KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dr. Henry Bastaman, MES, Deputi VI Menneg LH
Bid. Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

Sejak jaman purbakala, sungai memiliki peranan penting dan vital bagi kehidupan manusia. Tidak hanya berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya ekosistem, tapi juga cumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. Di dalam sejarah, dinamika kehidupan manusia senantiasa berada di sekitar sungai.

"Sayangnya, tidak semua orang, IE)mbaga dan instansi memiliki kepedulian yang sama terhadap keberadaan sungai. Pada hal di jaman modern, sungai tetap punya pecan penting, baik secara fisik, sosial maupun kultural," tegas Henry Bastaman, Deputi VI Menneg LH Bidang Komunikasi Lingkungan & Pemberdayaan Masyarakat dalam satu diskusi di Universitas Gajah Marla Yogyakarta. Ditegaskannya, untuk membenahi sungai-sungai yang aida di perkotaan, tidak cukup dengan pendekatan teknis semata. Tapi juga mesti dengan pendekatan sosial budaya. Kombinasi pendekatan seperti ini masih jarang dilakukan. Karena itu ke depan harus ditumbuh¬kan komunitas masyarakat yang peduli sungai.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, kata Henry Bastaman, melalui Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya UGM beserta Komunitas Masyarakat Peduli Sungai akan terus mendiskusi¬kan hal ini. Sungai-sungai yang melintas di perkotaan terus mengalami penurunan kualitas dari waktu ke waktu. Pada hal sudah berbagai upaya dilakukan untuk memulihkan kondisi sungai, baik oleh pemerintah pusat,  daerah maupun lembaga lain.

Sungai Babon Semarang
Sebelumnya, Henry Bastaman juga mengemukakan hal yang sama pada pertemuan bersama masyarakat bantaran Sungai Babon Semarang, 19 Mei di Hotel Pandanaran Semarang. Forum ini diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang mengusung terra "Peningkatan Kapasitas Masyarakat tentang pengelolaan Sungai Babon.

Sungai Babon, kata Henry Bastaman, mempunyai fungsi yang amat strategis karena Daerah Aliran Sungai (DAS) ini cukup lugs, meliputi wilayah tiga daerah, yakni wilayah Kabupaten Semarang, Kotamadya Semarang dan Kabupaten Demak.

Namun sayangnya, kualitas air Sungai Babon saat ini mengalami penurunan, khususnya pada rugs sungai yang berada di Kotamadya Semarang (wilayah tengah). Indikatornya, tingkat pencemaran air sungai termasuk tinggi akibat akumulasi limbah yang berasal dari hulu maupun tingkat intensitas aktivitas perkotaan. Aktivitas masyarakat yang tidak memperhatikan faktor lingkungan yang memberikan kontribusi penurunan kualitas air Sungai Babon. Banyak limbah rumah tangga dan industri, di buang di sungai ini.

Bahkan sedapt mungkin sungai Babon dijadikan Icon kota Semarang. Seperti dilakukan oleh warga di sekitar sungai Brisbane Australia, yang menjadikan sungai itu sebagai ikon daerah Brisbane, kata Henry Bastaman. "Sungai Brisbane semula sangat tercemar. Pemukiman di sekitarnya juga kumuh. Pembenahan pendekatan teknologi, seperti membangun IPAL dan melakukan pembersihan serta penjernihan air sungai, hasilnya masih kurang memuaskan. Baru setelah dilakukan pendekatan sosial budaya, dengan memperhatikan budaya masyarakat lokal hanya dalam kurun waktu empat tahun telrihat kemajuan yang amat berarti.

Dengan pendekatan sosial budaya, tempat pemukiman di sekitar sungai ditata kembali, industri-industri dipindahkan ke wilayah yang memadai dan bantaran sungai dijadikan arena aktivitas sosial dan budaya yang di dukung oleh masyarakat di sekitarnya. Hasilnya sungai ini menjadi "ikon kota." Masyarakat di sekitar sungai Babon tentu dapat mengadopsi cars yang dilakukan oleh masyarakat di Brisbane.

Dengan kata lain, dalam mengelola Sungai Babon, perlu sinergitas antara masyarakat lokal, pemerintah daerah dan swasta, dengan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat melalui peningkatan pengetahuan masyarakat dalam hal pengelolaan sungai. pendekatan melalui institusi pemerintah dan pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang sangat strategis dalam mengembalikan fungsi sosial sungai.

Wakil Walikota Kota Semarang Ali Machfuds, dalam sambutannya menegaskan komitmen dari Pemerintah Daerah untuk mengelola lingkungan hidup dengan melakukan inovasi yang cerdas dan kemauan yang kuat sehingga masyarakat dapat meniru untuk lebih peduli terhadap lingkungan, kemudian menjadi percontohan untuk kota-kota lain. 
Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
Hal 5
edisi: 25 Juni – 01 Jili 2009