KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Banjarmasin, BPost, Selasa, 26 Agustus 2003
KAMPANYE penggunaan mercury retort bagi para penambang emas di Kabupaten Kapuas sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun karena sulit ditemukan, alat penyuling mercury atau air raksa (Hg) yang ramah lingkungan masih menjadi sebuah barang ‘antik’ yang langka.

Selain kampanye tidak membuahkan hasil, keinginan agar kegiatan pertambangan
menjadi ramah lingkungan sepertinya hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Padahal para penambang sendiri, sepertinya cukup tertarik untuk menggunakan
teknologi dari alat yang hanya memiliki berat sekitar 2,5 kilogram tersebut.

Langkanya ketersediaan mercury retort terbukti cuma ada satu di Kabupaten
Kapuas dan dimiliki Bapedalda setempat. Itupun hanya dijadikan sebagai contoh
dan dikeluarkan dari tempat penyimpanannya apabila diperlukan, sehingga kurang
begitu memasyarakat.

Dengan alat tersebut, mercury yang telah digunakan oleh penambang kembali bisa
digunakan untuk kebutuhan pengumpalan emas menjadi amalgam sehingga dapat
menghemat biaya akan sangat signifikan karena cukup ekonomis.

Selama ini, penggunaan mercuri dalam proses amalgamasi tidak begitu terkontrol
oleh masyarakat. Mulai sejak pengikatan emas dari lumpur atau pasir, mercury
sudah terbuang ke alam bebas.

Lalu apa dan bagaimana penyuling mercuri bekerja? Secara sederhana, mercury
retort merupakan sebuah alat yang terbuat dari bahan metal baja. Komponennya
terdiri dari tempat pembakaran, tempat air pendingin dan tabung penyuling.

“Selama proses ini berlangsung, air raksa yang hilang hanya sekitar 0,5 persen.
Artinya, air raksa yang tersisa masih bisa digunakan,” jelas kabid pengawasan
dan pengendalian Bapedalda Kapuas Drs Raden Ledi Karsapati didampingi Kasudbid
pengawasan Untung SE, Senin (25/8).tamie sofyan