KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pengelolaan Sampah Kota Kendari

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Kendari diketahui bahwa warga Kota Kendari memproduksi sampah 541,78 m3 yang meliputi sampah organik dan anorganik. Dari total angka tersebut, yang mampu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir oleh Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Kendari berkisar 308 m3, sehingga 237 m3 sisanya tak terangkut.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Kendari, Drs Agus Abdullah saat menjadi narasumber dalam diskusi masalah persampahan yang di gelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari di Taman Srigading (11/2).

Tidak terangkutnya semua sampah tersebut ke TPA menurut Agus karena disebabkan armada angkutan sampah milik instansi yang dipimpinya sangat terbatas yaitu hanya 24 truk dan 8 unit motor, sementara objek atau luas operasi cukup luas.

“Hal itu disebabkan armada angkutan sampah milik kami hanya terdiri dari 24 truk dan 8 unit motor tak bisa mengimbangi jumlah kapasitas produksi sampah yang dihasilkan warga ataupun industri tiap harinya,� keluhnya.

Dia menuturkan, dalam menangani sampah di Kota Kendari, pihaknya menerapkan system rayon. Berdasarkan perintah Walikota semua armada sampah harus diperbantukan di setiap kecamatan. “Namun kendalanya adalah dari sisi penanggungjawabnya, sebab kalau saya serahkan ke kecamatan harus diubah dulu system organisasinya karena ini tertuang dalam Perda, terkecuali membentuk UPTD di kecamatan,�imbuhnya.

Dari sejumlah pasar yang ada di Kota Kendari diperoleh data produksi sampah, yaitu untuk Pasar Baru Wua-wua perharinya menghasilkan 30 m3 sampah sedangkan yang terangkut hanya 12 m3 per hari. Pasar sentral kota memproduksi 35 m3 perhari yang terangkut 17 m3/hari sedangkan sisanya 18 m3/hari tak terangkut. Pasar Anduonohu 15 m3 per hari terangkut 8 m3 per hari dan pasar Lapulu 8 m3 per hari yang terangkut keseluruhannya.

Jumlah penduduk kota yang tak sebanding dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tersedia di tiap wilayah meliputi pemukiman warga serta industri dan lain-lain. Akibat dari keadaan yang itu sampah dibuang secara serampangan dengan tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Akibatnya dari hari ke hari kondisi tersebut menimbulkan ketidak nyamanan di sejumlah sudut kota Kendari.

“Jumlah penduduk yang tak seimbang dengan sarana yang tersedia dari dinas kebersihan mengakibatkan sampah tak terkelola secara maksimal. Jadi ini harus di seimbangkan,�jelasnya.

Laju pertumbuhan jumlah penduduk terus meloncat tajam. Tahun 2003 penduduk yang ada berjumlah 222 ribu jiwa ditahun 2005 sudah 241 ribu jiwa. Menurutnya, sebuah mobil sampah hanya mampu melayani 1000 jiwa, demekian halnya dengan TPS yang ada berjumlah 2000 unit.

Sayangnya, TPS tersebut yang merupakan swadaya masyarakat tak dikoordinasikan ke pihak Dinas Kebersihan.�Mereka hanya membuat, lalu tak melapor sehingga tak ter-cover oleh armada kami. Karena semua TPS Kota Kendari sudah ada dalam catatan kita, setiap mobil punya target mengambil sampah di sejumlah TPS yang ada,�tandasnya.

Sementara Wakil Walikota Kendari, Ir Andi Muzakkir mengatakan, penilaian Adipura yang menempatkan Kota Kendari pada posisi ke 56 dari 60 kota sedang di Indonesia adalah merupakan cambuk bagi pemkot dan masyarakat Kota Kendari untuk lebih menggiatkan kegiatan pengelolaan dan perbaikan lingkungan hidup.

Dikatakan, melalui Program Bangun Praja yang mulai dengan gerakan Jumat bersih, Sabtu dan Minggu bersih. Wakil Wakilkota mengharapkan gerakan yang dimulai dari instansi pemerintahan itu dapat mengkikis rasa kemasabodohan warga. Tahun ia bersama timnya akan memulai program tersebut dengan melibatkan warga secara nyata.

Upaya lain juga akan dilakukan oleh pemkot ungkap Muzakkir adalah membuka kawasan percontohan bebas sampah. Petugas pengawas dan pengakut sampah akan ditempatkan di lapangan serta saksi akan diterapkan agar lingkungan Kota Kendari menjadi sehat dan asri. (Marwan Azis/Green Press)