KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

SALAH satu isu utama yang dibawa pada saat KTT Perubahan iklim di Kopenhagen akhir tahun lalu adalah pemanasan global. Pemanasan global disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Meningkatnya gas rumah kaca tersebut, terutama karbon karbondioksida, menyebabkan dampak negatif yang kita alami sekarang, seperti perubahan ikIim global (global climate change), pemanasan global yang menyebabkan es di kutub mencair, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, hutan sebagai sumber penyerapan karbon dapat menjadi solusi yang menjawab kondisi di atas. Mekanisme yang terjadi pada aliran karbon dalam atmosfer merupakan aliran yang bersifat dua arah; pengikatan CO2 kedalam biomasa melalui fotosintesis dan pelepasan CO2 ke atmosfer melalui proses dekomposisi dan pembakaran. Diperkirakan sekitar 60 petagram (Pg/miliar metrik ton) karbon mengalir antara ekosistem daratan dan atmosfer setiap tahunnya, dan sebesar 0,7 – 1,0 Pg karbon diserap oleh ekosistem daratan (Lasco, 2004 dalam Rahayu et al, 2005)
Ironisnya, ditengah kebutuhan hutan yang semakin krusial, deforestasi justru banyak terjadi di Indonesia. Badan Planologi Departemen Kehutanan mencatat,  laju deforestasi di Indonesia berkisar 1,6 juta-2,5 juta hektar per tahun. Jika kondisi ini dibiarkan, maka aset hutan akan habis dalam waktu dekat, dan niscaya efek rumah kaca akan semakin meningkat.
Upaya konservasi hutan merupakan agenda besar utama yang wajib dilakukan oleh pemerintah. Namun di samping itu, masyarakat juga harus bisa mengambil tiadakan nyata untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Tindakan nyata ini dapat dilakukan secara sederhana, yakni dengan menanam dan merawat dengan baik satu pohon hingga besar di pekarangannya masing-masing. Upaya ini memang kecil, tapi dapat berdampak besar jika dilakukan secara serentak.
Untuk lebih jelasnya, mari kita ilustrasikan hal di atas. Anggaplah ada 20 juta rumah yang dapat mengaplikasikan gagasan tersebut. Artinya, ada 20 juta pohon yang ditanam. Kita ibaratkan satu pohon mengisi lahan setiap 1 m2, sehingga ada lahan seluas 20 juta m2 atau 20 ribu hektar yang tertanam pohon.
Berdasarkan data pengujian Kuswatiningsih dkk (2010), estimasi cadangan karbon pada hutan homogen adalah sebesar 92,6 ton/ha. Walaupun tidak bisa menjadi data yang disejajarkan, hal tersebut tetap bisa dijadikan acuan estimasi cadangan karbon yang bias dihasilkan jika kita secara konsisten menanam dan menjaga minimal satu pohon saja di pekarangan atau di pinggir jalan, yaitu sekitar 1,8 juta ton. Senilai itu pula kontribusi yang akan diberikan bagi lingkungan.
Pada dasanya, setiap hal besar dimulai dari hal-hal kecil dan setiap tindakan kecil yang disatukan dapat menghasilkan dampak yang besor. Inovasi menanam dan menjaga satu pohon adalah upaya jangka panjang yang kecil dan sederhana. Namun, setidaknya ini menjadi tanggung jawab kita untuk menyelamatkan lingkungan dan mewariskannya ke anak-cucu kita kelak. (Gibran Huzaifah Amsi El Farizy)

Sumber:
Seputar Indonesia
Senin, 29 Maret 2010
Halaman : 7