KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


kader2.jpgSetelah proses pengkaderan dilakukan pada wilayah Timur Jawa di Kabupaten Pamekasan dan Bangkalan, kini giliran pengkaderan lingkungan di lakukan pada wilayah Selatan Jawa, yaitu di Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Yogyakarta.

Bertempat di Ibukota Kabupaten Gunung Kidul, Wonosari, pengkaderan lingkungan dilakukan pada masyarakat kawasan hulu dan hilir sebanyak 50 (lima puluh) orang, yang terdiri dari berbagai perwakilan dari kelompok-kelompok masyarakat yang berasal dari berbagai desa dan kecamatan, antara lain Desa Girisubo, Pringsanggar, Sidoharjo, Ngestiharjo, Purwodadi di Kecamatan Tepus, Desa Kemadang, Banjarejo, Ngestirejo di Kecamatan Tanjungsari, Desa Bejiharjo, Kelor di Kecamatan Karangmojo, Desa Beji di Kecamatan Ngawen, Desa Karangtengah di Kecamatan Wonosari, Desa Getas, Logandeng di Kecamatan Playen, Desa Ngeposari di Kecamatan Semanu, Desa Natah, Kedungpoh di Kecamatan Nglipar, Desa Tetis di Kecamatan Saptosari.

Di samping anggota masyarakat pengkaderan ini juga diikuti oleh Tim Penggerak PKK dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunung Kidul serta Universitas Gunung Kidul. Pengkaderan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat untuk melakukan pembelaan terhadap lingkungan.

Melalui kelompok-kelompok yang telah terbangun, proses pengkaderan diarahkan kedalam perumusan perencanaan partisipatif kelompok-kelompok masyarakat dalam melakukan penyusunan program dan kegiatan yang lebih nyata di setiap organisasi kemasyarakat yang ada tersebut.

Di Kabupaten Gunung Kidul, permasalahan lingkungan di kawasan hulu yang cukup menonjol selama ini adalah masalah kerusakan lahan. Berdasarkan data beberapa kerusakan sumberdaya hayati yang terjadi dikarena adanya kerusakan lahan seluas + 64 ha yang diakibatkan karena adanya penambangan batu gamping dan penebangan liar, seperti yang terjadi di Kecamatan Karang Tengah, Piyaman dan Karang Asem.

Belum lagi kerusakan sumberdaya hayati yang berada pada ekosistem kars yang banyak disebabkan karena kondisi alam lingkungan fisiknya berupa lahan kritis dengan cakupan yang cukup luas, yang kesemuanya tentunya mempengaruhi kualitas lingkungan yang sehat dan baik. Akibatnya kondisi dan kualitas lingkungan yang ada sangat rentan dan berpotensi terjadinya bencana lingkungan, seperti bencana longsor pada waktu musim penghujan dan kekeringan di waktu musim kemarau.

Di kawasan pesisir Kabupaten Gunung Kidul masalah lingkungan juga kerab kali terjadi, seperti erosi gelombang dan abrasi, penambangan pasir marin, pengambilan daun papandus, terumbu karang dan penurapan air laut.

Tentu saja masalah lingkungan ini cepat atau lambat akan menimbulkan  dampak lanjutan yang sangat merugikan masyarakat dalam berbagai aspek, baik aspek sosial, ekonomi dan juga budaya.Tentunya dengan berbagai persoalan lingkungan yang terjadi, pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul tidak akan mampu menyelesaikan persoalan lingkungan itu tanpa peran masyarakat dan intensitas yang tinggi.

Proses pengkaderan yang di buka oleh Wakil Bupati Gunung Kidul berlangsung satu hari penuh pada tanggal 19 Juni 2007, kemudian dilanjutkan dengan gerakan bersih pantai yang dilakukan pada hari berikutnya tanggal 20 Juni 2006.

Gerakan bersih pantai yang dilakukan pada kawasan pariwisata Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjung Sari yang diikuti oleh sekitar 600 orang warga masyarakat, di buka dan dipimpin langsung oleh Bupati Gunung Kidul bersama Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat (Deputi VI MENLH), dan didampingi oleh MUSPIDA Kabupaten Gunung Kidul, serta dinas dan instansi terkait daerah di bawah Koordinasi Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan dan Asisten Deputi VI MENLH Urusan pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dan juga dihadiri oleh perwakilan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa.

Sebelum dimulainya gerakan bersih pantai, terlebih dahulu dilakukan penyerahan secara simbolis alat-alat kebersihan oleh Bupati Gunung Kidul, penyerahan sertifikat kader lingkungan oleh Deputi VI MENLH dan secara bersamaan melakukan selubung papan himbauan pantai bersih.

Setelah kegiatan gerakan bersih pantai, kegiatan kemudian dilanjutan dengan ceremonial penyerahan jaminan pasar jarak kepyar oleh P.T. Kimia Farma kepada Yayasan Lestari Indonesia yang disaksikan oleh Wakil Bupati Gunung Kidul dan Deputi VI MENLH di Desa Kepek, Kecamatan Saptosari.

Keterlibatan dunia usaha ini merupakan komitmen yang telah dibangun sebelumnya oleh Deputi VI MENLH dengan jajaran direksi perseroan tersebut pada dua tahun sebelumnya, yaitu tahun 2005. Sedangkan Yayasan Lestari Indonesia merupakan mitra kerja unit Asisten Deputi Urusan Masyarakat Pedesaan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat dalam optimalisasi lahan kering di kawasan Kabupaten Gunung Kidul sejak tahun 2006 lalu, sekaligus melakukan pendampingan dan masih terus berlanjut.

Pada saat ini luasan lahan dan jumlah tanaman jarak yang telah dilakukan yaitu :


No.

Kecamatan

Luasan Lahan

Jumlah Tanaman (Batang)

1.

Panggang

84,25 ha

15.200

2.

Saptosari

84,80 ha

49.470

3.

="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify">Paliyan

140,30 ha

15.709

4.

Playen

91,80 ha

470

5.

Wonosari

8,00 ha

300

6.

Karangmojo

5,20 ha

"IN" style="FONT-FAMILY: Tahoma; mso-ansi-language: IN">1.600

7.

Semin

98,65 ha

860

8.

Ngawen

38,65 ha

2.410

9.

Ponjong

564,65 ha

28.100

10.

Purwosari

yle="BORDER-RIGHT: windowtext 1pt solid; PADDING-RIGHT: 5.4pt; BORDER-TOP: #ece9d8; PADDING-LEFT: 5.4pt; PADDING-BOTTOM: 0in; BORDER-LEFT: #ece9d8; WIDTH: 110.7pt; PADDING-TOP: 0in; BORDER-BOTTOM: windowtext 1pt solid; BACKGROUND-COLOR: transparent; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt" valign="top" width="148">

122 ha

20.125

11.

Imogiri Bantul

10,128 ha

1.500

 

Total

1.233,018 ha

135.744


Kedepan kader-kader lingkungan yang telah terbentuk akan dilakukan fasilitasi dalam membangun aliansi strategis masyarakat peduli lingkungan dan komunikasi serta advokasi poros Jawa sebagai simpul-simpul strategis, melalui penguatan kelompok-kelompok binaan yang memiliki motivasi tinggi dan berpotensi melakukan pergerakan pembelaan lingkungan berkelanjutan.

Sumber :

Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan
Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas
JAKARTA TIMUR
Telp/fax : (021) 8580087