Penutupan COP-9 (Vienna Convention) dan MOP-23 (Montreal Protocol) Hasilkan Deklarasi Bali

Prof. Kambuaya menekankan beberapa poin penting, yaitu penyediaan bahan alternatif pengganti Bahan Perusak Ozon yang layak secara ekonomi dan teknis; sinergi upaya pemulihan lapisan ozon dan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer; serta perlu adanya komitmen yang tinggi dan upaya yang keras oleh komunitas internasional..

28 Nov 2011 03:51 WIB

PENUTUPAN JOINT COP-9 TO THE VIENNA CONVENTION
FOR THE PROTECTION OF THE OZONE LAYER
and MOP-23 TO THE MONTREAL PROTOCOL ON SUBSTANCES THAT DEPLETE THE OZONE LAYER

Bali, 25 November 2011. Konferensi  PBB Tentang OZON atau Joint 9th Meeting of the Conference of Parties to the Vienna Convention serta 23rd Meeting of the Parties to the Montreal Protocol telah ditutup dan salah satunya menghasilkan kesepakatan yang disepakat 95 negara pihak (dari 128 negara yang hadir), baik dari negara berkembang maupun negara maju, dinamakan Bali Declaration on Transitioning to Low Global Warming Potential Alternatives to Ozone Depleting Substances (Deklarasi Bali Tentang Transisi Bahan Perusak Ozon Alternatif yang Memiliki Potensi Pemanasan Global Rendah). Deklarasi ini memuat semangat untuk melaksanakan transisi penggunaan bahan perusak ozon alternatif yang sekaligus memiliki potensi pemanasan global lebih rendah. Deklarasi merupakan usulan dari Indonesia untuk menjembatani semua kepentingan negara pihak dalam upaya penyelamatan lapisan ozon ang seiring mencegah memburuknya perubahan Iklim. Melalui proses negosiasi dan persuasi dari Delegasi Republik Indonesia, di penghujung konferensi akhirnya disepakati Deklarasi Bali tersebut.

Deklarasi Bali yang diinisiasi Indonesia sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Prof. Balthasar Kambuaya disambut baik peserta konferensi negara para pihak. Prof. Kambuaya menekankan beberapa poin penting, yaitu penyediaan bahan alternatif pengganti Bahan Perusak Ozon yang layak secara ekonomi dan teknis; sinergi upaya pemulihan lapisan ozon dan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer; serta perlu adanya komitmen yang tinggi dan upaya yang keras oleh komunitas internasional menjadi sangat penting.

Deklarasi Bali menyentuh isu transisi menuju tingkat pemanasan global yang lebih rendah, melalui penggunaan alternatif dari Bahan Perusak Ozon (BPO). Disepakati 5 hal sebagai berikut yaitu : Pertama, mendorong Negara Pihak untuk memilih bahan alternatif yang memiliki potensi pemanasan global lebih rendah dengan melakukan implementasi HCFCs Phase-out Management Plans untuk memenuhi control target pada tahun 2013 dan 2015; Kedua, mengajak Negara Pihak untuk melakukan studi lebih lanjut bahan alternatif yang memiliki potensi pemanasan global lebih rendah yang mencakup, tapi tidak terbatas kepada, aspek ekonomi, teknis, ketersediaan di pasar, kesehatan dan keselamatan manusia khususnya dunia industry; Ketiga, mengundang Negara Pihak dan negara lain untuk penyediaan bantuan keuangan dan teknis termasuk di dalamnya transfer teknologi dan peningkatan kapasitas yang dibutuhkan oleh negara pihak, khususnya negara pihak yang melakukan transisi kepada penggunaan bahan alternatif yang memiliki potensi pemanasan global lebih rendah; Keempat, mengajak Negara Pihak dan Sekretariat Ozon untuk melanjutkan koordinasi antara Protokol Montreal pada Konvensi Wina dan Protokol Kyoto pada United Nations Framework Convention on Climate Change untuk memastikan dukungan implementasi secara bersama-sama dan pencapaian tujuan dari kedua protokol tersebut; dan Kelima, mengajak Negara Pihak, disamping mengakui prioritas nasional, untuk menjajaki lebih jauh dan melanjutkan di bawah Protokol Montreal cara yang paling efektif untuk mencapai transisi kepada penggunaan bahan alternatif yang memiliki potensi pemanasan global lebih rendah.

 

Informasi lebih lanjut :

Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi Menteri Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, phone +62-21-8517164, Fax. +62-21-85902521, ozon@menlh.go.id; humas.klh@gmail.com

[Draft as of 25 November 2011 16:46]

Bali  Declaration
on Transitioning to Low Global Warming Potential Alternatives to Ozone Depleting Substances

We, the Parties to the Vienna Convention on the Protection of the Ozone Layer and its Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer, having met in Bali, Indonesia from 21 to 25 November 2011,

Cognizant that certain ozone depleting substances have high global warming potential and that the mitigation of ozone depleting substances could contribute to the reduction of greenhouse gas emissions,
Recalling the general obligation under Article 2 of the Vienna Convention that Parties take appropriate measures in accordance with the provisions of that Convention and of its protocol to which they are party to protect human health and the environment against adverse effects resulting or likely to result from human activities which modify or are likely to modify the ozone layer,
Also recalling decision XIX/6, in which the Meeting of the Parties decided to encourage parties to promote the selection of alternatives to ozone depleting substances that minimize environmental impacts,
Mindful that certain high global warming potential alternatives to ozone depleting substances are contributing to environmental degradation,
Reaffirming the need for a transition to alternatives which are technically proven, economically viable, and environmentally benign to ozone depleting substances,
Recalling the declaration signed by 90 Parties at the 22nd Meeting of the Parties to the Montreal Protocol in Bangkok 2010,
Emphasizing the importance of capacity building, financial, technical and other assistance needed by Parties operating under paragraph 1 of Article 5 of the Montreal Protocol for transitioning to low global warming potential alternatives,
Acknowledging the decision of the Parties at the 23rd Meeting of the Parties to the Montreal Protocol in Bali concerning additional information on alternatives to ozone depleting substances,

Hereby:

  1. Note with appreciation the efforts of the Parties operating under Paragraph 1 Article 5, which selected low global warming potential alternatives for implementing their HCFCs Phase-out Management Plans for compliance with the 2013 and 2015 control targets;
  2. Call on Parties to conduct further studies on low global warming potential alternatives to ozone depleting substances, that include, but are not limited to, the economic impact and its feasibility, technical feasibility, market availability and impact on human health and safety of such alternatives in particular with enhanced engagement of stakeholders, particularly the industry;
  3. Invite Parties and others in a position to do so, to provide suitable and sustainable financial as well as technical assistance, including technology transfer and capacity building needed by Parties, in particular Parties operating under paragraph 1 of Article 5 for transitioning to low global warming potential alternatives to ozone depleting substances that minimize environmental impacts;
  4. Call on parties and the Ozone Secretariat to continue coordination between the Vienna Convention and its Montreal Protocol and the United Nations Framework Convention on Climate Change and its Kyoto Protocol to ensure their mutually supportive implementation and the achievement of their objectives;
  5. Call on Parties, while recognizing national priorities, to explore further and pursue under the Montreal Protocol the most effective means of achieving the transition to low global warming potential alternatives to ozone depleting substances.

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor