KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Seiring dengan semakin meningkatnya pembangunan dalam segala bidang termasuk kemajuan teknologi membawa pengaruh negatif lainnya bagi kehidupan manusia. Salah satu sektor kemajuan yang sangat pesat adalah sarana transportasi yang dapat mempermudah dan juga mempercepat manusia dalam menjalankan suatu kegiatan. Kebisingan merupakan suatu masalah yang tidak dapat dihindari akibat kemajuan sarana transportasi tersebut.

Meningkatnya jumlah kendaraan seiring dengan meningkatnya tingkat kebisingan dari sarana transportasi tersebut yang berakibat mengganggu kegiatan manusia sehari-hari. Tingkat kebisingan dari lalu lintas jalan raya, pesawat terbang, ataupun kereta api menunjukkan bahwa intensitas suara yang dihasilkan cukup tinggi dan mempunyai tingkat fluktuasi yang tinggi pula. Masalah kebisingan ini sudah semakin mengancam tingkat kenyamanan dan kesehatan manusia.

Saat ini banyak kota-kota di Indonesia yang mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama pada sarana transportasi dan perluasan daerah pemukiman. Dampak dari perkembangan tersebut antara lain banyaknya pemukiman yang berhadapan langsung dengan jalan raya, bandara, ataupun rel kereta api sehingga menimbulkan dampak negatif antara lain kebisingan. Oleh karena itu untuk menjaga kenyamanan dan kelestarian lingkungan pemukiman, diperlukan usaha-usaha manusia yang bertujuan untuk meminimumkan dampak negatif tersebut.

Pemantauan kebisingan tahun 2008 merupakan lanjutan dari program pemantauan kebisingan lingkungan pada tahun 2006 dan 2007, dimana pemantauan difokuskan pada kawasan pemukiman dengan tujuan mengetahui pola kebisingan yang terjadi di daerah pemukiman. Pemantauan tahun 2008 ini dilakukan di lima kota di Indonesia, yaitu Pekanbaru, Denpasar, Pangkal Pinang, Balikpapan, dan Palangkaraya. Di tiap kota dilakukan pengukuran tingkat kebisingan lingkungan di dua titik, dimana titik pertama merupakan pemukiman yang berhadapan langsung dengan jalan raya utama yang melintasi pemukiman tersebut.

Sedangkan titik kedua terletak di dalam kawasan pemukiman tersebut. Dari hasil pengukuran yang didapat, 95% data titik pengukuran satu telah melewati baku tingkat kebisingan lingkungan KepMen LH No. 48 Tahun 1996 untuk kawasan pemukiman. Sedangkan untuk titik pengukuran dua pada umumnya tidak melewati baku tingkat kebisingan lingkungan KepMen LH No. 48 Tahun 1996.

Sumber: PUSARPEDAL