KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Tema Cari Cinta Puspa dan Satwa (HCPSN) 2014 adalah “Keanekaragaman Puspa dan Satwa Pesisir dan Laut untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan yang Berkelanjutan” maka dengan ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menginformasikan fauna dan satwa kebanggan Indonesia yaitu; Takka (Tacca leontopetaloides) dan Penyu sisik (Eretmochelys imbricate).

Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat dalam informasi dibawah ini.

penyu sisikPenyu Sisik (Eretmochelys imbricate)

Penyu sisik adalah binatang yang dilindungi atau dikenal sebagai hawksbill turtle karena paruhnya tajam dan menyempit/meruncing dengan rahang yang agak besar mirip paruh burung elang. Demikian pula karena sisiknya yang tumpang tindih/over lapping (imbricate) seperti sisik ikan maka orang menamainya penyu sisik.

Ciri-ciri umum adalah warna karapasnya bervariasi kuning, hitam dan coklat bersih, plastron berwarna kekuning-kuningan. Terdapat dua pasang sisik prefrontal. Sisiknya (disebut bekko dalam bahasa Jepang) banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri kerajinan tangan terutama di Jepang untuk membuat pin, sisir, bingkai kacamata dll. Sebagian besar bertelur di pulau-pulau terpencil.

Penyu sisik selalu memilih kawasan pantai yang gelap, sunyi dan berpasir untuk bertelur. Paruh penyu sisik agak runcing sehingga memungkinkan mampu menjangkau makanan yang berada di celah-celah karang seperti sponge dan anemon. Mereka juga memakan udang dan cumi-cumi (Wikipedia, 2007).

10620250_771640082859149_3178711185517844680_operbandingan

Menurut Jatu (2007), taksonomi penyu sisik adalah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Sauropsida
Ordo : Testudines
Sub Ordo : Cryptodira
Superfamily : Cheloniidea (Bauer, 1893)
Family : Cheloniidae (Oppel, 1811)
Spesies : Eretmochelys imbricate
Nama lokal : Penyu sisik
Sumber lebih lanjut: http://infopenyu.blogspot.com/2009/12/jenis-dan-morfologi-penyu-laut.html

Umbi Takka ( Tacca leontopetaloides)

Ketidakstabilan cuaca dan efek dari perubahan iklim mengacam ketahanan pangan di Indonesia. Kondisi ini mengharuskan adanya jenis tanaman pangan yang berpotensi sebagai pengganti beras di masa krisis pangan. Taka merupakan tumbuhan dengan umbi yang dapat dimakan setelah diolah, melimpah di daerah pesisir. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan plot 0,025 Ha. Analisis vegetasi menunjukkan keseluruhan jumlah individu yang ditemukan sebesar 287 individu/0,2 Ha atau setara dengan 1.435 individu/Ha dengan potensi terbesar di wilayah Kabupaten Belitung Timur dengan pola sebaran mengelompok. (Bayu Arief Pratama Pusat Penelitian Biologi – LIPI)

umbi_tara

Tacca leontopetaloides merupakan tumbuhan herba berbunga dan memiliki umbi. Berikut ini adalah taksonominya :
Kingdom : Plantae
Filum : Tracheophyta
Kelas : Liliopsidae
Ordo : Liliales
Famili : Dioscoreaceae
Genus : Tacca
Spesies : T. leontopetaloides (L.) Kuntze, 1891

Secara umum nama Indonesia dari Tacca leontopetaloides adalah umbi Taka. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, umbi Taka dikenal dengan nama Kecondang. Penduduk Jawa Barat, khususnya di daerah Garut, menyebutnya dengan Jalawure. Di Sumatra, Tacca leontopetaloides disebut dengan Taka Laut.

Tacca leontopetaloides merupakan herba tegak dengan tinggi antara 1,5 – 2,0 m, tidak berkayu dan tidak bercabang. Tumbuhan ini berakar serabut dan memiliki umbi yang berbentuk bulat agak melebar, kulit umbinya tipis dan halus. Kulit ini berwarna putih pada yang muda, dan akan berubah menjadi abu-abu tua kecokelatan. Daunnya berpelepah (melekat pada batang), berwarna hijau muda berbintik putih kehijauan atau ungu kehitaman. Helaian daun bentuknya agak membundar (bundar telur) dan susunannya membentuk segi lima.
Reproduksinya dapat secara secara vegetatif (dengan menggunakan umbi) atau reproduktif (dengan menggunakan biji). Perbungaan menyerupai payung dengan jumlah bunga 20-40 buah. Brateanya berwarna hitam legam atau kecokelatan. Bunganya berwarna kekuningan sampai kehijauan. Buahnya agak membulat dan berwarna kuning jingga muda. Bijinya berbentuk pipih membundar dan berwarna kuning kecokelatan.

Untitled-1Habitat alami umbi Taka adalah di wilayah pesisir tropis. Umbi Taka sering kali ditemukan dalam kelompok kecil di tipe vegetasi pantai dengan ketinggian di bawah 200 m alt. Namun, menurut penelitian, umbi Taka juga pernah ditemui hingga ketinggian 1.100 m alt. Tumbuhan ini tumbuh liar di tepi pantai, padang rumput, padang alang-alang, dan savana yang lokasinya terbuka dan terkena sinar matahari penuh.

Karena hidupnya di dekat laut maka biasanya bijinya disebarkan melalui air laut. Selain melalui air laut, menurut penelitian, agen penyebaran umbi Taka juga dapat juga dilakukan oleh burung (Zosterops masii), karena burung ini memakan buah Taka.

Asal-usulnya kurang diketahui tetapi distribusi atau penyebaran tumbuhan ini meliputi wilayah tropis Asia, Australia, Afrika, dan Osenasea. Tumbuhan ini tumbuh liar atau kadang-kadang dibudidayakan mulai dari bagian barat Afrika, India, lalu Asia Tenggara, sampai ke bagian timur kepulauan Pasifik. Di Indonesia, umbi Taka ditemui tumbuh liar di seluruh wilayah pesisir Indonesia, misalnya di daerah pesisir Garut Selatan dan di Kep. Karimunjawa.

produk taraPada dasarnya semua bagian tubuh Tacca leontopetaloides dapat dimanfaatkan. Di Indonesia, khususnya di daerah Kampung Cigadog, Garut, Jawa Barat, umbi Taka telah dimanfaatkan sebagai pangan alternatif pengganti beras serta sebagai bahan dasar pembuatan kue. Biasanya umbi Taka dibuat tepung, kemudian tepungnya digunakan sebagai bahan baku kue basah maupun kue kering. Pembuatan kue dengan bahan dasar umbi ini biasanya dilakukan untuk acara-acara tertentu misalnya hajatan atau pada saat hari raya.

Pada peringatan HCPSN 2014 rencananya kedua Flora dan Fauna ini akan dibakukan dalam sebuah perangko resmi Republik Indonesia 2014 bertemakan HCPSN 2014.

Sumber : http://irarahmayunita.blogspot.com/2012/12/potensi-bisnis-keanekaragaman-hayati.html