KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

CILACAP, SUAR– Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah Cilacap Barat yang pada awal Pebruari lalu hingga saat masih menyisakan masalah. Salah satunya yakni banjir lumpur yang di sekitar kebun persemaian Perhutani Banyumas Barat, Cimanggu, pada km 75+500 masih sulit ditangani. Padahal jalur tersebut merupakan rugs jalan nasional yang menghubungkan Jawa Tengah – Banjar Jawa Barat.

Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Majenang, Prijo Sanjoto mengatakan bajirtersebut disebabkan saluran irigasi di bukit persemaian tersumbat longsoran dari bagian alas atau hutan pinus tahun 2006, sehingga air meluap dan membawa lumpur ke jalan. Lumpur tersebut sangat sulit diangkat karena merupakan tanah medi¬terian merah-kuning yang mudah terbawa erosi. Akibatnya sekitar 100 ribu tanaman pinus tahun 2008-2009 termasuk benih karetjati tidak dapat diselamatkan.

Untuk mencegah terjadinya banjir lumpur yang menggenangi jalan nasional lintas selatan. Perhutani bersama 22 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) 2612 lalu membuat jalur sungai baru dengan lebar sekitar dua meter dan panjang satu kilometer di sekitar area persemaian Cileumeuh, Desa Rejodadi, Kecamatan Cimanggu dengan peralatan manual.

Priyo mengaku tidak punya waktu menunggu lamajika harus mendatang¬kan alat berat karena setiap hujan turun Lumpur kembali menggenang, sehingga dia mengerahkan personel Perhutani dan LMDH dengan peralatan seadanya. Sebelumnya, sungai di area persemaian milik Perhutani itu berkelok-kelok dengan panjang lebih dari dua kilometer dianggap kurang lancar mengalirkan air.

Akibatnya, lumpur pegunungan yang terseret air hujan mengendap dan menyumbat sungai tersebut. Akibatnya, air hujan bercampur lumpur melimpas di areal persemaian dan menggenangi jalan raga.

Kalau sungai ini diluruskan, alirannya bila lebih lancar. Dengan demikian, potensi pengendapan dan banjir lumpur bisa dikurangi," katanya. Langkah itu diharapkan dapat menye¬lamatkan jalan nasional lintas selatan dan area persemaian dad banjir Lumpur.

Selanjutnya Untuk mengatasi dampak dari Bencana Longsor Perhutani terus melakukan upaya antisipasi yakni dengan melakukan penanaman dibibir hutan dengan sistem terasering dengan Pohon keras (tumbuh cepat) yang memilki akar yang mampu menahan tanah, Lamtoro, Bambu dan lain-lain.

Pelarangan keras bagi masyarakat desa hutan yang menanam palawija yang berjarak kurang dan 50 meterdari bibir/pinggir hutan dan jenis tanaman tumpang sari harus jenis tanaman yang mengikat tanah, Hal tersebut bertujuan selain sebagai upaya pencegahan longsor juga sebagi tindakan penyelamatan dan pelestarian hutan karena hutan selain hutan sebagai produksi Perhutani yakni Getah Karet,Pinus dan Kayu Jati hutan juga dapat berpungsi sebagai hutan lindung sehingga diperlukan keseimbangan.

Sementara itu menurut KRPH Pesahangan Kamso,dan KRPH -Cimanggu Daryono saat dikonfirmasi SUAR mengatakan untuk mengan¬tisipasi kerusakan dan keamanan hutan selain faktor alam juga karena faktor manusia yakni pencurian kayu hutan pihaknya bersama KRPH lainya dibantu LMDH telah mensosialisasikan dan Penegakan UU No.41 tahun 1999 pasat 50 ayat 3 tentang Kehutanan serta mengintensifkan patroli hutan dibantu Kepolisian setempat, sehingga pencurian dapat diantisipasi.

" Dengan Sosialisasi UU No. 41, Pendekatan persuasive dan Kami beserta LMDH kepada masyarakat sampai saat ini sudah tidak ada pencurian kayu dihutan ," kata Kamso. Taslim Indra

Sumber:
Koran Akar Rumput
Hal: 8, 4-10 Maret  2008