KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Gerung, 1-2 Okotber 2005. Da’i, guru, dan pramuka memiliki kedudukan dan peran strategis dalam menggalang peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan, khususnya di daerah Lombok Barat yang dikenal dengan sebutan sejuta Mesjid. Mereka berada di lini depan dan menjadi mitra pelestarian lingkungan serta harus berdaya. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Lombok Barat, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup melaksanakan Dialog Pemberdayaan Da’i Lingkungan yang dilanjutkan dengan KEMAH BHAKTI LINGKUNGAN yang berlangsung di Giri Menang Gerung, tanggal 1 s/d 2 Oktober 2005. Kegiatan ini diikuti oleh Wakil Bupati Lombok Barat, Deputi VI, unsur Muspida Kabupaten Lombok Barat, 60 orang Dai, 200 orang Pramuka, Polri, TNI, Pam Swakarsa, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan kader-kader lingkungan yang sudah terbentuk di Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini dirangkaikan dengan aksi penanaman pohon di bekas lahan galian C, pemasangan portal penutup jalan menuju lahan penambangan ilegal, dan aksi bersih pantai Sengggigi.
Di sela-sela pelaksanaan kemah Pramuka dan dialog Da’i, bersama Deputi VI dilakukan peninjauan ke hutan Lindung Pusuk untuk melihat langsung kegiatan penerima Kalpataru, H. Arfan, yang menanami lahan bawah tegakan dengan tanaman gaharu. Sekitar 5 ha hutan gaharu telah siap inokulasi dan siap panen, sedangkan 5 ha lainnya baru ditanami. Di lokasi tersebut juga tersedia 10.000 polybag bibit gaharu yang siap tanam. Diperlukan fasilitasi dan kemitraan dari swasta maupun pemerintah untuk memanfaatkan bibit tersebut sekaligus mendistribusikannya kepada masyarakat secara cuma-cuma.
Dari berbagai dialog dan pengamatan lapangan, diketahui bahwa tanaman gaharu sebagai endemik memiliki prosfek ekonomi yang baik dalam mening¬katkan pendapatan masya¬rakat. Mengingat upaya konservasi bersinergi dengan kesejahteraan, maka sangat tepat jika lahan tidak produktif dimanfaatkan untuk budidaya gaharu, gamal dan jarak, sebagai sumber ekonomi masyarakat. Diperlukan induk kambing perah (FE) dan mesin penggiling jarak sebagai sarana pendukung untuk memanfaatkan daun gamal sebagai pakan kambing dan buah jarak sebagai minyak. Melalui pola kemitraan, ketiga alternatif pemberdayaan (melalui budidaya gaharu, gamal dan jarak) yang mensinergikan upaya konservasi dan ekonomi rakyat, akan dapat terwujud pada waktu mendatang.***

Informasi Lebih Lanjut Hubungi:
Asdep Urusan Masyarakat Pedesaan , Deputi VI
Ged. B Lantai 5 Kementerian LIngkungan Hidup
Jl. D.I. Panjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410
Telp (021) 8520392; Faks. (021) 8580087
E-mail: kalpataru@yahoo.com