KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Banjarmasin, 1 Juli 2013. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA melakukan Kunjungan Kerja ke Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 1 – 2 Juli 2013 untuk memastikan langkah kongkrit yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Daerah di Provinsi/Kabupaten/Kota serta mitra lainnya dalam upaya penurunan pencemaran udara dan air serta penyediaan air bersih.

Tidak dapat dipungkiri, pertambahan penduduk, peningkatan urbanisasi, dan pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkatkan jumlah air limbah dan timbulan sampah. Apabila limbah dan sampah tidak dapat dikendalikan akan berpotensi menjadi kontributor pencemaran air sungai dan menyebabkan penurunan kualitas air serta degradasi fungsi lingkungan atau DAS. Dari sisi kuantitas, kebutuhan air bersih meningkatkan yang tidak seimbang dengan ketersediaannya.

Ketersediaan air yang berkualitas baik pada banyak sungai di Indonesia termasuk Sungai Amandit di Kota Kandangan mempunyai kecenderungan semakin berkurang akibat penurunan kualitasnya. Hasil pemantauan terhadap 30 sungai di Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama dengan pemerintah provinsi, kabupaten/kota menunjukkan bahwa 2,9% memenuhi baku mutu air sungai Kelas II, 47,8% tercemar ringan, 34,5% tercemar sedang, dan 14,7% tercemar berat. Bupati Kabupaten Hulu Sungai Selatan didukung oleh KH. M. Dhiauddin, LC, pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum serta mitra lainnya bertekad meningkatkan kualitas dan kuantitas air sungai melalui salah satu programnya yaitu “Sungai Amandit Bebas Jamban”.

Kementerian Lingkungan Hidup memberi dukungan atas inisiatif ini dengan membangun pilot project Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik dan Biogas di Pondok Pesantren Darul Ulum. Menteri Lingkungan Hidup dalam meresmikan IPAL tersebut menyatakan, “Saya sangat menghargai dan memberi apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang bertekad menjadikan Sungai Amandit di Kota Kandangan ini bebas dari jamban dan tinja. Namun tekad ini tentu tidak cukup tanpa dukungan penuh masyarakat. Oleh karena itu, apresiasi ditujukan pula kepada jajaran Pondok Pesantren Darul Ulum dibawah pimpinan Bapak KH. M. Dhiauddin, LC. Semoga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik dan Biogas yang dibangun Kementerian Lingkungan Hidup dapat segera mewujudkan tujuan Program “Sungai Amandit Bebas Jamban” dan menjadi model yang diikuti segenap lapisan masyarakat kota Kandangan.”

|IPAL Biogas di Pondok Pesantren Darul Ulum memiliki kapasitas 37 m3/hari. Beban pencemaran yang dapat diturunkan adalah sebesar 4,6 ton/hari yang sebelumnya beban pencemaran langsung masuk ke badan air Sungai Amandit. Manfaat lain yang diperoleh adalah ketersediaan biogas sebagai sumber energi dengan nilai ekonomi sebesar Rp. 18.515 per hari. IPAL semacam ini dapat direplikasikan di sepanjang Sungai Amandit.

Pada hari yang sama, Menteri Lingkungan Hidup berkesempatan pula untuk melakukan uji emisi kendaraan bermotor, penandatangan Kesepakatan Bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Pemerintah Kota Banjarmasin tentang “Penyusunan Inventarisasi Emisi Pencemar Udara Kota Banjarmasin” serta menyerahkan IPAL Rumah Potong Hewan kepada Bupati Tanah Laut di Kelurahan Sarang Halang, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Pada kesempatan ini, Menteri Lingkungan Hidup menyatakan, “Semua kegiatan ini bertujuan untuk memastikan tetap terjaganya kualitas lingkungan hidup kita, baik kualitas udara maupun kualitas air melalui upaya pengurangan beban pencemaran yang masuk ke lingkungan. Lingkungan hidup yang sehat dan bersih merupakan hak azasi, hak konstitusional setiap warga negara di Republik tercinta ini. Oleh karena itu, maka Negara dalam hal ini Pemerintah, berkewajiban untuk selalu menjamin tersedianya air yang bersih, udara yang sehat dan lahan
yang tidak terkontaminasi oleh limbah berbahaya dan beracun.”

Melalui kegiatan uji emisi kendaraan bermotor kita bisa melakukan tindakan pengendalian pencemaran udara. Apresiasi ditujukan kepada pihak PT. Pertamina yang telah menerapkan ketentuan agar semua kendaraan yang masuk ke area Depo Pertamina Kuin sudah harus lulus uji emisi.

Penyusunan Inventarisasi Emisi Pencemar Udara Kota Banjarmasin bermanfaat untuk dapat segera mengetahui lokasi yang kualitas udaranya kurang atau tidak sehat karena pencemarannya tinggi dan sekaligus dapat diketahui sumber pencemarnya. Melalui peta tersebut, dengan mudah dapat diketahui jalan raya maupun jalan lain yang bermasalah mengalami kemacetan yang identik dengan tingginya pencemaran di ruas jalan tersebut. Informasi ini dapat menjadi bahan dasar dalam menerapkan manajemen lalu lintas yang baik dan benar.

Selanjutnya, dengan pengelolaan limbah dari rumah potong hewan melalui IPAL, kita juga dapat mengurangi beban air limbah yang sebelumya langsung masuk ke badan perairan umum. Kementerian Lingkungan Hidup dalam melakukan upaya-upaya penurunan beban pencemaran ke air dan udara di Kalimantan Selatan ini, berharap dapat memberikan inspirasi bagi daerah-daerah lainnya untuk perbaikan pengelolaan lingkungan hidup saat ini yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Informasi lebih lanjut:
Drs. M.R. Karliansyah, MS,
Deputi II MENLH Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan,
Tlp/Fax: (021-8580107)
email: humaslh@gmail.com / www.menlh.go.id