KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Beberapa tahun yang lalu pemerintah telah mencanangkan penggunaan briket batubara sebagai energi alternatif pengganti minyak tanah di industri kecil-menengah dan rumah tangga. Namun demikian, dampak penggunaan briket batubara harus diwaspadai mengingat batubara mengandung komponen yang potensial untuk memberikan dampak terhadap manusia dan lingkungan setelah mengalami proses pembakaran. Oleh karena itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup cq.PUSARPEDAL perlu  berkewajiban menyediakan data-data yang komprehensif untuk mengantisipasi dampak penggunaan briket batubara ini terhadap lingkungan, sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan pengendalian penggunaan briket batubara.

Kajian ini diawali dengan melakukan pemantauan untuk mendapatkan data kualitas udara ambien sebagai bagian dari kajian yang komprehensif tentang penggunaan briket batubara dalam mengantisipasi dampak negatifnya terhadap lingkungan. Pelaksanaan kajian komprehensif ini dilakukan bersama-sama tim teknis terpadu dari instansi-instansi lain antara lain BPPTeknologi dengan ruang lingkup pengukuran emisi kompor, Pusat Penelitian Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira) bersama Balai Hyperkes memantau indoor air quality dan kualitas bahan baku, Departemen Kesehatan memantau dampaknya terhadap penggunan, sedangkan PUSARPEDAL memantau kualitas udara ambien.

Pengukuran dilakukan di dua lokasi kegiatan industri kecil/rumh tangga yaitu di Malang dengan µkegiatan industri permen dan di Kudus dengan kegiatan industri bandeng presto yang masing-masing menggunakan briket batubara sebagai bahan bakarnya.

Hasil pengukuran terhadap parameter ambien TSP, SO2, NO2, dan CO berada di bawah Baku Mutu sesuai Lampiran PP No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara kecuali di daerah Malang arah utara dan selatan untuk parameter SO2 dan CO pada sore hari berada pada kadar yang sama dengan baku mutu yaitu 900 µg/Nm3 untuk SO2  dan 30000 µg/Nm3 untuk CO. Untuk parameter HC, di beberapa lokasi kegiatan terukur dalam konsentrasi melebihi baku mutu (>160 µg/NM3), akan tetapi di lokasi kontrol-pun terukur di atas baku mutu.

Sumber:
Pusarpedal
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Serpong