KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dengan memilih tempat di Balai Desa Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu Kota Semarang, ahad 18 Desember 2005 Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat melakukan evaluasi dan penguatan kader lingkungan pada pertemuan catur wulanan yang dikemas dalam diskusi publik “Membangun Kemitraaan Dengan Masyarakat Dalam Menentukan arah Penataan Pembangunan yang Terencana�.

Kegiatan yang merupakan inisiatif masyarakat wilayah pesisir yang tergabung dalam Forum Komunikasi Peduli Pesisir (FKMPP) Jawa Tengah, mencoba membuat rumusan strategis kegiatan yang lebih fragmatis sebagai landasan dalam menangani bebagai dampak lingkugan yang terjadi di wilayah Jawa Tengah khususnya di kawasan Kota Semarang.

Kota Semarang berdasarkan data, memiliki luas kawasan 37.070,39 ha dengan kepadatan penduduk sebanyak 1.376.798 jiwa (2003). Dengan luas kawasan lebih dari 27 ribu hekatar tersebut, Kota semarang memiliki wilayah laut dengan garis pantai sepanjang 13,6 km, dengan wilayah pemerintahan setingkat desa sebanyak 15 wilayah administrasi yang terbagi dalam 6 wilayah pemerintah kecamatan, yang salah satunya adalah Desa Mangkang Wetan yang terdapat di Kecamatan Tugu.

Permasalahan lingkungan yang sering terjadi di Kota Semarang adalah masalah banjir dan rob yang disebabkan karena pengalihan fungsi lahan di wilayah pantai yang semula merupakan kawasan pertambakan dan persawahan berubah menjadi daerah industri dan pemukiman, sehingga kawasan tersebut tidak lagi mampu menampung pasang air laut.

Persoalan lingkungan lainnya adalah masalah sedimentasi sebagai akibat erosi, seperti Kecamatan Gunung Pati, Banyumanik dan Tembalang, Mijen, Gajah Mungkur, Semarang Barat, Candisari dan Tugu. Akibatnya sedimentasi terjadi di daerah muara yang merupakan pertemuan sungai-sungai kota, seperti Sungai Banjir Kanal Barat, Sungai Banjir Kanal Timur, Sungai Sringin dan Sungai Babon.

Penurun permukaan tanah (Land Subsidence) berkisar antara 0,05-0,2 m/thn. Kondisi ini yang paling besar terjadi di sekitar Pelabuhan Kota Semarang, Pondok Hasannudin hingga Selatan Stasiun Tawang.

Abrasi dan akresi hampir terjadi di seluruh Kota Semarang, dan terberat terjadi di pantai Mangunharjo, Tana Mas, Kelurahan Trimulyo, dan muara Sungai Banjir Kanal Barat dan Timur. Belum lagi masalah pencemaran industri dan sampah domestik serta intrusi air laut.

Menurut Kepala Kelurahan Mangkang Wetan, kelurahan yang memiliki potensi lahan pertanian seluas 129 ha dan 150 ha daerah tambak, degradasi lingkungan telah menunjukan kondisi yang memprihatinkan. Banjir yang terjadi dalam setiap tahunnya bukan terjadi satu atau dua kali kejadian bahkan telah mencapai puluhan kali dalam setiap tahun. Belum lagi persoalan sosial (kemiskinan) masyarakat desa yang menyebabkan persoalan lingkungan menjadi semakin terpinggirkan. Sehingga menurut kepala kelurahan tersebut perlu adanya upaya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dan kalangan LSM maupun perguruan tinggi pada masyarakat-masyarakat desa, terutama mereka yang hidup tergantung dari SDA.

Hal senada juga disampaikan oleh wakil dari Kecamatan Tugu yang menginginkan perbaikan lingkungan dilakukan melalui upaya pelestarian, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan lingkungan itu sendiri.

Dalam arahannya Deputi Bidang komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat menyampaikan bahwa penangan dalam penyelesaian persoalan lingkungan yang terjadi di Kota Semarang tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik dan berhasil apabila tidak ada peran aktif dari masyarakat. Sehingga yang terpenting adalah kita tidak perlu menjadi orang yang terlalu optimistis, dan juga menjadi orang yang terlalu pesimistis, tetapi kita perlu menjadi orang yang fragmatis, yang terpanggil dan tergerak untuk melakukan pembelaan terhadap lingkungan apabila terjadi persoalan.

Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh anggota FKMPP, perwakilan masyarakat Kali Sringin dan Kali Garang, BAPPEDALDA Propinsi Jawa Tengah, BAPEDALDA Kota Semarang, MIL-UNDIP dan pihak lain.

Diharapkan masyarakat dapat membuat program kerja yang lebih jelas kedalam berbagai aktivitas lingkungan yang tersusun melalui perencanaan lingkungan yang partisipatif, yang dapat membangun kontinuitas kegiatan dan upaya perbaikan lingkungan secara terencana dan terpadu, dengan dukungan berbagai pihak. Kegiatan ini juga sekaligus bertujuan untuk sinkronisasi program kegiatan masyarakat, Pemerintah Kota maupun propinsi untuk menuju Kota Semarang lebih baik, hijau dan lestari.

Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dan fasilitasi Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat dan Deputi Tata Lingkungan KMNLH sebagai komitmen dalam upaya membangun masyarakat yang madani.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula Penyerahan Bibit oleh Asdep Urusan Perencanaan Lingkungan (Asdep 2/I), dan penanaman 1.000 pohon mahoni di sekitar DAS di wilayah kota oleh masyarakat, sekaligus mendeklarasikan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Semarang (MPLS).

Informasi :
Asdep urusan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan
Pemberdayaan Masyarakat
Tel: 021-8580087