KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

20 Januari 2003 – Dalam konteks perkembangan industri kepariwisataan dewasa ini ditengarai terdapat pergeseran orientasi, dari mass tourism menuju ke alternative tourism. Terdapatnya perubahan orientasi pasar saat ini mengarah kepada pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan yang lebih pada aspek kelestarian alam, lingkungan dan budaya (enviromentally and cultural sensitives), dalam bentuk alternative tourism (mencakup di dalamnya pengembangan skala-skala kecil wilayah potensial). Indikator keberhasilan pembangunan pariwisata yang menganut asas berkelanjutan tidak semata diukur dari perspektif ekonomi (meningkatnya devisa) yang dilegitimasi oleh lamanya kunjungan (lenght of stay) serta eksploitasi lingkungan alam untuk pariwisata, namun perlu dilandasi dengan visi kelestarian dan pemberdayaan, yang arahnya kepada kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan serta penghargaan pada nilai-nilai sosiokultural kemasyarakatan.

Mengawali pencanangan Dusun Ketingan sebagai Desa Wisata, telah diadakan “Kenduri desa” yang mencoba menyelaraskan pemaknaan lokal dengan issue global dan nasional utamanya yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan yang juga akan dilaksanakan di Yogya pada tanggal 21 Januari. Semua makanan yang tersaji (“Ubo Rampe”) memiliki makna dan harapan yang selaras dengan pemahaman pembangunan berkelanjutan. Ini membuktikan bahwa apa yang difahami oleh masyarakat tidaklah lebih rendah oleh apa yang difahami oleh para penentu kebijakan di negeri ini dalam persoalan lingkungan, dan bukan hanya sebagai obyek penyadaran lingkungan dan program penyadaran lainnya.

Kegiatan ini didukung oleh banyak pihak baik dari dinas terkait, universitas, LSM maupun masyarakat (ada 24 desa yang tergabung dalam forum desa wisata) untuk membangun bersama suatu kesepakatan dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Model adopsi penanaman (“Tree Adoption”) dan pemeliharaan serta pemanfaatan pohon sebagai fungsi ekonomi dan ekologi oleh masyarakat dan wisatawan, merupakan bagian dari gerakan penanaman pohon dan perbaikan lingkungan. Telah banyak gerakan penanaman pohon yang dilaksanakan pada beberapa tahun yang silam dan dikerjakan oleh banyak pihak di berbagai lokasi, namun model ini lebih spesifik dalam hubungannya dengan pariwisata.

Untuk mendukung model ini program ini, masyarakat didorong untuk memanfaatkan kembali potensi-potensi desa yang selama ini dianggap sebagai sampah belaka. Sisa dari kegiatan pertanian dan sampah-sampah lain bisa diolah menjadi pupuk organik. Pengetahuan itu sebenarnya sudah ada di masyarakat sejak dahulu tetapi telah terkikis oleh pola pembangunan selama ini. Saat ini mereka telah mencoba untuk membuat pupuk sendiri dan juga mengembangkan pembibitan sendiri di desa sehingga kelak mereka mampu untuk menjadi “bank bibit”, bahkan saat ini mereka sudah bisa memberikan berbagai macam bibit kepada masyarakat Bandung yang diserahkan melalui Bapak Deputi V, Prof DR. Tanwir Y. Mukawi. Dalam kesempatan yang sama acara tersebut juga dihadiri kepala Dinas Lingkungan Kabupaten Bandung untuk menerima bibit dari masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama Bapak Deputi juga melakukan pelepasan burung Kuntul yang menjadi salah satu daya tarik desa ketingan sebagai desa wisata. Ikon satwa ini diharapkan mampu menggerakan masyarakat untuk bisa selaras dengan alam dan menjadikan usaha pelestarian lingkungan sebagai usaha yang juga mempunyai manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Informasi lebih lanjut:
Asisten Deputi Urusan Dampak Kegiatan Rakyat,
Bidang Kehutanan dan pertanian
Deputi Pengendalian Dampak Non Institusi, Kementrian lingkungan Hidup
E-mail: praszt@menlh.go.id
Telp: 021 85911114