hompongan kepada pemimpin-pemimpin suku yang ada di Taman Nasional Bukit XII.
Berkat dukungan dari berbagai pihak, upaya dan kerja keras Temenggung Tarib beserta kelompoknya kini telah membuahkan hasil, seperti : (i) Berhasil mengamankan hutan Taman Nasional Bukit XII dari kegiatan illegal logging dan perambahan hutan; (ii) Berhasil menanam pohon karet sepanjang alur batas patok Taman Nasional Bukit XII sepanjang kurang lebih 15 km; (iii) Berhasil menanam beberapa jenis tanaman obat yang diperoleh dari Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam serta berhasil menjaga kelestarian tanaman obat alami yang telah ada di Taman Nasional Bukit XII; (iv) Berhasil menanam bibit pohon sagu yang diperoleh dari Kalimantan; (v) Berhasil meningkatkan taraf hidup keluarganya dengan penghasilan kurang lebih 4,8 juta perbulannya dari menjual karet dan sawit, belum termasuk dari sumber-sumber lain seperti menjual buahbuahan, damar, rotan dan lain-lain; (vi) Berhasil membeli kebun sawit di areal hompongan dengan uang yang diperoleh dari hasil menjual karet hompongan.

 

KELOMPOK TANI MURAKAPI
Sukses membanguin Wanatani

Desa Jabung merupakan desa swasembada, yang relatif makmur sehingga tidak ada penduduk yang menderita busung lapar, mal nutrisi. Masyarakatnya hidup rukun, damai dan harmonis. Kondisi ekonomi masyarakat cukup baik. Air bersih dari 7 sumber mata air mengalir sepanjang tahun melintasi sela-sela kebun yang hijau. Rumah-rumah tertata dengan baik dan dipenuhi oleh pepohonan yang hijau dan rindang yang memberi kesejukan bagi penghuninya. Berbagai aktivitas ekonomi bertumpu pada kondisi lingkungan, seperti berternak, berkebun, memelihara ikan kolam, beternak lebah, kertajinan anyaman bambu, usaha mebel, dan lain-lain.

Sekitar tahun 70-an, kehidupan masyarakat desa ini diwarnai dengan pemanfaatan hasil hutan berupa kayu. Seiring dengan berjalannya waktu, hutan yang semula terhampar luas lama-kelamaan menyusut. Akibatnya terbentuk lahan kritis dan berdampak pada mengeringnya sumber mata air. Melihat keadaan desa yang selalu dilanda kekeringan, dan sewaktu-waktu terancam bencana longsor , membuat beberapa tokoh dan pemuka masyarakat setempat tergerak hatinya untuk segera melakukan penyelamatan lingkungan.

Adalah Surat, nama seorang petani yang lahir pada tanggal 1 April 1954 dan hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar ini, bersama penduduk desa yang mayoritas petani ini, sekitar tahun 1973 melakukan musyawarah membentuk wadah yang diberi nama Kelompok Tani MURAKAPI. Kelompok dikukuhkan dan resmi berdiri pada tanggal 22 Juni 1981.

Sejak saat itu, berbagai kegiatan dilakukan terutama untuk mengatasi lahan kritis dengan menanam di lahan hutan rakyat seluas sekitar 95 ha. Berbagai pohon penghijauan yang ditanam antara lain: sengon, mahoni, mindi, jati, bambu, petai, rambutan, melinjo, alpokat dan tanaman perkebunan, seperti kopi, cengkeh, kelapa, yang sesuai dengan kaidah konservasi dengan tanaman teras rumput gajah dan janggelan. Sulitnya mendapatkan air mendorong warga bergotong-royong melakukan penghijauan. Didahului dengan pembuatan teras, lahan ditanami rumput gajah, bambu, dan tanaman keras lainnya. Pekerjaan ini dilakukan pula di bantaran pinggir sungai untuk memperkuat bantaran dan mengurangi erosi.

Upaya meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat ditempuh melalui pertemuan rutin kelompok tani dengan memberikan contoh secara nyata di lapangan. Warga tidak hanya diajak mengandalkan tanaman yang ada tetapi dengan menanam berbagai jenis tumbuhan, termasuk empon-empon di bawah tegakan pohon.

Meningkatnya kesadaran masyarakat berdampak pada perbaikan kualitas lingkungan. Lingkungan yang baik memberi kesejahteraan bagi penduduk Desa Jabung, rimbunan pepohonan hijau memunculkan tujuh sumber air bersih yang mengalir sepanjang tahun. Ratusan rumpun bambu telah dipanen oleh 300 orang warga untuk dijadikan bahan kerajinan. Hutan rakyat juga menjadi tempat yang baik untuk berternak lebah madu. Lebih dari 390 kotak lebah madu berkualitas tinggi telah dihasilkan, 10 hektar empon-empon siap dipanen, 95 hektar kebun buah dipanen setiap musim, 300 ekor sapi dan 150 ekor kelinci turut menambah penghasilan warga.

Untuk melestarikan 7 buah sumber mata air, dengan penanaman sekitar sumber berupa beringin, bulu, ficus, mahoni dan bendo. Melimpahnya bambu telah mendorong perkembangan kerajinan anyaman dan produk lain berbahan bambu di desa ini. Kerja keras Kelompok Tani MURAKAPI selama lebih kurang 32 tahun di bawah kepemimpinan Bapak Surat ini, telah mampu meyelamatkan lahan kritis menjadi subur dan rindang, sehingga memunculkan beberapa mata air baru dialirkan ke rumah-rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selain itu, sumber mata air ini juga dimanfaatkan oleh penduduk desa lain untuk pengairan sawah dan berbagai keperluan, lainnya, bahkan menjadi sebagai baku air minum PDAM Kabupaten Magetan.

Hasil bumi yang melimpah dari jerih payah selama bertahun-tahun telah meningkatkan perekonomian anggota kelompok yang berjumlah 64 KK dan masyarakat desa Jabung pada umumnya. Keberhasilan Kelompok Tani MURAKAPI ini menjadi sumber ide bagi beberapa desa sekitar untuk mencontoh apa yang telah dilakukan kelompok ini. Ini membuktikan bahwa pendidikan Pak Surat dan kelompoknya yang paspasan bukanlah penghalang untuk melakukan langkah penyelamatan alam yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada masyarakat Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Mereka yakin “air adalah sumber kehidupan�. Oleh karena itu penyelamatan sumber air adalah kunci keberhasilan kelompok tani ini. Bila sumber mata air dapat terselamatkan, pohon-pohon akan tumbuh dengan subur, dan akhirnya akan membawa dampak terhadap meningkatnya taraf hidup masyarakat.

 

CLUB PECINTA ALAM HIROSHI
Merajut Kembali Kerusakan Alam Papua

Siapa pun mengakui bahwa telah terjadi kerusakan lingkungan yang luar biasa di daratan Papua, terutama sebagai akibat kegiatan penebangan liar, pemburuan satwa (terutama burung) dan perambahan hutan. Penurunan kualitas lingkungan mendorong sekelompok pemuda pencinta lingkungan yang dipimpin MarshallSuebu untuk tampil berbuat sesuatu yang nyata guna memulihkannya. Sekecil apapun kegiatannya akan berarti dalam perbaikan lingkungan. Kerinduan itu dimulai dari lingkungan sekolah, gereja dan lembaga atauorganisasi pada tingkat komunitas.

Sekitar tahun 1995, berkumpullah beberapa pemuda sekitar desa Hinekombe, Sentani, untuk mencari cara agar dapat mengembalikan keadaan menjadi asri seperti semula. Dengan tekad dan kemauan keras, maka dimulailah kegiatan pembibitan tanaman dan menanam pohon di sekitar desa. Mula-mula kegiatan ini banyak ditentang dan mencemooh, karena bagaimana mungkin menyelamatkan lingkungan hanya dengan beberapa orang saja.

Beberapa bulan kemudian, mereka berhasil mengajak anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Sekolah merupakan target yang paling tepat untuk melahirkan individu-individu yang mencintai dan berpihak pada lingkungan. Untuk menyatukan tekad, maka anggota sepakat untuk membentuk kelompok pecinta alam “Club Pecinta Alam Hirosi� yang dipimpin oleh Marshall Suebu. Sejak saat itu gerakan cinta lingkungan semakin ditingkatkan dengan menanam pohon pada lahan seluas 10 hektar di kawasan penyangga cagar alam pegunungan Cycloop bagian selatan, yang memiliki kemiringan lereng antara 8-20%. Beberapa jenis pohon yang ditanam, antara lain pohon matoa, kayu besi, pohon kemiri, pohon jati putih, jati super, rambutan dan duku. Untuk menambah kegiatan club dilakukan pula daur ulang sampah kertas bekas dan daur ulang plastik sebagai tempat anakan pohon.

Kegiatan club semakin melebar dengan menangkar berbagai satwa langka, seperti burung cenderawasih, kakatua jambul kuning, nuri untuk dilepaskan kembali ke alam bebas. Dari tahun 2001 – 2005, sudah 45 ekor burung sudah dilepas ke alam bebas. Program gerakan cinta lingkungan ditularkan juga melalui sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Sentani. Atas prakarsa ketua club pecinta alam Hirosi, Marshall Suebu, yang juga guru honor SMUN I Sentani, maka SMUN I ditetapkan sebagai sekolah berbudaya lingkungan (SBL) melalui pendidikan dan pelatihan lingkungan dengan materi lingkungan berupa kehutanan, konservasi dan organisasi. Adapun kelas lingkungan yang ditempuh oleh anggota, yaitu: Kelas 1 disebut pemula; Kelas 2 disebut larva; Kelas 3 disebut kepompong; Kelas 4 disebut imago; dan Kelas 5 disebut pemimpin.

Selain ketua Club Pecinta Alam Hirosi, Marshall Suebu mengikuti sanggar seni Reymay dan aktif di Gereja sebagai majelis. Melalui organisasi yang diikutinya, pesan-pesan lingkungan diharapkan dapat sampai kepada masyarakat. Dengan semakin kuatnya peran Club Hirosi dalam masyarakat, maka organisasi ini pun mendapat dukungandalam melaksanakan berbagai aktifitas. Frekuensi kegiatan club dilakukan setiap hari dengan intensitas 5 jam/hari dengan biaya swadaya, sumbangan sukarela anggota dan bantuan Pemerintah Daerah. Selain berguna bagi anggota club untuk membentuk jiwa peduli lingkungan, adanya Club Pecinta Alam Hirosi dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar menjaga kelestarian berbagai satwa langka khas di Papua secara bersama-sama. Dari hasil kegiatan club, tercipta suasana lingkungan yang serasi, sejuk, nyaman dan hijau.

Pada bulan Februari 2006, Club Pecinta Alam Hirosi dengan dukungan oleh Menteri Kehutan membuat program KMDM, yaitu Kecil Menanam-Dewasa Memanen, melakukan penanaman pohon kakao di lahan masyarakat, lima tahun ke depan akan menghasilkan kakao yang mampu membantu ekonomi keluarga. Club Pecinta Alam Hirosi merencanakan untuk lima tahun kedepan, lokasi kegiatan club pecinta alam Hirosi yang ada di sekitar gunung Cycloop akan dibuat menjadi wana wisata dan tempat pendidikan lingkungan bagi masyarakat.


PEMBINA LINGKUNGAN

Penghargaan Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan diberikan kepada tokoh masyarakat atau pengusaha yang berhasil melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mempunyai pengaruh dan prakarsa untuk membangkitkan kesadaran lingkungan dan peran masyarakat guna melestarikan fungsi lingkungan hidup atau berhasil menemukanteknologi baru yang ramah lingkungan

 

ANAK AGUNG GDE AGUNG BHARATA

Kebijakan yang Berpihak pada Lingkungan Kabupaten Gianyar memiliki luas 368 km2 dengan penduduk 422.186 jiwa dengan kepadatan 1.147 jiwa/km. Gianyar merupakan daerah tujuan wisata dengan warisan sosial budaya, karena terdapat: pura, Istana Kepresidenan Tapaksiring, pusat kerajinan Ubud, Pasar Sukowati sebagai pusat belanja souvenir kerajinan Bali. Gianyar juga menjadi tolok ukur Bali dalam menjaga keasriannya dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan, yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana.

Untuk itu kebersihan lingkungan dan kesejukan pepohonan, merupakan hal yang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten dalam upaya menjaga citra sebagai daerah tujuan wisata. Keberhasilan Gianyar dalam menggalakkan pariwisata dan menjaga kelestarian lingkungan tidak terlepas dari sosok Anak Agung Gde Agung Bharata, sebagai Bupati Gianyar. Pak Bharata, begitu beliau biasa disebut warganya, merupakan generasi ke-11 dari keturunan raja Gianyar. Semenjak kecil, sudah tertanam rasa cinta lingkungan, sehingga mempengaruhi pola pikir dan ideide untuk menyelamatkan sumber daya alam dan lingkungan.Bupati ini dikenal sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Aktifitas A.A. Gde Agung Bharata dalam pelestarian lingkungan, dimulai ketika beliau menjabat sebagai pelaksana harian Istana Kepresidenan Tapaksiring tahun 1995, dengan melakukan penghijauan di sepanjang jalan protokol dan desa-desa Gianyar yang menuju istana.

Gerakan penghijauan pada lahan kritis dan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) juga diprakasai oleh Agung Bharata untuk menyelamatkan lingkungan dari tanah longsor serta penyelamatan sumber dan mata air. Beliau juga aktif mengkampanyekan dan melaksanakan gerakan penghijauan di perkantoran, hotel, sekolah, pura, dan SPBU, yang dimaksudkan untuk memberikan rasa nyaman bagi pengunjung/wisatawan dan menekan polusi udara di Gianyar. Sebanyak + 200.000 pohon yang terdiri dari cempaka, tanjung, angsana, dan glodok. Selain itu, 500.000 pohon albasia juga telah ditanam tersebar di sepanjang jalan di Kabupaten Gianyar.

Tahap selanjutnya dilakukan gerakan sadar lingkungan oleh masyarakat dan desa-desa adat (pekraman), dengan mengaplikasikan/ melaksanakan Tri
Hita Karana, dan menerapkan awig-awig dan perarem (peraturan perundangan-undangan Gianyar). Upaya ini bertujuan menjaga kebersihan lingkungan desa adat, pura, rumah, kantor, pasar, sekolah, dan puskesmas, sehingga Gianyar menjadi bersih, indah, dan memikat.Untuk meningkatkan motivasi masyarakat, diadakan lomba kebersihan dan keindahan se-Kabupaten Gianyar, kepada pemenangnya diberikan insentif berupa bantuan dana operasional. Keberhasilan dalam menggalang gerakan penghijauan juga terlihat melalui sumbangan bibit dari pengusaha sebanyak 42.270 pohon yang ditanam di tepi jalan sepanjang 230 km.
Penyelamatan daerah pesisir dan pantai dilakukan untuk menghindari abrasi, pencemaran, dan keselamatan pengunjung, di sepanjang Pantai Lebih sampai Pantai Gemicik sepanjang + 14,6 km dilakukan dengan membuat cek dam. Saat ini telah terbentuk organisasi penyelamatan di Pantai Lebih. Kegiatan lain yang dilakukan adalah memprakarsai pelestarian tanaman bambu seluas 35 hektar di Marga Tengah, dan 10 hektar di Bukian. Hutan bambu dimanfaatkan untuk bahan kerajinan dan souvenir untuk mendukung industri pariwisata.

Kekhawatiran Bupati Bharata pada permasalahan sampah, melahirkan ide untuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya. Untuk itu, pada tahun 2004 didirikan tempat pengelolaan dan pemilahan sampah di Desa Temesi seluas 2 hektar. Saat ini tempat pengelolaan sampah Temesi menerima + 10 ton sampah dan mampu menghasilkan kompos + 5 ton setiap harinya, dengan pekerja sebanyak 56 orang.

Kesungguhnya Bupati Bharata dalam melestarikan lingkungan juga tercermin dari terbentuknya Kaukus Lingkungan DPRD Gianyar pada tahun 2005. Kaukus ini merupakan bentuk komitmen para pemangku kepentingan di DPRD, baik dalam penyediaan anggaran, maupun motivasi kepada seluruh masyarakat dalam pengelolaan lingkungan di Kabupaten Gianyar. Dengan keberadaan kaukus ini diharapkan DPRD Gianyar dapat melahirkan kebijakan yang berpihak pada lingkungan.

Upaya lain yang dilakukan Pak Agung adalah memprakarsai ajakan untuk menyelamatkan “buana agung� melalui seniman Gianyar pada tahun 2005. Pemberdayaan insan seni dilakukan karena dapat mentransfer informasi bentuk karya seni yang dapat dimengerti oleh berbagai lapisan masyarakat. Insan seni juga telah mampu menjabarkan konsep/filosofi Tri Hita Karana menjadi sepuluh unsur, yaitu: air, udara, angin, tanah, tumbuhan, burung, binatang, manusia, dan Tuhan. Ke-sepuluh unsur ini dijadi pedoman manusia dalam menjalankan kehidupan tanpa mengganggu kelestarian alam.

Kerja keras oleh Bupati Bharata telah berhasil menjadikan Kabupaten Gianyar sebagai kota terbersih dalam program Bangun Praja, ditandai dengan diperolehnya Trophy Adipura pada tahun 2004 dan 2005. Keberhasilanan lain adalah dengan diterimanya Piagam Penghargaan Pelaksanaan Terbaik Lingkungan Bersih Keluarga Sehat Tingkat Nasional pada tahun 2005.

Penghargaan-penghargaan yang telah diperoleh diharapkan akan memacu semangat Bupati Gianyar dan masyarakatnya dalam menjaga, memelihara, serta melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

 

dr. H. YUSUF SERANG KASIM

Membangun�The Little Singapore�. Tarakan adalah pulau kecil yang terletak di bagian utara Kalimantan Timur, luasnya 657,33 km2 yang terdiri atas wilayah daratan 250,80 Km2 dan wilayah lautan 406,53 km2. Jumlah penduduknya terus meningkat, pada tahun 1999 tercatat 115.919 jiwa, pada tahun 2004 meningkat menjadi 157.574 jiwa, sehingga dalam kurun waktu 1999-2004 pertumbuhannya mencapai 33,89% atau 7,19% per tahun, dengan kepadatan penduduknya 619 jiwa/Km2. Sebagian besar penduduknya termasuk kategori miskin sehingga tekanan terhadap sumberdaya alam dan lahan sangat tinggi.

Sebagai lazimnya pulau kecil, maka sangat rentan ancaman abrasi, intrusi air laut, angin, banjir dan erosi serta tanah longsor, bahkan ancaman tenggelamnya beberapa daratan pulau Tarakan. Namun hutan mangrove yang berfungsi sebagai pelindung pantai, serta hutan lindung yang berfungsi mencegah terjadinya erosi dan banjir, telah banyak mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan usaha yangsungguh-sungguh bagi penyelamatan dan perbaikan ekosistem hutan yang berfungsi sebagai kawasan-kawasan lindung.

Dr. H. Yusuf Serang Kasim dilahirkan di Tarakan pada tanggal 2 Februari 1944, seorang dokter lulusan Universitas Hasanuddin tahun 1975. Saat ini menjabat sebagai Wali Kota Tarakan sudah 2 periode sejak tahun 1999. Sejak mulai bekerja, Walikota menempatkan masalah lingkungan hidup sebagai prioritas, dan berusaha terus-menerus mengajak semua pihak untuk merubah pola pikir dan perilaku hidup yang peduli pada kelestarian sumberdaya alam dan lingkungannya. Sebagai seorang yang kaya pengalaman berorganisasi sejak muda, beliau telah berhasil melakukan lobi dan pendekatan-pendekatan dengan semua pihak, baik di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur, maupun di Pemerintah Pusat. Upaya ini berhasil meyakinkan pihak legislatif, dinas terkait, pengusaha, dan masyarakat luas tentang pentingnya ekosistem hutan unatuk dilestarikan dalam mendukung pembangunan Kota Tarakan secara berkelanjutan.

Usai dilantik sebagai Wali Kota pada tanggal 1 Maret 1999, hal yang pertama dilakukannya adalah turun ke lapangan melakukan penyuluhan dan penyadaran masalah lingkungan. Selama satu setengah bulan, secara terus menerus melakukan penyadaran lingkungan kepada setiap anggota masyarakat dan mengajak mereka untuk menanam pohon apapun di setiap ruang di Kota Tarakan.

Kebiasaan turun ke lapangan, bertanya dan berdialog kepada anggota masyarakat terus berlanjut hingga saat ini. Dalam satu minggu, beluai selalu mengupayakan untuk dapat berdialog langsung dengan masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Masyarakat luas pun dapat menyampaikan SMS ataupun telpon secara langsung kepada Walikota. Upaya Pak Yusuf untuk menciptakan kota yang berwawasan lingkungan antara lain adalah: (i) Pembangunan ekosistem hutan mangrove, seluas 9 Ha di Kelurahan Karang Rejo Pantai, termasuk upaya penangkaran satwa langka endemik bekantan (Nasalis larvatus). Hingga saat ini populasi bekantan berkembang biak secara normal menjadi 42 ekor. Di samping itu, hutan mangrove ini telah berfungsi sebagai habitat berbagai jenis burung pantai (paling tidak telah dapat diidentifikasi 15 jenis), habitat berbagai jenis kepiting bakau, udang, dan ikan. Hutan kota mangrove ini telah berfungsi sebagai obyek wisata, pendidikan, dan penelitian. (ii) Membangun tiga taman kota, masing-masing Taman Oval di Ladang Dalam, Taman Oval di Markona Dalam, dan Taman Oval di Lingkas Ujung. Ke tiga Taman Oval ini telah menjadi obyek wisata masyarakat secara intensif. (iii) Mengembangkan kemampuan sumberdaya manusia dengan membangun gedung beserta fasilitasnya baik untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama maupun universitas (Universitas Borneo). (iv) Mengamankan hutan-hutan dengan penunjukan hutan lindung maupun hutan kota, saat ini kegiatan yang telah dilakukan adalah pemasangan papan-papan larangan dan melakukan kegiatan reboisasi dengan menanam berbagai jenis tanaman lokal (Agathis borneonsis). (v) Mendorong kepada para pengusaha dan dinas untuk melakukan kegiatan penangkaran flora dan fauna yang hasilnya untuk diekspor, seperti penangkaran buaya (dilakukan oleh swasta) dan penangkaran anggrek (dilakukan oleh Dinas Pertanian).

Semua usaha ini untuk mewujudkan visi Walikota bagi terbangunnya Kota Tarakan sebagai “The Little Singapore� yang berbasiskan “pembangunan secara berkelanjutan�.

 

Dr. (HC) KH ABDUL GHOFUR

Pesantren Ramah Lingkungan. Berawal dari keresahan masyarakat akibat banyaknya import paha ayam ke Indonesia, KH. Abdul Ghofur mengetahui bahwa dalam paha ayam terkandugn residu bahan kimia yang berbahaya bila dikonsumsi manusia. Namun residu itu ternyata dapat dinetralisir dengan mengkonsumsi buah mengkudu. Buah mengkudu yang dianggap tidak berguna selama ini hanya digemari oleh kaum ibu, ternyata mempunyai banyak manfaat. Hal inilah yang kemudian mendorong KH.

Abdul Ghofur mengembangkannya. KH. Abdul Ghofur mulai mengembangakan mengkudu sebanyak 250 bibit pohon di sekitar Pondok Pesantren. Buah yang diasulkan kemudian diolah menjadi obat tradisional. Apa yang telah dilakukan ini mendapat sambutan baik dari Bupati Lambongan yang menginginkan kotanya menjadi Kota Mengkudu. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meyakinkan masyarakat tidak berhasil. Akhirnya KH. Abdul Ghofur diminta untuk membantu sosialisasi penanaman mengkudu di Kota Lamongan.

Melalui pengajian, ceramah dan khotbah, masyarakat diajak untuk peduli pada pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan lahan kritis untuk ditanami mengkudu. Peran pemimpin pondok pesantren ini terbuktu efektif. Saat ini di Kabupaten Lamongan sudah terdapat 6 kelompok tani yang melakukan program penanaman mengkudu pada area seluas 110 hektar.

Dengan semakin bertambah luasnya area dan bertambah banyak hasilnya, maka muncullah persoalah baru, yaitu kelebihan hasil panen. Untuk mengantisipasi hal ini, KH Abdul Ghofur menggagas pendirian pabrik pengolahan sari buah mengkudu yang mampu menampung hasil panen, termasuk pemasaran hasil produksinya. Saat ini sari buah mengkudu produksi Pondok Pesantren dengan merk “SUNAN� telah menjadi konsumsi lokal, bahkan pasar Jepang dan Malaysia telah ditembus pula dengan merk “JAWA NONI�. Selain itu, pabrik ini juga memasok kebutuhan pabrik pakan ternak di Jawa Timur.

KH. Abdul Ghofur mengajarkan untuk selalu menggunakan pupuk organik dalam memelihara tanaman karena selain tanaman subur, buah yang dihasilkan tidak mengandung residu bahan kimia yang berbahaya. Kepada masyarakat diajarkan untuk membuat pupuk organik sendiri dengan bahan yang berasal dari limbah mengkudu dan kotoran sapi, eceng gondok, sabut kelapa, phosfat dan sisa hasil tangkapan ikan. Selain itu, Pondok Pesantren Sunan Drajat juga memiliki pabrik pupuk yang terletak sekitar 750 meter dari lokasi pondok.

Pemimpin Pondok Pesantren yang tidak hanya aktif di dunia pendidikan dan linkgungan ini juga peduli pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan terutama petani, buruh dan nelayan. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya Badan Koordinasi Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat yang berkonsentrasi pada pengelolaan unit koperasi sari buah mengkudu, pupuk organik, pembukaan lahan, peternakan, bordir dan konvensi dan kegiatan ekonomi lainnya. Tujuan dari semua ini adalah untuk memperkuat perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah terutama yang bertempat tinggal di linkgungan pesantren.

Perjuangan KH. Abdul Ghofur yang senantiasa bermitra dengan unsur pemerintah dan lembaga masyarakat akhirnya mendapat pengakuan dengan diangkatnya beliau menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi Pondok Pesantren Berbasis Agribisnis Pusat, Dewan Penasehat Kelompok Usaha Bersma Agribisnis Mengkudu (KUBA) dan Dewan Penasehat Kelompok Usaha Bersama Agribisnis Peternakan. Dengan kedudukan dan peran yang strategis itu, KH. Abdul Ghofur selain sebagai tokoh agama, juga menjadi agen pembaharu bagi terciptanya pembangunan berkelanjugan.

Sumber Informasi:
Buku Agenda Hari Lingkungan Hidup 2006